Darije Kalezic kembali menjadi pelatih PSM Makassar untuk menyambut kompetisi Super League musim 2026/2027. Pelatih asal Bosnia-Herzergovina ini merasa terpanggil untuk menjadi penyelamat bagi skuad Juku Eja agar keluar dari keterpurukan.
Darije datang saat PSM Makassar berada dalam fase krusial. Masalah Pasukan Ramang kian kompleks sejak ditinggal sejumlah pemain pilar setelah kompetisi musim lalu, hingga berulang kali dikenakan sanksi oleh FIFA menjelang kompetisi.
"Bukti dari situasi tersebut ada beberapa staf dan pemain yang meninggalkan PSM," ungkap Darije saat konferensi pers bersama manajemen PSM Makassar, Minggu (19/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Darije mencoba realistis dengan kondisi tim tetapi tidak dalam posisi pesimis. Dia berani mengambil tantangan demi misi membangkitkan kembali PSM Makassar yang performanya dianggap semakin menurun.
"Misi saya di dunia ini pada saat orang butuh pertolongan keluarga saya, teman saya, saya harus berada di tempat itu untuk memberikan pertolongan kepada mereka. Untuk membantu orang-orang di masa sulit mereka," tegasnya.
Pelatih berusia 56 tahun ini mendapat kepercayaan untuk melatih PSM selama tiga tahun. Masa kontrak yang tidak sebentar untuk membenahi PSM kembali ke performa terbaiknya.
"Saya tinggalkan keluarga saya di Eropa selama tiga tahun di sini. Saya percaya sama mereka orang-orang yang saya temani bekerja," ucap Darije.
Target Darije tidak muluk-muluk untuk langsung membawa PSM juara. Darije ingin fokus mengembalikan karakter Juku Eja yang bermain keras, cepat dan pantang menyerah.
"Kita punya target untuk membawa kultur sepakbola Makassar Ewako. Saya kira ini yang kurang terlihat dalam tim. Kita ingin menunjukkan kembali identitas ini kepada fans," tegasnya.
Dia meyakini jalan untuk mengembalikan identitas PSM menjadi kunci memenangi pertandingan. Darije ingin kesamaan visi permainan tim bisa ikut dirasakan suporter.
"Itu adalah langkah yang sangat penting bagi kita untuk membangun koneksi yang baik kembali dengan fans, supaya mereka bisa bangga terhadap tim ini kembali," ucap Darije.
Darije tidak sedang sesumbar. Dia tahu betul kultur permainan PSM Makassar berbekal pengalaman melatih pada 2019 silam hingga sukses menjuarai Piala Indonesia musim 2018/2019.
"Saat saya berada di sini pada 2019 sama dengan orang-orang yang bekerja di PSM dan kalian fans-fans PSM Makassar, saya ambil tantangan ini," tegasnya.
Kendati begitu, Darije tidak ingin larut dengan kesuksesan terdahulu. Atmosfer dan aturan sepakbola di Indonesia dianggap sudah berbeda dan jauh berkembang.
"Pada saat saya berada di sini 7 sampai 8 tahun lalu kita hanya diperbolehkan memilih tiga pemain asing. Sekarang klub bisa memiliki 11 pemain asing," paparnya.
Bidik Pemain Muda Potensial
Situasi itu membuatnya harus mengatur strategi terbaik. Misi untuk mengembalikan identitas permainan PSM diawali dengan mematangkan komposisi pemain.
"Kita akan berusaha membuat perubahan, yang mana pemain-pemain muda tidak akan berpikir meninggalkan PSM Makassar," ujar Darije.
Menurut Darije, PSM memiliki banyak pemain muda yang potensial. Dia percaya pemain muda akan memberikan pengaruh besar jika diberi kepercayaan.
"Saya yakin kita akan memberikan perubahan kepada pemain kita sehingga mereka merasa bangga," tutur Darije.
Dia lantas mencontohkan ketika masih menukangi PSM pada 2019. Darije mengaku berhasil memaksimalkan potensi pemain muda seperti Asnawi Mangkualam di era kepelatihannya.
"Terbukti dari pada hal tersebut adalah Asnawi, Rizki Eka, Arfan dan pemain-pemain yang lain. Mereka adalah pemain yang dapat kesempatan bersama saya," jelasnya.
Visi Darije untuk mengembalikan identitas permainan skuad Juku Eja mendapat dukungan penuh dari manajemen PSM. Masa kontrak selama tiga tahun akan menjadi ajang pembuktian Darije bersama Pasukan Ramang.
"Coach Darije Kalezic akan kita kontrak tiga tahun dengan perencanaan yang sudah kita susun bersama. Semoga kita memulainya dengan mengisi tiga tahun ke depan dengan energi yang lebih positif," kata Manajer PSM Muhammad Nur Fajrin kepada wartawan, Minggu (19/7).
Masalah Tersisa di PSM Makassar
Fajrin mengatakan, manajemen PSM sedianya sudah mulai membangun komunikasi dengan Darije sejak Maret 2026. Darije disebut sudah memahami berbagai permasalahan yang melanda PSM.
"Saat itu bagi kami PSM berada pada fase krusial. Kami berdiskusi lebih lanjut dan kemudian keputusan kita ambil bahwa coach (Darije) bersedia kembali ke Makassar dan mengembalikan identitas tim," jelasnya.
Manajemen PSM memastikan akan segera menyelesaikan berbagai masalah yang masih tersisa. Sanksi FIFA yang masih berlaku menjadi perhatian utama.
"Kami sudah menyusun perencanaan jauh-jauh hari dan itu kita sudah bahas dengan pelatih kepala dan jadi tanggung jawab kami di manajemen. Insyaallah sanksi FIFA ini akan kami selesaikan," tegas Fajrin.
Diketahui, PSM Makassar lebih dulu tercatat sebagai klub terhukum oleh FIFA pada 22 Mei 2026. Sanksi pertama itu muncul tidak lama setelah PSM menyudahi kompetisi musim lalu dengan finis di posisi ke-15 klasemen.
Beban PSM semakin berat setelah resmi melepas 9 pemainnya. Mereka adalah Syahrul Lasinari, Ricky Pratama, Reza Arya, Daffa Salman, Victor Dethan, Yuran Fernandes, Gledson Paixao, Alex Tanque, hingga Rifky Dwi.
PSM lalu kembali dihukum FIFA per tanggal 7 Juli 2026 atau menjelang bursa transfer Super League musim 2026/2027 dibuka. Hukuman itu diduga kuat muncul akibat permasalahan internal klub yang belum terselesaikan.
"Perlu kami tegaskan kembali bahwa yang dikena PSM adalah FIFA Registration Bans, artinya kami dalam ranah operasional sama sekali tidak terganggu rekrutmen pemain," jelasnya.
Kendati begitu, sanksi dari FIFA menjadi evaluasi dan pembelajaran bagi manajemen PSM. Persoalan ini dipastikan akan diselesaikan agar tidak mengganggu persiapan tim menghadapi kompetisi mendatang.
"Kami sudah menyusun langkah-langkah penyelesaian sesuai perencanaan keuangan dan cash flow yang dimiliki klub," pungkas Fajrin.
Simak Video "Video Viral Pemain PSM Victor Luiz Hendak Memukul Warga di Jalanan Makassar"
[Gambas:Video 20detik] (sar/sar)
