Pemerintah Aceh Telusuri Keberadaan Warung Nasi Uduk Dendeng Babi

Agus Setyadi - detikSumut
Rabu, 15 Jun 2022 18:31 WIB
Nasi uduk lauk dendeng babi
Foto: Facebook Muhammad Raji Firdana
Banda Aceh -

Pemerintah Provinsi Aceh bakal menelusuri keberadaan warung nasi uduk Aceh yang menjual lauk dendeng babi. Pemilik warung diminta segera menghentikan menjual menu Tanah Rencong non-halal itu.

"Jika ada pihak-pihak yang menggelar dagangan non-halal yang mengatasnamakan Aceh itu jelas menciderai Aceh sebagai daerah bersyariah Islam," kata Juru Bicara Pemerintah Aceh Muhammad MTA saat dimintai konfirmasi detikSumut, Rabu (15/6/2022).

"Dan kita minta kepada pihak tersebut untuk segera menghentikan tindakan yang meresahkan tersebut dan hal itu berpotensi terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan dari masyarakat Aceh secara sporadis," lanjut Muhammad.


Dia mengatakan, Pemerintah Aceh bakal berkoordinasi dengan perwakilan di Jakarta untuk menelusuri keberadaan warung nasi tersebut. Pemerintah Aceh juga bakal mengambil langkah selanjutnya setelah dilakukan penelusuran.

"Secara khusus melalui perwakilan Pemerintah Aceh di Jakarta sudah kita komunikasikan untuk menelusuri kebenaran informasi dan keberadaan warung non-halal dengan labelisasi Aceh. Terkait langkah-langkah lanjutan kita tunggu hasil penelusuran kita," ujar Muhammad.

Seperti diberitakan sebelumnya, setelah heboh nasi Padang dengan lauk rendang babi, ada juga warung nasi gurih Aceh yang menawarkan lauk babi. Mulai dari dendeng babi hingga sate babi.

Menanggapi hebohnya nasi Padang lauk rendang babi, seorang pengguna Facebook Muhammad Raji Firdana membagikan pengalaman serupa ketika ingin bersantap nasi uduk atau nasi gurih.

"Kebetulan lagi hits nasi padang rendang babi, saya mau cerita sedikit tentang pengalaman pribadi dan keluarga waktu nyari sarapan pagi di tempat langganan kita," tulisnya.

Sebelumnya, ia ingin makan di gerai Nasi Gurih Pak Zul Jakarta. Namun sayang, saat itu gerainya tutup sehingga ia pun langsung memutuskan untuk mencari gerai makan lainnya.

Kemudian, ia menemukan warung nasi uduk bernama Nasi Uduk Aceh 77 yang rupanya menjual lauk berbahan dasar daging babi. Lokasinya ada di kawasan Muara Karang, Jakarta Utara.

Awalnya ia tak merasa curiga, sebab dengan label nama 'Aceh' ia yakin bahwa makanannya halal. Kecurigaan mulai timbul ketika ia melihat penampilan dendeng yang ditawarkan.

"Tapi pas ngelihat dendengnya punya warna yang unik dan beda dengan dendeng yang biasa kita lihat di Aceh. Kita tanya awalnya nggak dijawab, malah pelanggan di situ yang jawab," lanjutnya.

Ternyata benar saja, dendeng yang dijual di sana merupakan non halal karena berbahan dasar babi. Selain dendeng babi juga ada sate babi. Mengetahui itu, ia dan keluarganya langsung mengurungkan niat untuk makan di sana.

Memang tak ada yang salah dengan dendeng babi, kecuali hukum makan bagi umat muslim. Namun menurutnya, ia sebagai muslim memiliki hak dan dilindungi.

Lebih lanjut, ia juga menyebutkan bahwa Aceh memiliki Undang-undang tersendiri terkait kekhususan Syariat Islam. Dengan itu semua orang tahu bahwa semua masakan Aceh adalah halal.

"Jadi yang saya kritisi adalah brand 'Aceh' yang muncul di produk tersebut, tapi menjual makanan non halal. Saya pikir kurang arif jika masakan Aceh atau brand nama Aceh disandingkan dengan makanan non halal," tuturnya.

Ia mengatakan bahwa ia sama sekali tidak mempermasalahkan usaha makanan non halal, melainkan penggunaan nama 'Aceh' pada brand makanan yang identik dengan keislaman dan kehalalannya.

"Saya pikir kurang bisa diterima masyarakat Aceh khususnya," tutupnya.



Simak Video "Gempa M 5,2 Guncang Banda Aceh, Tak Berpotensi Tsunami"
[Gambas:Video 20detik]
(agse/afb)