Pemkot Makassar Raih Penghargaan Wastra dan Kriya dari Dekranasda

Pemkot Makassar Raih Penghargaan Wastra dan Kriya dari Dekranasda

Andi Nur Isman Sofyan - detikSulsel
Senin, 13 Jul 2026 09:50 WIB
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karanivan memberikan penghargaan kepada Wali Kota Makassar Munafri Appi Arifuddin.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karanivan memberikan penghargaan kepada Wali Kota Makassar Munafri 'Appi' Arifuddin. Foto: (dok. istimewa)
Makassar -

Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar meraih penghargaan sektor Wastra (kain tradisional) dan Kriya (kerajinan tangan) dari Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas). Penghargaan diberikan berkat program dorongan UMKM berbasis budaya lokal.

Penghargaan diterima Wali Kota Makassar, Munafri 'Appi' Arifuddin bersama Ketua TP PKK sekaligus Ketua Dekranasda Makassar Melinda Aksa pada acara penutupan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54 dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Dekranas di Trans Studio Mall (TSM) Makassar, Minggu (12/7/2026). Penghargaan diberikan langsung oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, bersama Istri Tri Suswati Tito Karnavian, selaku Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas).

"Itu (penghargaan) bagian dari bagaimana kita terus memaksimalkan penggunaan motif-motif lokal untuk memastikan bahwa produk lokal kita tidak kalah bersaing dengan motif dari daerah lain," tutur Appi dalam keterangannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi pemerintah pusat terhadap keberhasilan Pemerintah Kota Makassar dalam membina dan mengembangkan ekosistem UMKM berbasis budaya lokal. Berbagai program pembinaan, promosi, hingga perluasan akses pasar terus dilakukan guna meningkatkan daya saing produk-produk kerajinan dan kain tradisional hasil karya para perajin lokal.

Pengakuan pada kategori Wastra dan Kriya memiliki makna yang sangat penting karena keduanya merupakan representasi identitas budaya sekaligus kekuatan ekonomi kreatif Indonesia. Wastra merujuk pada kain tradisional Nusantara yang memiliki nilai sejarah, filosofi, simbol, motif, dan corak khas setiap daerah, seperti batik, tenun, songket, hingga berbagai kain tradisional lainnya.

ADVERTISEMENT

Sementara kriya merupakan karya seni kerajinan tangan yang mengedepankan keterampilan, kreativitas, nilai estetika, sekaligus fungsi praktis, mulai dari anyaman, ukiran kayu, keramik, logam, hingga beragam produk kerajinan khas daerah.

"Nah, ini yang akan kita pastikan ke depan, tempat pembeliannya harus mudah diakses dan produknya tersedia dengan berbagai pilihan kualitas maupun harga sehingga semua masyarakat bisa mendapatkannya," ungkapnya.

Melalui pengembangan Wastra dan Kriya, para pelaku UMKM didorong untuk terus berinovasi sehingga produk lokal memiliki daya saing tinggi, mampu menembus pasar nasional bahkan internasional, sekaligus membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain memperluas akses pemasaran, Pemerintah Kota Makassar juga akan terus mendorong pengembangan industri batik lokal.

"Ini yang harus kita maksimalkan, terutama para produk pembatik. Kita memang belum punya banyak pembatik, sehingga motif-motif lokal itu masih perlu terus dikembangkan dengan lebih baik lagi," jelas Appi.

Dia menegaskan kehadiran Pemerintah Kota Makassar dalam peringatan HUT ke-46 Dekranas dan HKG PKK Nasional ke-54 bukan sekadar menampilkan produk unggulan kota Daeng. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi ajang memperkuat pemberdayaan pelaku usaha, melestarikan budaya lokal, sekaligus menggerakkan roda perekonomian Kota Makassar.

Menurut Appi, seluruh produk yang dipamerkan di stan Pemerintah Kota Makassar merupakan hasil karya para pengrajin lokal yang selama ini terus dibina dan didorong agar mampu berkembang serta memiliki daya saing.

"Ini adalah hasil karya para pengrajin yang ada. Kita ingin memastikan bahwa di Kota Makassar ada pemberdayaan terhadap para pengrajin sekaligus upaya melestarikan budaya yang kita miliki. Semua itu dikemas dalam satu stan atau booth yang ditampilkan Pemerintah Kota Makassar lewat kerajinan Dekranasda," tuturnya.

Ia mengatakan, pelaksanaan event nasional seperti HUT Dekranas memberikan manfaat yang jauh lebih luas dibanding sekadar pameran produk. Kehadiran ribuan peserta dan tamu dari berbagai daerah dinilai memberikan dampak ekonomi langsung bagi berbagai sektor usaha di Makassar.

"Dengan hadirnya kegiatan ini, ekonomi di Kota Makassar bisa memberikan kontribusi terhadap pembangunan daerah. Dampaknya sangat terasa. Hotel, restoran, rumah makan, pusat oleh-oleh, rental mobil dan berbagai sektor lainnya ikut bergerak karena hadirnya ribuan tamu di Kota Makassar," katanya.

Ia berharap Makassar terus mampu memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh tamu yang datang sehingga meninggalkan kesan positif dan mendorong mereka kembali berkunjung pada kesempatan berikutnya.

"Kita berharap terus bisa memberikan hospitality yang baik kepada para tamu yang datang ke Kota Makassar," tukas Appi.

Pada kesempatan ini, Mendagri Tito Karnavian menilai penyelenggaraan HUT ke-46 Dekranas di Kota Makassar tidak hanya menjadi ajang promosi produk kerajinan Nusantara, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi daerah tuan rumah. Menurut Tito, ribuan peserta dan tamu dari seluruh Indonesia yang hadir dalam kegiatan tersebut menggerakkan berbagai sektor usaha, mulai dari transportasi udara, transportasi lokal, perhotelan, hingga usaha kuliner dan UMKM.

"Sektor transportasi udara pasti bergerak. Bayangkan seluruh Indonesia datang ke sini. Maskapai-maskapai harusnya berterima kasih dengan adanya acara ini," kata Tito saat memberikan sambutan pada penutupan HUT Dekranas ke-46 dan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK Nasional ke-54 di Trans Studio Mall (TSM) Makassar.

Ia mengatakan, tingginya mobilitas peserta juga berdampak pada meningkatnya kebutuhan transportasi darat. Bahkan, menurutnya, mendapatkan kendaraan sewaan selama pelaksanaan kegiatan menjadi tantangan karena tingginya permintaan.

"Transportasi lokal juga bergerak, untuk mencari kendaraan sewaan saja berjuang karena sulit, semuanya diperebutkan," ujarnya.

Tak hanya itu, sektor perhotelan juga menikmati lonjakan tingkat hunian. Tito mengaku memperoleh informasi langsung dari pengelola hotel tempatnya menginap bahwa seluruh kamar telah terisi penuh selama pelaksanaan kegiatan.

"Saya menginap di Hotel Claro. Saya tanya manajernya, penuh. Saya yakin hotel-hotel yang lain juga begitu," ungkapnya.

Bahkan, kondisi tersebut membuat Kemendagri menunda agenda kegiatan lain yang semula direncanakan berlangsung di Makassar karena khawatir kesulitan memperoleh akomodasi. Selain sektor transportasi dan perhotelan, Tito juga menyebut restoran, rumah makan, hingga pelaku UMKM turut merasakan manfaat ekonomi dari penyelenggaraan event berskala nasional tersebut.

Namun, menurutnya, nilai terbesar dari penyelenggaraan Dekranas bukan hanya besarnya transaksi ekonomi yang tercipta selama acara berlangsung, melainkan keberhasilannya mengangkat potensi kerajinan Indonesia agar semakin dikenal dan mampu bersaing di pasar global.

"Lebih dari itu, acara ini menghidupkan kembali potensi kerajinan Indonesia yang harus kita jaga dan kita kembangkan agar mampu menembus pasar dunia," katanya.

Tito menjelaskan, industri kerajinan dunia memiliki nilai ekonomi yang sangat besar dengan potensi pasar mencapai sekitar Rp 500 triliun setiap tahun. Ia menilai produk lokal bagian dari keunggulan yang tidak dimiliki negara lain, yakni keberagaman produk kerajinan yang lahir dari kekayaan budaya, suku, serta sumber daya alam yang tersebar di seluruh nusantara.

"Indonesia adalah negara dengan kerajinan tangan paling beragam di dunia. Setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing karena kita memiliki begitu banyak suku, budaya, dan sumber daya alam yang berbeda-beda," ujarnya.

Menurut Tito, kekayaan tersebut menjadi modal besar untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain utama industri kerajinan dunia. Untuk itu, ia mendorong seluruh pemangku kepentingan, termasuk Dekranas dan pemerintah daerah, agar terus mengembangkan inovasi produk, meningkatkan kualitas, serta memanfaatkan bahan baku lokal yang selama ini belum diolah secara optimal menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

"Kita berharap juga memperkuat posisi Indonesia di pasar ekonomi kreatif dunia," tutup mantan Kapolri itu.



(asm/hsr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads