Pagi itu, aspal Kota Makassar dihadiahi terik matahari setelah diguyur hujan semalaman. Pengendara memenuhi jalanan-jalanan kota, beberapa di antaranya tampak cukup kontras dengan jaket berwarna terang lengkap dengan logo transportasi online.
Irwan Rewa Dg. Kompo (35) sendiri merogoh jaket parasut hijau miliknya. Dengan celana jeans panjang dan sendal jepit sederhana, ia bersiap memulai hari. Tapi hari itu Irwan tidak dimulai dengan mengaktifkan aplikasi lalu menanti orderan.
Mesin motor dinyalakan. Motor Irwan melaju ke sebuah rumah kontrakan di Jalan Nuri Baru. Bukan untuk menjemput penumpang atau mengantar pesanan, tapi untuk mengunjungi sepasang lansia pemulung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Itu bukan kunjungannya yang pertama, Irwan sebelumnya telah menyambangi kediaman pasangan lansia itu, lengkap dengan membawa beras serta sembako. Kunjungan kali ini, ia ingin menyapa dan mengecek kondisi keduanya.
Setelah merasa cukup bercengkrama, Irwan kemudian pamit. Barulah setelah itu, aplikasi miliknya dinyalakan, mencari pundi rupiah untuk keluarga di rumah.
Begitulah Irwan menjalani hidup. Bagi banyak orang, Irwan hanyalah salah satu dari ribuan pengemudi ojek online (ojol) yang mengejar target harian. Namun, bagi ratusan lansia dhuafa dan warga prasejahtera di sudut-sudut Kota Makassar, Irwan adalah sosok pengantar harapan.
"Kerja utama saya ini kemanusiaan, ojol ini jadi sampingan," ujar Irwan ditemui di sebuah warung kecil yang berdiri di tepi Jalan A.P Pettarani, Kamis, 26 Februari 2026.
Pengakuan itu bukan bualan. Sejak 2020, Irwan aktif menjadi perantara antara donatur dengan masyarakat yang membutuhkan. Ia banyak memanfaatkan dunia maya untuk menggencarkan aksinya. Kini di aplikasi TikTok, ia lebih dikenal lewat satu nama: Ojol Beramal Makassar.
3-5 Laporan Tiap Hari
Sejak aktif membagikan kegiatannya di media sosial, ponsel Irwan lebih sering berbunyi. Di antara notifikasi orderan makanan dan penjemputan penumpang, kini ada pesan lain yang lebih sering masuk.
"Pak, bisa dibantu Pak?" ujar Irwan mencontohkan bunyi laporan yang biasa masuk di ponselnya.
Irwan Rewa Dg. Kompo (35), pengemudi ojol yang jadi harapan masyarakat prasejahtera. Foto: (Elmayanti/detikSulsel) |
Hampir setiap hari, tiga sampai lima laporan seperti itu mampir ke akunnya. Isinya beragam, mulai dari lansia sebatang kara, ojol kecelakaan, hingga warga prasejahtera yang tak mampu bayar kontrakan.
Metode Irwan sederhana namun transparan. Begitu laporan masuk, ia akan memacu motornya ke lokasi. Ia merekam kondisi calon penerima lalu mengirimkan dokumentasi kepada donatur atau mengunggah di akun TikTok-nya.
Begitu ada donatur yang mengirim uang, Irwan lekas membelanjakannya untuk kemudian dibawa ke penerima. Irwan pantang menumpuk uang titipan. Baginya, kepercayaan adalah barang pecah belah yang harus dijaga hingga ke detail nota belanja.
"Takut ka bilang nanti dimanfaatkan orang. Jadi dia transfer seratus, saya belanjakan sembako seratus," jelasnya.
Irwan Rewa Dg. Kompo (35), pengemudi ojol yang jadi harapan masyarakat prasejahtera. Foto: (Elmayanti/detikSulsel) |
Laporan tak selalu datang dari dalam Kota Makassar. Ada kalanya laporan itu mengantar Irwan lebih jauh melampaui batas kota, menuju Jeneponto, bahkan hingga Bulukumba demi memastikan titipan donasi benar-benar sampai ke tangan penerimanya.
Perjalanan itu bukan tanpa biaya. Bensin, makan di jalan, hingga ongkos bermalam jika diperlukan, ia tanggung dari kocek pribadi. Tak ada potongan dari uang donasi.
Di luar laporan, Irwan sering tak sengaja bertemu dengan lansia atau orang membutuhkan saat sedang berkendara. Irwan bercerita, pernah ia melihat seorang kakek pemulung duduk di trotoar. Ia ajak berbincang dan jika kebetulan saat itu ada kas donasi, ia langsung mengajak sang kakek membeli sembako di minimarket terdekat.
Bagi Irwan, perjalanannya menapaki tiap sudut jalanan Kota Makassar bukan hanya perkara mengantar orderan dari satu titik ke titik lain. Lewat kemudinya membelah jalanan, ia membuka mata pada setiap titik rentah yang terpampang di jalanan.
"Itu mi niat saya jadi ojol supaya saya keliling Makassar sambil lihat-lihat kondisi warga."
