Seorang pemuda berinisial AD (24) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), nekat membuat laporan palsu ke polisi dengan mengaku menjadi korban begal. Aksi itu dilakukan demi menutupi fakta bahwa gajinya telah habis digunakan untuk bermain judi online (judol).
Peristiwa ini bermula saat AD melapor ke polisi dan mengaku dibegal di Jalan AP Pettarani, Senin (4/5). Dalam laporannya, ia menyebut ponselnya turut dirampas pelaku.
Namun, keterangan tersebut mulai diragukan setelah polisi melakukan pelacakan terhadap ponsel yang dilaporkan hilang. Hasilnya, perangkat tersebut justru terdeteksi masih berada dalam penguasaan AD sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kejadiannya kemarin melapor di Polsek. Waktu ponselnya dilacak sama unit lapangan tadi malam, ketahuan dia sendiri yang kuasai ponselnya," kata Kanit Reskrim Polsek Panakukang Iptu Uji Mughni kepada detikSulsel, Selasa (5/5/2024).
Kecurigaan polisi semakin menguat karena tidak ditemukan bukti yang mendukung adanya aksi pembegalan. Petugas kemudian menjemput AD di rumahnya untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
"Makanya unit lapangan agak jengkel dan dijemput di rumahnya. Tapi setelah sampai di kantor kasihan juga," katanya.
Dalam pemeriksaan, AD akhirnya mengakui bahwa laporan tersebut hanyalah rekayasa. Ia sengaja berpura-pura menjadi korban begal agar istrinya tidak mengetahui kondisi keuangannya.
"Dia mengaku dibegal di Jalan Pettarani VII, ponselnya diambil begal. Jadi tujuannya biar laporan pengeluaran gajinya tidak diketahui istri. Dia rencananya mau instal ulang ini hapenya," katanya.
Polisi menduga gaji AD telah habis digunakan untuk bermain judi online tanpa sepengetahuan istrinya. Meski demikian, kasus ini tidak dilanjutkan ke proses hukum.
"Karena ada sesuatu yang dia pakai itu gaji. Habis diduga dia pakai judol. Tapi pada intinya sudah minta maaf sama istrinya, sama polisi, sudah datang suami istri," tutur Uji.
Sebagai gantinya, polisi memberikan pembinaan setelah AD mengakui kesalahannya dan meminta maaf.
"Kami melakukan pembinaan, tidak memproses karena kasihan lah menyadari keadaan ekonomi yang bersangkutan. Jadi kami hanya suruh buat video pernyataan dan mereka sendiri yang mem-viralkan," pungkasnya.
(sar/hmw)











































