Penertiban kios pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Satando, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), diwarnai kericuhan. Warga yang menolak digusur mengadang hingga melempari petugas menggunakan botol air mineral hingga batu.
Kericuhan bermula saat petugas mendatangi lokasi penertiban di Jalan Satando, Kelurahan Tamalabba, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar, Kamis (26/3) siang. Alat berat yang didatangkan petugas kemudian hendak dikerahkan untuk membongkar kios yang berdiri di atas saluran drainase.
Namun sejumlah warga langsung mengadang petugas di pertigaan Jalan Moh Hatta dan ujung Tol Reformasi. Sejumlah warga juga mencoba naik ke ekskavator untuk menghentikan penertiban.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saling dorong pun mulai terjadi antara warga dan petugas yang berada di lokasi. Belakangan situasi kian memanas hingga sejumlah warga melempar botol air mineral hingga menembakkan petasan ke arah petugas.
Diketahui, sejumlah kios sudah lebih dulu ditertibkan di Jalan Kalimantan pagi tadi. Namun saat penertiban akan dilakukan Jalan Satando, kericuhan terjadi.
Pantauan detikSulsel di lokasi, Kamis (26/3) sekitar pukul 16.50 Wita, situasi kini sudah kembali kondusif. Namun petugas dan warga tampak masih berada di lokasi. Sementara puing-puing sisa penertiban sudah mulai dibersihkan.
"Coba tidak melawan tidak mungkin kita bertahan," kata seorang warga di lokasi.
Menurut warga, lokasi PKL mereka merupakan tanah adat. Lokasi itu pun sudah ditempati selama kurang lebih 20 tahun.
"Sudah hampir 20 tahun. Ini tanah adat, tanah dari dulu. Ahli warisnya mau ke Jakarta dulu ambil aslinya (dokumen)," ucap warga.
(asm/hsr)











































