Sejumlah karung beras Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ukuran 5 kilogram ditemukan berserakan di pinggir jalan Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel). Tumpukan karung tersebut diduga hasil pengemasan ulang beras Bulog.
Sejumlah karung beras SPHP bekas itu ditemukan di Jalan Jenderal Muh Yusuf, Kelurahan Galung Maloang, Kamis (23/7/2026). Lurah Galung Maloang, Eka Siswanto Pratama langsung mengevakuasi sampah karung-karung tersebut ke kantor kecamatan demi mengantisipasi potensi kebakaran lahan.
"Banyak situ sampah-sampah sisa kayu yang sudah dirobek-robek, kayak terbuka mi ceritanya karung di sana. Karung SPHP yang 5 kilo. Kami tadi evakuasi gara-gara khawatir ada yang usil membakar, makanya nanti bisa jadi kebakaran lahan," ujar Eka kepada detikSulsel, Kamis (23/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eka menjelaskan, aksi pembuangan karung beras SPHP di lokasi tersebut bukanlah yang pertama kali terjadi. Menurutnya, peristiwa serupa pernah dijumpai di lokasi yang tak jauh dari tempat pembuangan saat ini.
"Ini bukan kejadian pertama, tapi yang kedua kalau sepengetahuan saya selama jadi lurah di sini. Seminggu atau dua minggu lalu memang ada yang membuang begitu juga, tapi agak di tepi jurang, tidak berserakan seperti yang sekarang ini," ungkapnya.
Eka menjelaskan, lokasi pembuangan tersebut bukan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dia menyesalkan adanya oknum warga yang sengaja membuang sampah dalam jumlah banyak ke tempat itu.
"Itu kan sebenarnya yang bagian atas itu bukan tempat sampah sebenarnya. Cuma saya tidak tahu bagaimana warga itu. Kalau kita lihat sampah yang sekarang sebenarnya bukan cuma sampah rumah tangga. Banyak juga sampah bangunan hingga sisa pabrik," ujarnya.
Sementara itu, Pimpinan Cabang Bulog Parepare, Rahmi Mangeran mengaku sudah menerima kabar terkait adanya karung bekas beras SPHP yang berserakan di jalanan. Pihaknya telah menelusuri lokasi dan menemukan adanya indikasi penyelewengan beras SPHP di tingkat masyarakat.
"Kami sudah telusuri dan lihat sendiri, memang ada indikasi oknum masyarakat yang melakukan pengemasan ulang (repacking) terhadap beras SPHP yang kami jual di pasar," jelas Rahmi.
Rahmi menduga, oknum tersebut secara sengaja mengumpulkan beras SPHP dari berbagai mitra pelaksana di pasar-pasar. Kemudian beras subsidi itu dikemas kembali menggunakan kemasan lain untuk dijual dengan harga di atas ketentuan.
"Dugaannya oknum masyarakat ini sepertinya mereka mengumpulkan beras SPHP dari mitra-mitra pelaksana di pasar, lalu mereka kemas ulang lagi untuk dijual dengan harga yang lebih tinggi," jelasnya.
Atas kejadian itu, Bulog Parepare menegaskan akan memperketat seleksi dan evaluasi terhadap mitra pelaksana, termasuk Rumah Pangan Kita (RPK) yang saat ini berjumlah sekitar 100 unit di Parepare. Bulog juga tidak segan memberikan sanksi tegas berupa penghentian pasokan bagi mitra yang terbukti melanggar aturan.
"Kami berikan surat peringatan dan tidak salurkan dulu SPHP ke mereka (RPK yang ditemukan nakal) biar ada efek jera," tegas Rahmi.
Sebagai langkah antisipasi lanjutan, Bulog akan mengeluarkan surat edaran penegasan ulang terkait larangan penyalahgunaan beras subsidi. Bulog bakal berkoordinasi dengan Polres Parepare dan Satgas Pangan untuk menggelar inspeksi mendadak (sidak) di lapangan.
"Dalam waktu dekat kami bersama Satgas Pangan akan turun ke lapangan untuk menyidak. Kami juga berkoordinasi dengan pihak Polres," pungkasnya.
