Bea Cukai Bongkar TPPU Rokok Ilegal, Kerugian Negara Capai Rp 1 T

Kepulauan Riau

Bea Cukai Bongkar TPPU Rokok Ilegal, Kerugian Negara Capai Rp 1 T

Alamudin Hamapu - detikSumut
Jumat, 23 Sep 2022 15:24 WIB
Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Askolani (Alamudin Hamapu/detikSumut)
Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Askolani (tengah) saat memberikan keterangan di Batam. (Alamudin Hamapu/detikSumut)
Batam -

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) membongkar tindak pidana pencucian uang (TPPU) hasil penyelundupan rokok ilegal. Dalam kasus ini kerugian negara diperkirakan mencapai Rp 1 triliun.

Pengungkapan kasus pencucian uang itu merupakan rangkaian panjang pengungkapan kasus penyelundupan rokok Ilegal dari Vietnam diamankan di perairan Berakit, Bintan oleh Kanwil Bea dan Cukai Kepri.

"Pengungkapan kasus tersebut terungkap saat Bea Cukai menggelar Operasi Laut Terpadu Jaring Sriwijaya Bea Cukai pada Oktober 2020. Petugas patroli laut Bea Cukai menindak kapal layar motor (KLM) Pratama yang mengangkut sekitar 51.400.000 batang rokok impor ilegal merek Luffman yang dibawa dari Vietnam menuju Perairan Berakit, Kepulauan Riau, Indonesia," kata Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Askolani di Batam, Jumat (23/9/2022).


Pengungkapan dan penyidikan Kantor Wilayah (Kanwil) Bea Cukai Khusus Kepulauan Riau terhadap penyelundupan rokok impor ilegal tersebut, oleh Pengadilan Negeri Tanjungbalai Karimun dan Pengadilan Negeri Tanjungpinang menetapkan 15 orang tersangka.

"Para tersangka yang terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Pasal 102 huruf (a) dan/atau Pasal 102 huruf (b) U Kepabeanan yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde)," ujarnya.

Askolani menerangkan pihaknya melakukan pengembangan dari penyelundupan rokok Ilegal melalui Satgas TPPU Bea Cukai pada September 2021 menetapkan LHD sebagai tersangka tindak pidana pencucian uang.

"LHD ini sebagai koordinator utama penyelundupan rokok Ilegal. LHD disangkakan Pasal 102 huruf (a) dan/atau Pasal 102 huruf (b) UU Kepabeanan dan Pasal Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang periode tahun 2019 sampai dengan 2020," terangnya.

"Pada akhir Agustus 2022 lalu, Kejaksaan Agung Republik Indonesia menyatakan hasil penyidikan telah lengkap (P-21), berkas perkara tersangka LHD ditetapkan sebagai kasus TPPU terbesar yang proses penyidikannya dilakukan oleh Bea Cukai, dengan potensi kerugian pendapatan negara mencapai Rp 1 triliun," tambahnya.

Satgas TPPU Bea Cukai juga melakukan asset recovery berupa 1 unit KLM Pratama GT210, 1 unit mobil, 1 unit kapal giant HSC 38 meter mesin MAN 3x1.800 HP, 5 unit HSC, 3 unit speedboat, serta uang tunai dalam bentuk rupiah dan dolar Singapura, dengan total nilai barang dan uang tunai mencapai Rp 44,6 miliar.

"Hasil uang penyelundupan itu diinvestasi untuk pembuatan kapal-kapal giant HSC 38 meter mesin MAN 3x1.800 HP di salah satu galangan kapal. Kapal itu dibangun dengan uang sebesar Rp 22,5 miliar," ujarnya.

Keterangan Foto: (Alamudin) Pengungkapan Tindak Pidana Pencucian Uang hasil penyelundupan rokok Ilegal/ Petugas Bea Cukai



Simak Video "Heboh Pegawai Bea Cukai Jambi Digerebek Istri Ngamar Bareng Wanita Lain"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)