Warga Diimbau Jangan Terjebak Primordialisme Buta

Nizar Aldi - detikSumut
Selasa, 09 Agu 2022 05:01 WIB
Ngobrol Pintar PW Pemuda Muslimin Indonesia Sumut (Istimewa)
Foto: Ngobrol Pintar PW Pemuda Muslimin Indonesia Sumut (Istimewa)
Medan -

Indonesia akan melaksanakan Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2024 mendatang. Pada tahun politik tersebut, akan dilakukan pergantian secara serentak baik eksekutif maupun legislatif di semua jenjang. Tahapan menuju Pemilu tersebut sudah dimulai dengan pendaftaran partai politik ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Dengan dibukanya tahapan Pemilu maka petarung politik mulai menjejakkan kaki. mengambil simpati publik dengan berbagai cara. Namun yang harus diingat para pengguna hak politik baik pemilih maupun yang akan dipilih adalah demokrasi dan pendidikan politik.

Hal itu diungkapkan Ketua Pemuda Muslimin Indonesia (PMI)Sumatera Utara (Sumut)JhonsonSihaloho, S.Hi, dalam acara Ngobrol Pintar (Ngopi) PMI Sumut akhir pekan lalu di Medan. Acara yang mengangkat tema 'Mengikis Primordialisme Politik Menuju Tahun Politik 2024' merupakan acara diskusi publik.


Jhonson Sihaloho mengingatkan calon pemilih untuk ikut terlibat aktif dalam pemilu mendatang, dengan catatan tanpa terjebak di primordialisme buta.

"Untuk itu kita harus mengatakan politik yes, primordialisme buta no," kata Jhonson Sihalolo.

Lebih lanjut Jhonson menuturkan perlu adanya meningkatkan pendidikan politik terhadap masyarakat yang menjadi pemilih pada tahun 2024 mendatang. Sehingga masyarakat menentukan pilihannya berdasarkan visi dan misi, serta sosok yang akan dipilihnya nanti.

"Saya berpikir pada pemilu 2024 ada kenaikan signifikan terhadap pendidikan politik kepada pemilih dengan demikian masyarakat dalam menentukan pilihan berdasarkan visi dan misi serta program yang ditawarkan. Plus pengetahuan secara penuh terhadap sosok yang akan dipilih sehingga pilihan berdasarkan hati nurani," tuturnya.

Pendidikan politik tersebut juga diharapkan dapat mengikis primordialisme buta yang kerap terjadi di tahun politik. Sehingga dia mengingatkan agar pemilih tidak terjebak di simbol atau rasa kesukuan atau kelompok tanpa melihat visi, misi dan sosok calon tersebut.

"Jangan sekedar terjebak dengan simbol, ataupun rasa kesukuan, ataupun kelompok yang mengakibatkan setelah terpilih nantinya sang calon akan melupakan selama 5 tahun ke depan," sebutnya.

Dia juga mengingatkan tentang pentingnya umat Islam ambil bagian dalam tahun politik tersebut. Sebab jika tidak ikut ambil bagian, maka orang lain yang akan mengambil kekuasaan tersebut.

"Umat Islam khususnya, harus bisa memahami pentingnya politik dalam berbangsa dan bernegara. Sebab, tanpa ikut serta dalam politik maka dipastikan orang lain yang akan mengambil kekuasaan," ujarnya.

Dr. Suasana Nikmat Ginting, MS yang menjadi pemateri juga mengungkapkan pentingnya pendidikan politik tersebut. Dia menyebutkan pentingnya kerjasama KPU dan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) dengan organisasi kepemudaan melakukan pendidikan politik tersebut.

"Perlu bekerjasama dengan organisasi kepemudaan, seperti Pemuda Muslimin Indonesia yang melakukan diskusi dalam kerangka mensosialisasikan pemilu dan mencerdaskan masyarakat pemilih," sebut Ginting.

Pemateri lain, Dr. Ansari Yamamah mengatakan, primordialisme mempunyai dampak yang positif dalam berbangsa dan bernegara. Akan tetapi jika dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab hal itu bisa berbahaya bahkan mengakibatkan konflik antar suku maupun antar agama.

"Ini yang harus diantisipasi oleh semua pihak, jangan sampai merusak keragaman dan kedamaian yang sudah tercipta di NKRI ini," tutupnya.



Simak Video "Komisi II Soroti Praktik Jual Beli Jabatan Petugas Ad Hoc Gegara Honor Naik"
[Gambas:Video 20detik]
(bpa/bpa)