Jaringan Donatur hingga Luar Negeri
Lewat akun Tiktok @ojolberamalmakassar, misi kemanusiaan yang digeluti Irwan kini menembus batas wilayah. Pengikutnya menyentuh angka sebelas ribu, beberapa videonya bahkan ditonton jutaan kali.
Donatur pun berdatangan. Mulai dari luar kota hingga luar negeri, mulai dari Bandung hingga Belanda. Dana datang dari seluruh penjuru, siap diteruskan kepada penerima.
Pernah suatu hari, seorang pemilik perusahaan provider yang melihat unggahan Irwan menghubungi dan mengajukan diri menjadi donatur tetap. Tahun lalu, orang yang sama memberi Irwan hadiah umrah sebagai harga dari kerja keras dan ketulusan hatinya.
Pernah pula sebuah video viralnya tentang ojol yang motornya terbakar berbuah keajaiban, seorang donatur tak dikenal dari Pulau Jawa membelikan motor baru seharga Rp 25 juta. Irwan sendiri tertegun, pikirnya motor miliknya saja masih kredit, namun ia bersyukur bisa menjadi perantara rezeki bagi orang lain.
Irwan Rewa Dg. Kompo (35), pengemudi ojol yang jadi harapan masyarakat prasejahtera. Foto: (Elmayanti/detikSulsel) |
Ada yang menyebut Irwan konten kreator, tapi pria itu menolak dilabeli demikian. Baginya, kamera hanyalah alat transparansi. Melalui video yang diunggahnya itu, donatur menaruh percaya padanya.
Tak selalu berjalan mulus, aksi Irwan mengunggah kondisi warga tak jarang membuat pemerintah setempat marah. Irwan bercerita pernah ditegur lurah dan camat. Pihak tersebut mengaku mendapat teguran dari gubernur setelah potret kemiskinan warganya muncul di media sosial.
Ia menanggapi tenang. Katanya, ia tak pernah berniat menjatuhkan siapa pun. Ia hanya ingin orang lain ikut membantu. Seiring waktu, pendekatannya berubah. Bahkan Gubernur pernah menitipkan donasi Rp 500 ribu untuk disalurkan kepada lansia yang ia angkat kisahnya.
"Ada hikmahnya," ujarnya singkat.
Berbagi Tenaga Saat Harta Tak Punya
Lahir sebagai anak sulung dan tumbuh besar dari keluarga sederhana di kawasan Jalan Abu Bakar Lambogo, Irwan tahu betul rasanya menjadi orang 'bawah'. Sepuluh tahun menjadi loper koran sebelum akhirnya beralih profesi menjadi ojol pada 2018, berhasil menempa Irwan menjadi pribadi yang peka terhadap kesulitan orang lain.
"Saya juga dari bawah. Kita rasakan itu susahnya bagaimana toh. Siapa tahu mungkin dengan ini saya bantu-bantu orang, saya juga nanti dibantu," kata Irwan dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.
Di awal, Irwan bergerak bersama rekan-rekan driver-nya. Namun tiga tahun terakhir, ia mulai berjalan sendiri. Ia memaklumi rekan-rekannya yang memilih fokus mencari rupiah.
Kini, di saat rekan sejawatnya mengejar orderan demi dapur rumah, Irwan justru sering mematikan aplikasinya demi mendatangi kontrakan lansia sebatang kara. Perbedaan pendapatan pun diakui oleh Irwan.
Jika bekerja penuh, rekan-rekannya bisa mengantongi Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu sehari. Irwan sendiri biasanya hanya membawa pulang Rp 150 ribu setelah berjaga hingga malam di Pelabuhan atau Terminal Daya yang sering menjadi titiknya. Meski begitu, Irwan tidak pernah merasa tertinggal.
"Ini kan jalanku," ujar Irwan tenang namun mantap.
Keluarga Irwan di rumah pun mendukung. Istrinya yang sedang hamil dan dua gadis kecilnya selalu bangga atas niat baik Irwan. Bagi keluarga kecil itu, berbagi tak harus menunggu diri bergelimang harta.
"Tidak menjamin orang kaya baru bisa berbagi. Saya berbagi tapi berbagi tenaga," katanya.
Di balik jaket ojol itu, Irwan bukan sekadar driver. Ia pengantar titipan kemanusiaan. Lelah tak jarang hinggap di bahu Irwan. Tapi pria itu yakin pada satu hal, doa mereka yang ia tolong akan membantunya di kemudian hari.
"Capek sih ada, tapi itu kalau kita datangi target terus dia bilang 'Terima kasih banyak, Pak.' Terus dia doakan mi. Siapa tahu nanti umur 50 atau 60 saya sakit, mungkin dengan doanya nenek yang saya bantu, banyak orang bantu saya juga," pungkasnya dengan mata berkaca.
Irwan percaya setiap doa yang melangit dari bibir orang-orang kecil yang ia bantu akan menjadi penopang ketika hidupnya kelak berada di titik paling rendah.
Di jalanan Makassar yang tak pernah benar-benar sunyi, setang motor Irwan terus melaju. Kadang mengantar makanan pelanggan, kadang mengantar harapan ke tangan-tangan yang membutuhkan.














































