Harga aspal curah di Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel), mengalami kenaikan dari Rp 16.000 menjadi Rp 18.000 per kilogram. Kenaikan itu berdampak pada pengurangan volume item penunjang proyek jalan.
Staf Analis Tim Teknis Bidang Bina Marga Dinas PUPR Parepare, Muhammad Rizal mengungkapkan, kenaikan harga itu mulai terasa sejak April 2026. Kenaikan sebesar Rp 2.000 per kilogram itu dinilai memengaruhi perencanaan yang telah disusun sejak tahun lalu.
"Kemarin di bulan Januari itu masih sekitar Rp 16.000 per kilo. Per bulan April kemarin sudah naik ke harga baru Rp 18.000. Ini kenaikannya cukup signifikan, biasanya kan cuma naik Rp 500 atau Rp 1.000," ujar Rizal kepada detikSulsel, Kamis (7/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rizal menjelaskan, kenaikan harga aspal itu menjadi tantangan bagi proyek rehabilitasi jalan DAK. Pasalnya, perencanaan anggaran dilakukan setahun sebelumnya dengan mengacu pada harga pasar saat itu.
"Terus kami juga ini ada pengalaman, karena berhubung perencanaan DAK itu 1 tahun sebelumnya, makanya ini ada penyesuaian harga untuk proses lelangnya," ujarnya.
Pihak Dinas PUPR Parepare menyiasati pembengkakan biaya itu dengan melakukan penyesuaian pada proses lelang. Meski ada kenaikan harga, Rizal menegaskan total panjang target jalan tidak akan dikurangi karena sudah dikunci oleh pemerintah pusat.
"Untuk target panjang jalan, verifikator di pusat tidak mengizinkan adanya pengurangan. Jadi kami tetap di target awal yakni 1.960 meter," jelasnya.
Sebagai solusinya, Dinas PUPR akan melakukan penyesuaian volume pada item pekerjaan penunjang. Hal ini agar pembengkakan biaya bisa menutupi selisih harga aspal tersebut.
"Mungkin ada pengurangan di bangunan pelengkap atau pekerjaan minor seperti bahu jalan dan talud penahan tanah. Itu yang akan disesuaikan volumenya agar tetap masuk dalam pagu anggaran Rp 3 miliar lebih itu," ungkap Rizal.
Saat ini proyek jalan yang bersumber dari dana alokasi khusus (DAK) tersebut belum memasuki tahap pengerjaan fisik di lapangan. Rizal mengatakan seluruh paket pengerjaan masih dalam proses tender.
"Belum ada pengerjaan, masih proses lelang semua. Rencananya paling cepat berkontrak itu tanggal 20 Mei kalau tidak ada perubahan jadwal," tuturnya.
Sementara untuk proyek non-DAK lainnya, Rizal memastikan perencanaan sudah menggunakan standar harga terbaru sebesar Rp 18.000 per kilogram. Langkah itu dilakukan untuk menghindari kendala penyesuaian di tengah jalan.
"Untuk perencanaan di tahun ini, kan kebetulan semua masih berjalan. Sementara berproses kemarin yang kebetulan kita dapat harga baru. Jadi untuk perencanaan sudah diarahkan untuk menggunakan harga terbaru," pungkasnya.
