Oknum dosen Institut Teknologi BJ Habibie (ITH) Parepare berinisial RR diduga melecehkan mahasiswinya dengan modus telepon dan percakapan elektronik. RR membantah tudingan tersebut meski mengakui kerap berkomunikasi dengan mahasiswinya hingga larut malam via chat.
Kasus dugaan pelecehan oknum dosen ITH terhadap mahasiswinya ini mulanya mencuat di media sosial berdasarkan tangkapan layar percakapan pengakuan korban. Dalam unggahan beredar, dosen RR juga dituding menelantarkan istri dan dua anaknya.
Salah satu mahasiswi ITH Parepare yang enggan disebut namanya belakangan buka suara soal dugaan pelecehan tersebut. Mahasiswi yang merupakan rekan korban pelecehan menyebut oknum dosen itu telah melakukan pelecehan sejak 2023 silam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bentuk pelecehan yang dilakukan terlapor yaitu pada 2023. Beliau (RR) sering sekali menghubungi mahasiswi pada jam yang tidak wajar dan juga sering menelepon di waktu tersebut," ungkap mahasiswi ITH Parepare kepada detikSulsel, Senin (26/1/2026).
Dia juga menuding oknum dosen pernah melakukan pelecehan di ruang kelas. Dia berdalih dugaan pelecehan ini pernah dilaporkan ke kampus namun tidak digubris.
"Terkait pelecehan yang dilakukan di ruang kelas, mungkin saya akan ungkap jika nanti setelah saya melapor lagi di kampus. Tetapi tidak ditanggapi atau tidak diproses secara cepat," jelasnya.
Dia mengaku korban saat ini belum kembali melapor karena masih trauma dan ketakutan. Namun dia mengungkap korban dugaan pelecehan mencapai 4 orang.
"Sejauh ini yang mengaku dapat chat tengah malam itu ada 4 mahasiswi," bebernya.
Dosen Chat Mahasiswi hingga Larut Malam
Sementara oknum dosen ITH Parepare berinisial RR membantah tudingan melecehkan mahasiswinya hingga korban mencapai 4 orang. Dia lantas balik menantang mahasiswi yang mengaku sebagai korban untuk melapor.
"Itu tidak benar juga, harus saya pastikan itu tidak benar. Mana buktinya? Apakah ada pelaporan? Kalau ada, ayo kita buktikan sama-sama di ranah hukum," kata RR kepada detikSulsel, Selasa (27/1).
Kendati begitu, RR membenarkan kerap meladeni mahasiswi yang menghubunginya lewat chat atau pesan elektronik hingga larut malam. Namun dia berdalih komunikasi itu hanya sebatas diskusi soal perkuliahan.
"Biasa mahasiswa ada yang chat malam dan saya balas. Balasannya pun normatif, tanya tugas atau diskusi. Saya membuka ruang untuk mereka diskusi, bahkan sampai larut malam tanya tugas," tambahnya.
Dia juga mengklaim hubungannya dengan mahasiswi di kampus masih dalam batas kewajaran. RR mengaku tidak tahu identitas mahasiswi yang merasa dilecehkan.
"Sesuai idealnya, sebatas mahasiswa dan dosen. Saya bahkan tidak tahu mahasiswi mana yang dimaksud karena tidak ada laporan resmi ke kampus," ucap RR.
RR mengatakan sudah memenuhi dua kali panggilan klarifikasi dari Satgas ITH Parepare. Dalam proses klarifikasi itu, dia menuding mantan istrinya yang menunggangi munculnya tuduhan kasus pelecehan tersebut.
"Saya klarifikasi tentang itu ya (dugaan pelecehan) memang tidak ada. Hari ini klarifikasi yang kedua, yang pertama sudah pernah juga. Saya tetap bilang bahwa mantan istriku itu memang niatannya tidak bagus," ujarnya.
Oknum Dosen ITH Parepare Polisikan Eks Istri
Dosen RR yang curiga kemunculan kasusnya ditunggangi, lantas melaporkan mantan istrinya atas dugaan pencemaran nama baik ke Polres Parepare pada Minggu (25/1). Dia juga melaporkan sejumlah akun media sosial atas dugaan pelanggaran Undang-Undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
"Pokoknya mantan istri beserta akun-akun sosmed yang berafiliasi, seperti Makassar Keras, Parepare Info, Pinrang Info, Sidrap Info. Saya lapor semua itu," ungkap RR.
Dia menuding mantan istrinya sakit hati kepada dirinya meski tidak dirincikan masalah yang menjadi pemicunya. Namun dari masalah itu, RR menyebut mantan istrinya sengaja mencari-cari masalah dengan dirinya.
"Ini mantan istri yang sakit hati, makanya dia kompor-kompori semua orang-orang yang ada di kampus. Dia pakai akun anonim untuk seolah-olah mengungkap, padahal kan belum ada juga dari kampus secara resmi di Satgas," terangnya.
Dia juga keberatan fotonya tersebar di beberapa akun media sosial yang diduga melecehkan mahasiswi. Dia merasa kena sanksi sosial untuk tuduhan yang belum dibuktikan kebenarannya.
"Iya, tidak boleh mem-posting foto orang apalagi ada mukanya tanpa persetujuan. Itu masuk pencemaran nama baik. Makanya saya sudah masukkan di situ pasal tentang ITE," ungkapnya.
Sementara itu, ITH Parepare telah membentuk tim adhoc untuk menyelidiki dugaan pelecehan itu. Dari hasil pemeriksaan sementara, Pihak kampus menuding kasus itu ditunggangi oleh pihak tertentu.
"Sebenarnya ini kan merupakan indikasi dari kasus-kasus pribadi yang bersangkutan. Namun di tengah jalan ternyata ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu gitu yang mengatasnamakan korban," kata Ketua Tim Adhoc Penegakan Etika dan Sanksi Akademik ITH Parepare, Suryansyah Surahman kepada wartawan, Senin (26/1).
Suryansyah mengungkapkan, kasus itu awalnya terungkap melalui postingan media sosial yang diduga disebarkan oleh akun palsu. Namun pihaknya akan melakukan penyelidikan lebih lanjut sembari menunggu laporan resmi dari korban.
"Apa yang tersebar di media sosial itu adalah akun-akun fake dan akun-akun anonim yang secara resmi dari kami ITH belum mendapatkan laporan resmi sebagai korban," jelasnya.
Simak Video "Video: Pengasuh Diduga Cabuli Puluhan Santri, Massa Geruduk Ponpes di Pati"
[Gambas:Video 20detik]
(sar/sar)











































