Kronologi Nenek Gendong Jasad Cucu Ngamuk di RS Tenriawaru Bone

Agung Pramono - detikSulsel
Jumat, 16 Okt 2026 15:08 WIB
Foto: Rahmawati menggendong jasad cucunya di Bone. (dok. Istimewa)
Makassar -

Wanita bernama Rahmawati (52) mengamuk di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tenriawaru Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), usai cucunya meninggal dalam kandungan menantunya. Rahmawati sampai menggendong jasad cucunya dan melancarkan protes terhadap pelayanan rumah sakit.

Kejadian ini bermula saat menantu Rahmawati masih sempat bolak-balik masuk rumah sakit karena kontraksi. Belakangan, menantunya mengeluh muntah hingga terpaksa kembali dirawat di RSUD Tenriawaru Bone pada Rabu (14/10) sore.

"Setelah keluar dari rumah sakit dan berada dua hari di rumah, masuk lagi rumah sakit pada hari Rabu sore karena muntaber," kata Rahmawati kepada detikSulsel, Jumat (16/10/2026).

Menantu Rahmawati kemudian diobservasi di ruang perawatan. Saat itu kandungan menantunya diperiksa dan bayi yang dikandungnya dinyatakan sehat.

"Pas di rumah sakit dokter bilang mau diobservasi dan dibawa di kamar Dahliah pada Rabu sore diperiksa jantungnya bayi dinyatakan sehat, dan aktif sekali," katanya.

Saat itu menantu Rahmawati sempat diberi suntikan penghilang nyeri. Belakangan, rasa sakit menantunya tidak kunjung hilang hingga Rahmawati meminta dokter melakukan pemeriksaan.

"Dokter belum datang-datang. Saya bertanya ke perawatnya kenapa dokter belum datang melihat, dan kesakitannya tidak berhenti-henti," ucap Rahmawati.

Rasa sakit yang dialami menantu Rahmawati berlanjut dan makin parah hingga pukul 22.00 Wita. Saat itu menantunya meminta agar dilakukan langkah operasi.

"Kemudian dokter dihubungi belum merespons dan tidak ada juga perintahnya, saya langsung bilang ke perawat untuk diberikan perhatian khusus," sebutnya.

Merasa belum mendapat pelayanan maksimal, Rahmawati akhirnya berinisiatif menghubungi dokter yang merawat menantunya pada Kamis (15/10). Namun Rahmawati kembali merasa kecewa karena menantunya tidak kunjung ditindaki.

"Saya sampaikan (ke dokter) sakitnya terus menerus ini, dan minta ma petunjuk apakah dirujuk ke Makassar, dokter bilang, 'saya layani dulu pasien yang pendarahan di RS Yasin'," sambung Rahmawati.

Setengah jam kemudian, dia menghubungi dokter kembali karena air ketuban menantunya sudah pecah. Saat itu Rahmawati meminta agar menantunya segera dibawa ke ruang operasi namun dokter disebut tidak memberikan respons.

Selang beberapa waktu, menantunya baru dibawa ke ruang operasi. Mirisnya, bayi yang dikandung menantunya meninggal pada Kamis (15/10) sekitar pukul 11.0 Wira.

"Pas di ruang operasi belum lagi dilakukan operasi karena tidak ada dokter, dan langsung hitam pas keluar karena kehabisan oksigen. Jadi itu cucuku meninggal dalam kandungan sekitar jam 11 siang," jelas Rahmawati.

Rahmawati lantas meluapkan kekesalannya usai jenazah cucunya sudah dikeluarkan dari kandungan. Dia keluar kamar operasi sambil membawa jenazah cucunya di hadapan tenaga kesehatan RSUD Tenriawaru.

"Saya tanya perawat, menantuku sudah melahirkan, cucuku sudah lahir dan ini jenazahnya. Out of control ma (hilang kendali) di situ, mengamuk-ngamuk ma," ungkap Rahmawati.

Rahmawati meminta pertanggungjawaban pihak RSUD Tenriawaru Bone atas kematian cucunya. Dia mendesak pihak RS memberi penjelasan atas pelayanan medis yang dinilai lamban diterima menantu dan cucunya.

"Meninggal itu memang ketetapan Tuhan, tapi saya kecewanya sama dokter yang lamban dalam penanganannya," tambah Rahmawati.

Sementara itu, Kepala Bagian Administrasi, Kepegawaian, Hukum, dan Humas RSUD Tenriawaru, Junaedi belum menanggapi persoalan itu. Dia berdalih direksi rumah sakit akan memberikan penjelasan lewat jumpa pers.

"Iya, nanti konferensi pers," singkat Junaedi yang dikonfirmasi terpisah.



Simak Video "Mengungkap Keahlian Membuat Kapal Phinisi di Tana Beru, Sulawesi Selatan"

(sar/asm)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork