5 Fakta Pallubasa Serigala Kuliner Legendaris Buang Limbah Sembarangan

5 Fakta Pallubasa Serigala Kuliner Legendaris Buang Limbah Sembarangan

Tim detikSulsel - detikSulsel
Minggu, 14 Jun 2026 09:00 WIB
Draninase di bawah bekas tenda warung Pallubasa Serigala Makassar dipenuhi limbah.
Draninase di bawah bekas tenda warung Pallubasa Serigala Makassar dipenuhi limbah. Foto: (dok. istimewa)
Makassar -

Warung makan legendaris Pallubasa Serigala di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), menuai sorotan usai tendanya yang puluhan tahun berdiri di atas fasilitas umum (fasum) ditertibkan. Terungkap limbah bekas makanan selama ini dibuang sembarangan hingga membuat drainase tersumbat.

Sorotan bermula dari keberadaan tenda Pallubasa Serigala yang berada di Jalan Serigala, Kecamatan Mamajang, berdiri di atas saluran drainase. Pihak kecamatan lalu mengultimatum pihak Pallubasa Serigala untuk membongkar tenda tersebut.

"Senin (pekan depan) teguran tertulis, setelah itu baru kami eksekusi (penggusuran), setelah teguran ketiga, mungkin Kamis atau Jumat," kata Rizal kepada detikSulsel, Jumat (5/6).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rizal menegaskan tenda warung Pallubasa Serigala itu memang masuk dalam daftar objek penertiban bangunan di atas fasum. Penertiban tersebut disebut telah direncanakan sebelum lokasi itu viral di media sosial.

"Kemarin omnya owner ini dia mau bongkar sendiri dulu. Permintaannya nanti tanggal 18 bulan ini, saya bilang tidak boleh, harus minggu depan," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Dirangkum detikSulsel, Minggu (14/6/2026), berikut 5 fakta Pallubasa Serigala yang disoroti karena membuang limbahnya sembarangan:

1. Pihak Pallubasa Serigala Bongkar Tenda Mandiri

Belakangan, tenda Pallubasa Serigala tersebut akhirnya dibongkar usai menguasai fasum sejak 30 tahun lalu, Kamis (11/6). Pemilik warung memilih membongkar sendiri tenda warung di atas drainase itu.

"Alhamdulilah tadi malam sekitar jam 11.00 malam, sudah dibongkar secara mandiri oleh pemilik dengan diawasi oleh kami," ujar Camat Mamajang Muhammad Rizal kepada detikSulsel, Jumat (12/6).

Setelah dibongkar sendiri oleh pemilik, pihak kecamatan lantas melakukan pembersihan di lokasi. Pihaknya dibantu Dinas Pekerjaan Umum (PU) membongkar beton permanen yang menutupi drainase tersebut.

"Tadi masih ada yang tersisa sisa coran betonnya yang belum dibongkar. Tadi juga sudah dilakukan pembongkaran oleh kami karena tertutup permanen," jelasnya.

Rizal menyebut pemilik warung telah menguasai fasum berupa drainase ini sejak 30 tahun silam. Sebelum mendirikan warung di seberang jalan, pemilik Pallubasa Serigala awalnya hanya berupa tenda ini.

"Sudah lama sekali karena memang pertama bukanya kan di situ. Ya, 30 tahun lalu. Makanya saya juga bingung kenapa setelah ada tempatnya, itu tenda masih berdiri. Saya kurang tahu kenapa bisa dipertahankan. Cuman yang jelas hari ini adalah hari di mana kami harus melakukan penertiban," pungkas Rizal.

2. Pallubasa Serigala Buang Limbah di Bawah Tenda

Rizal kemudian mengungkap Pallubasa Serigala ternyata kerap membuang limbah bekas makanan di bawah tendanya. Akibatnya, limbah yang dibuang menyumbat saluran drainase dan mengeras karena bertahun-tahun tidak dibersihkan.

Kondisi itu diketahui setelah pihak kecamatan melakukan pembongkaran beton tempat tenda Pallubasa Serigala sebelumnya berdiri. Rizal menyebut, limbah yang menumpuk terdiri dari bekas makanan hingga sabun cuci.

"Sisa corannya itu kami bongkar dan kami dapati memang limbahnya yang sudah menumpuk. Limbah dari lemak-lemaknya dibuang ke sana, minyak, sabun bekas cuci-cuci juga. Itu menyumbat drainase karena sudah mengeras," kata Rizal.

Tak hanya di sekitar tenda, drainase di seberang jalan juga sudah tertimbun limbah dari warung ini. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) agar jalur drainase dibangun ulang.

"Bahkan yang di depannya itu, di depannya lagi, kami lihat sama. Banyak sekali. Kondisi ini memang sudah dikeluhkan oleh warga limbahnya ini, makanya kami langsung koordinasi dengan PU untuk membuat jalur ulang drainase di sekitar sana," jelasnya.

detikSulsel mencoba meminta klarifikasi pemilik warung bernama Al Qadri Haeruddin. Namun dia sedang tidak berada di warung tersebut.

"Lagi tidak datang ini, mungkin ada di rumahnya. Kurang tahu juga dia datang atau tidak hari ini," kata salah satu pegawai.

3. Limbah Pallubasa Serigala Keluarkan Bau-Picu Banjir

Rizal juga mengungkap limbah Pallubasa Serigala dikeluhkan warga. Limbah dari sisa makanan itu menimbulkan bau tak sedap hingga lemaknya menutupi saluran drainase yang memicu banjir.

"Sudah ada beberapa masyarakat sekitar merasakan dampaknya. Terganggu baunya, kalau hujan langsung banjir karena menumpuk limbahnya di drainase," kata Rizal kepada detikSulsel, Sabtu (13/6).

Temuan limbah sisa makanan yang menumpuk di drainase itu sudah dilaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Makassar. Meski limbah sisa makanan mencemari drainase, pemilik warung belum memberikan tanggapan terkait temuan di lapangan.

"Belum (ditegur), tidak ada pi tanggapannya (owner). Mungkin nanti Senin semua akan kita bahas," katanya.

4. DLH Bakal Dalami Dugaan Pencemaraan Limbah

Rizal mengaku telah mengirimkan dokumentasi berupa foto dan video kondisi drainase kepada DLH Makassar. Data tersebut menjadi bahan awal untuk menindaklanjuti dugaan pencemaran lingkungan di kawasan tersebut.

"Iya benar (dugaan pencemaran lingkungan), kami sudah kirimkan dokumentasi foto dan videonya waktu penertiban kemarin," katanya.

Menurut Rizal, pihak DLH akan melakukan pengecekan setelah menerima laporan terkait dugaan pencemaran lingkungan. Dia menegaskan dugaan pencemaran lingkungan menjadi kewenangan DLH.

"Mereka cuma sampaikan siap turun crosscheck di lapangan karena kita kan tidak paham tentang itu, yang bisa lakukan itu adalah dari DLH. Saya cukup melaporkan," ujarnya.

5. Warga Sekitar Pallubasa Sergiala Ikut Disorot

Rizal menegaskan persoalan drainase di Jalan Serigala tidak semata-mata disebabkan limbah rumah makan tersebut. Dia menyebut banyak saluran air yang juga tertutup sedimen dan bangunan penutup drainase milik warga.

"Tapi memang di sepanjang Serigala itu, selain limbah Pallubasa, antara Jalan Macan dengan Onta, banyak drainase yang tertutup sedimen," katanya.

Menurutnya, sejumlah warga juga membuat penutup drainase saat membangun akses masuk rumah tanpa lebih dulu membersihkan endapan di saluran tersebut. Kondisi itu menyebabkan aliran air tidak berjalan maksimal.

"Artinya bukan cuma Pallubasa yang lakukan itu, ada juga warga membangun tutup drainase. Makanya kita lakukan normalisasi bersama Dinas PU," jelas Rizal.

Halaman 2 dari 5


Simak Video "Video: Pemprov DKI Terima Fasos-Fasum Senilai Rp 1,36 Triliun"
[Gambas:Video 20detik] (asm/asm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads