Bupati Bone Siapkan Hilirisasi Ayam Terintegrasi Usai Studi Tiru di Bali

Bupati Bone Siapkan Hilirisasi Ayam Terintegrasi Usai Studi Tiru di Bali

Agung Pramono - detikSulsel
Sabtu, 22 Agu 2026 19:47 WIB
Bupati Bone Andi Asman Sulaiman (baju putih) saat melakukan kunjungan kerja ke Kelompok Dana Mertamasari dan Kelompok Tani Gopawinangon di Desa Kayubihi, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali.
Foto: Bupati Bone Andi Asman Sulaiman (baju putih) saat melakukan kunjungan kerja ke Kelompok Dana Mertamasari dan Kelompok Tani Gopawinangon di Desa Kayubihi, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali. (Agung Pramono/detikSulsel)
Bone -

Komitmen Pemerintah Kabupaten Bone dalam mengembangkan sektor peternakan semakin diperkuat setelah melakukan studi tiru ke Kabupaten Bangli, Bali. Bupati Bone Andi Asman Sulaiman bakal menyiapkan ekosistem yang mendukung pengembangan Hilirisasi Ayam Terintegrasi di Kabupaten Bone.

"Kami di Kabupaten Bone sedang bersiap mengembangkan Hilirisasi Ayam Terintegrasi. Kami di Bone itu memiliki produksi padi dan jagung yang besar, dan saat ini produksi ayam juga sedang menjadi tren, potensi ini yang ingin kami integrasikan," ujar Andi Asman kepada wartawan, Sabtu (22/8/2026).

Andi Asman melakukan kunjungan kerja ke Kelompok Dana Mertamasari dan Kelompok Tani Gopawinangon di Desa Kayubihi, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali, Sabtu (22/8). Kegiatan itu dihadiri Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH Kementerian Pertanian I Ketut Wirata, Kepala Balai Besar Veteriner Denpasar I Gde Eka Budhiyadnya, Kepala BPTU-HPT Denpasar I Gusti Putu Ngurah Raka, serta General Manager Corporate Secretary & CSR PT Berdikari AS Hasbi Al Islahi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Andi Asman mengatakan, kunjungan tersebut menjadi bagian dari studi tiru Pemerintah Kabupaten Bone untuk mendalami penerapan program Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT). Mulai dari pengelolaan peternakan hingga pemasaran hasil produksi.

"Semua kami pelajari model hilirisasinya untuk diterapkan di Bone. Salah satu kelompok penerima manfaat HAT di Bangli mengelola sekitar 600 ekor ayam dengan tingkat produksi telur mencapai sekitar 80 persen, kemudian hasil produksi tersebut kemudian disalurkan untuk memenuhi kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan pasar desa," katanya.

ADVERTISEMENT

Kepala BPTU-HPT Denpasar I Gusti Putu Ngurah Raka menjelaskan, kelompok yang dikunjungi merupakan salah satu penerima manfaat program HAT. Dia menyebut pola pengembangan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana peternakan dapat dikelola secara berkelompok dengan hasil produksi yang terserap pasar.

"Pola pengembangan seperti ini menjadi contoh bagaimana peternakan dapat dikelola secara berkelompok, mulai dari proses produksi hingga hasilnya dapat terserap oleh pasar. Yang paling penting bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi, tetapi bagaimana peternak memiliki kepastian pasar," sebutnya.

Sementara itu, General Manager (GM) Corporate Secretary & CSR PT Berdikari, AS Hasbi Al Islahi menegaskan bahwa program HAT bukan sekadar pembangunan industri peternakan. Tetapi dirancang untuk membangun ekosistem perunggasan dari hulu hingga hilir sekaligus memperkuat peran peternak rakyat.

"Program HAT yang dikembangkan PT Berdikari di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas sentra produksi protein hewani di luar Pulau Jawa. Bone sendiri menjadi salah satu lokasi prioritas pengembangan program tersebut," ucapnya.

Menurut Hasbi, konsep integrasi tersebut akan mencakup pembibitan, penyediaan pakan, budidaya, hingga penyerapan dan pengolahan hasil produksi. Peternak rakyat nantinya menjadi bagian penting dalam rantai produksi melalui pola kemitraan.

"Konsepnya bukan hanya membangun kandang atau menghasilkan ayam, tetapi membangun ekosistem dari hulu sampai hilir. Peternak rakyat harus menjadi bagian utama dari ekosistem ini sehingga mereka mendapatkan kepastian usaha, akses input produksi, teknologi, sekaligus pasar," ujarnya.

Hasbi menambahkan, PT Berdikari juga mendapat mandat untuk memperkuat sektor hulu melalui pengembangan Grand Parent (GP) Farm, Parent Stock, serta produksi DOC dan pakan. Sebagian hasil produksi selanjutnya dapat dikembangkan melalui kemitraan dengan peternak rakyat.

"Harapannya, produktivitas peternak meningkat, biaya produksi lebih kompetitif, dan hasil ternak memiliki kepastian pasar. Dengan begitu, manfaat hilirisasi tidak hanya dirasakan perusahaan, tetapi juga masyarakat dan peternak di daerah," jelasnya.



(sar/ata)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads