Sumut in History

Awal Mula Masa Kolonialisme di Sumut hingga Susunan Pemerintahannya

Felicia Gisela Sihite - detikSumut
Minggu, 10 Des 2023 10:00 WIB
Foto: Masa kolonialisme di Medan ( Arsip nasional dari portal Indonesia.go.id)
Medan -

Kolonialisme seringkali mempengaruhi negara-negara yang dijajah, baik dari segi ekonomi, politik, budaya, dan sosial. Meskipun masa tersebut sudah berakhir, masih terdapat warisan dan dampaknya sampai sekarang.

Lantas, apakah detikers tahu tentang awal mula masa kolonialisme di Sumatera Utara (Sumut)? Nah, kali ini detikSumut sajikan penjelasan lengkapnya termasuk susunan pemerintahannya pada waktu itu.

Awal Mula Masa Kolonialisme di Sumatera Utara

Salah satu pusat perniagaan penting dalam rantai perdagangan Asia sebelum masa kolonial adalah Kesultanan Deli. Pada 1641, kapal Belanda pertama yang dipimpin Arent Patter merapat di Deli untuk mengambil budak.

"Sejak saat itu, hubungan dagang Kesultanan dengan VOC Belanda berjalan dengan baik," kata kurator koleksi Museum Negeri Sumatera Utara, Chairun Nisa, saat diwawancarai detikSumut, Kamis (30/11/2023).

Dalam catatan Dagh Register VOC di Malaka, Kesultanan Deli dituliskan sebagai Delley atau Delhi. Ada kemungkinan bahwa nama Delhi diambil dari nama kesultanan Islam di Indonesia di Delhi.

Pada 1863, Jacobus Nienhuys dari Firma van den Arend Surabaya mendapat konsesi lahan 4000 bau dari sultan Deli untuk perkebunan tembakau. Sulitnya mencari penduduk sebagai buruh membuat banyak tenaga kerja datang dari China, India, dan Pulau Jawa.

"Dalam waktu singkat, tembakau Deli mendapat reputasi tinggi pada bursa tembakau di Bremen. Tembakaunya bermutu baik untuk pembungkus cerutu," ucap Chairun Nisa.

Selanjutnya, Nienhuys memperluas usaha dengan mendirikan "Deli Maatschapaij" perseroan terbatas (NV) pada 19870 yang berada di Hindia Belanda. Pengusaha perkebunan bangsa Eropa lain pun datang membuka usaha di Sumatera Timur.

"Hal ini menyebabkan perlunya buruh dan kuli yang mau bekerja keras di pedalaman Sumatera dengan upah rendah. Datanglah buruh dan kuli etnik China dari Malaysia dan etnik Jawa dari Pulau Jawa," jelasnya.

"Mereka dijanjikan penghasilan tinggi dan kondisi kerja baik. Kenyataannya mereka justru terjebak dan dijebak dalam kontrak sehingga tidak bisa kembali ke kampung halamannya," sambungnya.

Kekayaan para pengusaha dari usaha perkebunan tersebut merupakan salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan Kota Medan sebagai kota makmur dan indah. Setelah masa itu, kolonialisme mulai berlangsung di Sumatera Utara.

"Pemerintah Hindia Belanda yang tadinya cuma mau menguasai perdagangan melihat keberhasilan para pengusaha perkebunan itu. Mereka akhirnya ikut mencampuri perkembangan kegiatan politik dan ekonomi di Sumut," tuturnya.

Peristiwa itu menyebabkan para penguasa lokal seperti sultan-sultan diminta menandatangani 'Perjanjian Pendek' (Korte Verklaring) sebagai tanda takluk kepada Pemerintah Kolonial.

Kolonialisme di Sumatera Utara memuncak saat terjadi konflik politik dengan penguasa lokal seperti perang Sisingamangaraja XII, perang Kiras Bangun (Karo), Perang Rondahaim (Simalungun) dan Perang Sunggal.

Pada masa perkebunan, Zending/penyiar agam dari Jerman mulai menyebarkan agama Kristen di pedalaman Sumut. Sementara itu, perkembangan perkebunan tembakau, karet, kopi, kelapa sawit dan daun teh menjadi penggerak ekonomi dan sumber dana pembangunan Medan.

Baca selengkapnya di halaman berikut...



Simak Video "Video: Pemerintah Resmikan 14 Desember Sebagai Hari Sejarah Nasional"

(afb/afb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork