Harga Ayam di Pasar Parepare Melonjak Tajam Diduga Dipicu Program MBG

Harga Ayam di Pasar Parepare Melonjak Tajam Diduga Dipicu Program MBG

Ardiansyah - detikSulsel
Sabtu, 11 Apr 2026 11:22 WIB
Pedagang ayam di Pasar Lakessi Parepare.
Foto: Pedagang ayam di Pasar Lakessi Parepare. (Ardiansyah/detikSulsel)
Parepare -

Harga daging ayam broiler di Pasar Lakessi, Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel), melonjak tajam hingga tembus Rp 85.000 per ekor. Kondisi ini dipicu oleh berkurangnya stok di pasaran sementara permintaan tinggi akibat kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pantauan detikSulsel di Pasar Lakessi, Sabtu (11/4/2026), terlihat deretan lapak pedagang ayam tampak lengang dari aktivitas pembeli. Sejumlah pedagang lebih banyak duduk menanti pelanggan di balik meja dagangannya yang masih dipenuhi tumpukan karkas ayam.

Suasana lesu itu kontras dengan riuhnya pasar di lapak pedagang lainnya. Minimnya warga yang datang menawar membuat para pedagang terpaksa membiarkan stok ayam mereka terpajang lebih lama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah seorang pedagang ayam di Pasar Lakessi, Abidin mengungkapkan harga dalam sepekan terakhir cukup tinggi. Saat ini, harga ayam dari distributor ke pedagang pasar berkisar antara Rp 27.000 hingga Rp 27.500 per kilogram.

"Harga (ayam) sekarang belum stabil, masih mahal. Maunya kita itu di bawah Rp 25.000 (per kilo) masuk pasar. Sekarang harganya Rp 27 ribu per kilo," kata Abidin saat ditemui detikSulsel di lokasi.

ADVERTISEMENT
Pasar Lakessi Parepare masih sepi di tengah lonjakan harga daging ayam.Foto: Pasar Lakessi Parepare masih sepi di tengah lonjakan harga daging ayam. (Ardiansyah/detikSulsel)

Abidin mengatakan, tingginya modal membuat harga jual ke konsumen melonjak. Dia mengungkapkan, ayam ukuran besar 2,6 kg hingga 2,7 kg kini dijual seharga Rp 85.000 per ekor.

"Harga itu naik dari harga normal yang sebelumnya hanya Rp 70 ribu hingga Rp 75 ribu. Sekarang paling murah itu Rp 85 ribu," ujarnya.

Menurut Abidin, ketidakstabilan harga ini dipicu oleh stok yang menipis. Kondisi stok itu imbas banyaknya serapan untuk program MBG di berbagai daerah.

"Stok agak kurang, sedangkan MBG pemakaiannya dalam satu hari ribuan ekor di semua daerah. Itu alasan teman-teman pemotong kalau ditanya kenapa harga tidak stabil," tuturnya.

Kondisi ini pun berdampak langsung pada daya beli masyarakat yang menurun. Abidin mengaku mengurangi belanja stoknya karena sepi pembeli.

"Penjualan lesu, kecuali bagi mereka yang betul-betul butuh atau pedagang kuliner," imbuhnya.

Di sisi lain, kenaikan harga ayam broiler itu dikeluhkan oleh para pelaku usaha kuliner. Seorang pedagang sate, Abdul Rosid mengaku keuntungannya menurun drastis akibat mahalnya harga bahan baku.

"Pendapatan turun karena belanjaan lebih tinggi. Biasanya satu hari bisa (untung) Rp 1 juta, sekarang sisa Rp 500 ribu sampai Rp 700 ribu," ungkap Rosid.

Meski modal naik, Rosid memilih untuk tidak menaikkan harga jual atau mengurangi porsi sate demi menjaga pelanggan. Dia menyebut saat ini harga ayam per ekor bisa mencapai Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu.

"Harga normalnya itu di bawah Rp 80 ribu. Harapan kami harga cepat kembali normal seperti dulu supaya usaha juga enak jalannya," pungkasnya.




(sar/ata)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads