Pria Ini jadi Pasien COVID Terlama di Dunia, Dirawat Sejak Maret 2020

Berita Nasional

Pria Ini jadi Pasien COVID Terlama di Dunia, Dirawat Sejak Maret 2020

Tim detikHealth - detikSumut
Sabtu, 17 Sep 2022 17:30 WIB
Petugas medis mempersiapkan ruangan yang akan digunakan untuk pasien COVID-19 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, Kamis (30/4/2020). Peralatan medis ini didatangkan oleh CT Corp, bersama Bank Mega serta dukungan Indofood dan Astra Group.
Ilutrasi perawatan Covid-19. (Foto: Rifkianto Nugroho)
Medan -

Seorang pria di Amerika Serikat Marc Lewitinn menjadi pasien COVID-19 terlama didunia. Pria berusia 76 tahun itu sudah dirawat di rumah sakit sejak Maret 2020 silam. Wow!

Dilansir detikHealth dari The New York Times, Marc Lewitinn menjalani perawatan dengan ventilator selama 850 hari. Dia bahkan disebut hanya bisa bertahan beberapa hari. Namun sang anak mengatakan ia tak menyerah untuk memulihkan kondisi sang ayah.

"Kalian nggak kenal dia. Dia adalah pejuang," kata Albert, sang anak, dikutip dari detikHealth, Sabtu (17/9/2022).


Lewitinn disebut mengalami gejala batuk pada akhir Maret 2020. Keluarga percaya dia tertular COVID di salah satu gerai Starbucks langganannya.

Tak lama setelah itu, Lewitinn mengalami sesak napas. Oksimeter menunjukkan kadar oksigen dalam darahnya sangat rendah, hanya 85.

Pada tanggal 28 Maret 2020, Albert membawanya ke Weill Cornell, salah satu rumah sakit khusus COVID di areanya. Rumah sakit tersebut saat itu juga dibanjiri ratusan pasien yang menjalani pemeriksaan.

Ketika Lewitinn dalam keadaan koma, anggota keluarga berkumpul di luar rumah sakit dan berdoa untuknya.

Lewitinn telah berjuang melawan stroke, kanker kandung kemih, serangan jantung, penyakit auto-imun dan diafragma yang lumpuh pada tahun-tahun sebelum dia jatuh sakit. Mereka tahu betapa kecil kemungkinannya dia akan bangun.

Kemudian suatu hari di bulan Agustus 2020, lima bulan setelah dia masuk rumah sakit, dia tersadar dari koma.

Meskipun kondisinya membaik, paru-parunya tidak cukup kuat untuk memungkinkannya bernapas sendiri sehingga tetap harus menggunakan alat bantu.

Pada akhir 2020, Levitinn dipindahkan ke New Jersey untuk perawatan. Setelah menerima perawatan di fasilitas yang berbeda, ia dipindahkan ke Palisades Medical Center pada April 2021.

Perjuangannya melawan COVID-19 pun berlanjut, hingga pertengahan Juli tahun ini, di mana ia dinyatakan meninggal dunia. Perjuangannya melawan Corona harus terhenti di 23 Juli lalu.

Lewitinn meninggal dunia setelah mengalami serangan jantung saat dirawat dengan ventilator untuk perawatan COVID-19 di Palisades Medical Center.

"Dua tahun menggunakan ventilator sangat jarang. Itu mungkin akan jadi catatan," kata Dr. E. Wesley Ely, dokter perawatan kritis yang merawat pasien COVID-19 di Vanderbilt University Medical Center tetapi tidak terlibat dalam perawatan Lewitinn.



Simak Video "Ada 74 Persen Pasien Covid-19 Gejala Berat di RS yang Belum Booster"
[Gambas:Video 20detik]
(dpw/dpw)