Santri Hafiz 30 Juz di Makassar Temukan Celah Keamanan NASA

Santri Hafiz 30 Juz di Makassar Temukan Celah Keamanan NASA

Reinhard Soplantila - detikSulsel
Kamis, 17 Sep 2026 11:00 WIB
Santri Pondok Pesantren Al Imam Ashim Makassar, Muhammad Al Hindawi.
Foto: Santri Pondok Pesantren Al Imam Ashim Makassar, Muhammad Al Hindawi. (dok. istimewa)
Makassar -

Muhammad Al Hindawi, santri kelas XII Pondok Pesantren Al Imam Ashim di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), berhasil menemukan celah keamanan tingkat kritis (critical vulnerability) berjenis SQL Injection pada sistem milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Santri penghafal 30 Juz Al-Qur'an ini juga menemukan celah keamanan kritis pada sistem University of Melbourne, Australia.

Temuan itu dilaporkan melalui program resmi Vulnerability Disclosure Program (VDP) di platform Bugcrowd dan telah divalidasi oleh tim keamanan siber dari kedua institusi tersebut. Hindawi mengaku baru sekitar empat hingga lima bulan mempelajari cybersecurity secara otodidak.

"Saat melakukan pemetaan (recon), awal mulanya saya menggunakan Subfinder untuk mengumpulkan subdomain," ujar Al Santri Hindawi dalam keterangannya, Kamis (17/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia lalu menggunakan perangkat lain untuk mengecek respons dari subdomain yang telah dikumpulkan. Setelah itu mengecek status response code-nya menggunakan httpx.

Dari hasil pemetaan tersebut, Al Hindawi kemudian mencari sistem yang memiliki celah keamanan. Dari situlah ditemukan celah kritis keamanan sistem ditemukan.

ADVERTISEMENT

"Dari sana, baru saya cari sistem yang rentan terkena SQL injection," ungkapnya.

Atas temuannya tersebut, Al Hindawi menerima Letter of Recognition (LOR) dari NASA. Dia juga telah menerima konfirmasi validasi resmi dari tim Cyber Operations University of Melbourne.

Sementara itu, Wakamad Kurikulum Al Imam Ashim Makassar Ibrahim menuturkan, kemampuan santrinya tersebut diasah secara autodidak. Al Hindari belajar lewat tutorial di YouTube dan mempelajari laporan riset keamanan siber yang dipublikasikan para peneliti lain di platform Bugcrowd.

"Terkait penemuan yang ananda dapatkan, adalah hasil autodidak dan keuletannya dalam belajar mandiri. Pondok dan madrasah hanya mengarahkan untuk menggunakan internet dengan cara sehat dan bertanggung jawab," beber Ibrahim.

Kemampuan tersebut diasah Al Hindawi di sela-sela aktivitasnya sebagai santri. Penggunaan perangkat digital bagi santri memang dibatasi karena fokus utama mereka adalah menghafal Al-Qur'an.

"Jadi semua santri di lingkungan pondok dibatasi untuk menggunakan alat-alat digital, karena tugas utama mereka adalah menghafal Al-Qur'an. Tetapi mereka tetap diberi kebebasan untuk menggunakan dan mengakses apapun secara online selama di bawah bimbingan dan pantauan pembina," jelasnya.

Ibrahim mengatakan keseharian Al Hindawi tidak berbeda dengan santri lainnya. Ia tetap mengikuti seluruh kegiatan di Pondok Pesantren Al Imam Ashim Makassar, termasuk belajar di kelas dan menghafal Al-Qur'an.

"Keseharian ananda sama saja dengan santri yang lain, mengikuti kegiatan keseharian di Pondok Pesantren Al Imam Ashim Makassar. Setiap hari sibuk berinteraksi dengan Al-Qur'an serta paginya belajar di kelas. Di sela-sela waktu luangnya Ananda mengisi untuk mempertajam minat dan bakatnya dalam dunia digital," katanya.

Menurut Ibrahim, Al Hindawi sebelumnya merupakan salah satu santri yang tidak terlalu menonjol. Namun seiring bertambahnya usia, Al Hindari menunjukkan perkembangan dan berhasil menorehkan sejumlah prestasi.

"Doa-doa orang terdekat dan gen ananda yang merupakan cucu dari salah seorang ulama kharismatik Bugis, Anreggurutta Huzaifah yang berasal dari Kabupaten Bone sehingga ananda ketika menginjak usia remaja langsung mengalami perubahan dengan prestasi menyelesaikan hafalan Al-Qur'an 30 Juz dan juga menekuni qiraat sab'ah," pungkasnya.



(sar/asm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads