Tawuran antara kelompok pemuda dari Kandea dan Baraya terjadi di Jalan Kandea 3, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Keributan diduga dipicu aksi saling lempar batu dan busur saat rombongan pengantar jenazah melintas.
Kapolrestabes Makassar Kombes Arya Perdana mengatakan keributan awalnya terjadi setelah adanya pengantaran jenazah pada Minggu (27/9) malam. Rombongan pengantar jenazah kemudian terlibat keributan dengan warga dari Baraya.
"Ya ada tawuran tadi (Minggu malam) dari anak Kandea sama Baraya. Jadi yang dari tadi ada, sebenarnya ada pengantaran jenazah setelah itu yang mengantarkan jenazah ini terus ribut dengan warga dari Baraya," ujar Arya kepada wartawan, Senin (28/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Polisi yang menerima informasi langsung datang membubarkan massa anarkis dengan melepaskan tembakan gas air mata dan melakukan mitigasi dengan menambah personel di sekitar lokasi. Polisi juga menggandeng RT, RW, camat, dan lurah untuk meredam situasi.
"Ini sudah kita lakukan mitigasi, kita lakukan penambahan pasukan dan insyaallah habis sini kita cegah dengan mencairkan suasana melalui Pak RT, Pak RW bahkan tadi dengan camat dan lurah supaya bisa mengendalikan warganya," kata Arya.
Arya memastikan tidak ada korban dalam tawuran tersebut. Polisi juga tidak menemukan rumah warga yang terbakar atau terdampak, meski terjadi aksi pelemparan batu dan busur.
"Untuk saat ini tidak ada korban alhamdulillah, tidak ada juga rumah-rumah yang terbakar atau mungkin terkena imbas tapi memang ada lemparan batu dan kaca dari panah busur. Tapi alhamdulillah situasi sekarang sudah bisa dikendalikan, pasukan sudah disiagakan di sekitar lokasi," tegasnya.
Di sisi lain, Arya membantah tawuran tersebut berkaitan dengan kematian Rafli Ramadhani alias Pingky (19), pemuda yang tewas diduga tertembak saat tawuran di Makassar sebelumnya. "Tidak ada (hubungan dengan kematian Rafli Ramadhani)," bebernya.
Menurut Arya, keributan terjadi akibat isu provokasi yang membuat kelompok warga saling mencurigai. Dia menyebut tidak ada aksi balas dendam terkait kejadian sebelumnya.
"Ada yang mengira kalau kelompok (Baraya) dari sini bermasalah dengan kelompok sana. Selalu ada isu-isu demikian dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan mereka percaya dengan isu itu, padahal sebenarnya mungkin tidak ada," sebutnya.
"Saya yakinkan tidak ada sebenarnya isu-isu balas-balasan itu cuma karena ada yang memprovokasi akhirnya kejadianlah," sambung Arya.
Polisi juga sempat mengamankan tiga anak yang diduga terlibat aksi pelemparan. Namun, mereka dipulangkan kepada orang tuanya karena belum ada laporan atau unsur pidana yang ditemukan.
"Tadi ada kita amankan yang melakukan pelemparan-pelemparan tapi karena memang tidak ada pidana dan tidak ada laporan sehingga kami tadi kembalikan ke orang tuanya," pungkas Arya.
