Kapan Berakhir Derita Korban Banjir Kronis di Katimbang Makassar?

Kapan Berakhir Derita Korban Banjir Kronis di Katimbang Makassar?

Tim detikSulsel - detikSulsel
Selasa, 13 Jan 2026 06:00 WIB
Banjir menerjang Kelurahan Katimbang, Kecamatan Biringkanaya, Makassar.
Foto: Banjir menerjang Kelurahan Katimbang, Kecamatan Biringkanaya, Makassar. (dok. Istimewa)
Makassar -

Banjir yang melanda Kelurahan Katimbang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), belum sepenuhnya surut. Warga terdampak bencana kini menanti solusi agar banjir kronis yang terjadi tiap tahun bisa segera berakhir.

Permukiman di Kelurahan Katimbang terendam banjir imbas curah hujan yang tinggi pada Sabtu (10/1). Bencana alam ini membuat ratusan warga terpaksa mengamankan diri di sejumlah lokasi pengungsian.

"Adapun data pengungsi sementara sebagai berikut jumlah pengungsi 97 kepala keluarga (KK) dan jumlah jiwa 356 jiwa," kata Kepala BPBD Makassar Fadli Tahar dalam keterangannya, Minggu (11/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Warga belum berani kembali ke rumah sampai situasi dianggap normal. Masyarakat masih berada dalam ancaman banjir di tengah cuaca ekstrem.

"Curah hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan genangan dan dampak lanjutan di Kecamatan Biringkanaya, sehingga sebagian warga harus mengungsi ke lokasi yang lebih aman," imbuhnya.

ADVERTISEMENT

Banjir di sejumlah titik di Kelurahan Katimbang belum juga surut hingga Senin (12/1). Kantor Kelurahan Katimbang yang menjadi salah satu lokasi pengungsian masih menampung 61 pengungsi korban banjir.

"Sudah hampir tiga hari ini dengan ini (Senin), belum (ada pengungsi yang pulang ke rumah)," ungkap Plt Sekretaris Lurah Katimbang, Sudarmi Jumadi saat dikonfirmasi wartawan.

Sudarmi menuturkan, warga Kelurahan Katimbang yang terdampak banjir mengungsi di sekolah hingga masjid. Pengungsi terbanyak berada di SD Negeri Paccerakkang sebanyak 201 orang.

"SD Paccerakkang ada juga (pengungsi), di masjid beberapa. Yang di sini itu di kantor kelurahan 16 KK dengan 61 pengungsi," beber Sudarmi.

Bolak-balik Mengungsi gegara Banjir

Kondisi warga korban banjir yang mengungsi di kantor Kelurahan Katimbang, Makassar.Foto: Kondisi warga korban banjir yang mengungsi di kantor Kelurahan Katimbang, Makassar. (Nurul Hidaya/detikSulsel)

Warga bernama Naomiati termasuk salah satu korban banjir yang mengungsi di kantor Kelurahan Katimbang. Naomiati terbiasa dengan situasi ini setelah permukimannya di BTN Kodam III menjadi langganan banjir.

Dia mengaku sudah bolak-balik mengungsi selama 20 tahun terakhir tinggal di kawasan Kelurahan Katimbang. Naomiati kembali mengungsi bersama menantu dan cucunya sejak banjir terjadi Sabtu (10/1).

"Itu kalau daerah di situ setiap tahun (banjir), selama saya tinggal di Kodam sudah 20 tahun lebih. Setiap tahun, tiap-tiap tahun mengungsi, tidak pernah tidak," kata Naomi kepada detikSulsel, Senin (12/1).

Naomiati merasa tidak lagi kaget dengan banjir meski bencana tersebut tetap membawa keresahan. Dia hampir tidak lagi membeli fasilitas atau perabotan rumah tangga baru karena khawatir rusak terdampak banjir.

"Jangan mi dicerita, iye (rusak fasilitas rumah akibat banjir). Setiap tahun itu di rumah tidak pernah beli itu, beli ini, karena ditahu mi daerah ta' (rawan banjir)," keluhnya.

Warga BTN Kodam III, Kelurahan Katimbang, Makassar, mulai beraktivitas meski banjir belum sepenuhnya surut.Foto: Warga BTN Kodam III, Kelurahan Katimbang, Makassar, mulai beraktivitas meski banjir belum sepenuhnya surut. (Nurul Hidayah/detikSulsel)

Menurut dia, banjir di wilayahnya tidak separah tahun sebelumnya. Namun dia tidak ingin mengambil risiko sehingga tetap memutuskan mengungsi.

"Kemarin itu tingginya setinggi paha, (tetapi) tahun kemarin yang 2025 itu begini (menunjuk batas setinggi perut). Kalau di rumah itu setinggi dada karena di dalam dekat sungai," paparnya.

Dia mengungkap, banjir di Kelurahan Katimbang dipicu meluapnya air sungai yang berbatasan dengan Makassar-Maros. Luapan sungai terperangkap masuk ke permukiman karena tidak ada jalur air yang layak untuk dialirkan ke laut.

"Itu maksudnya sebenarnya solusinya (air dialirkan) ke laut, (jika) itu airnya ke laut, (maka) itu kita bebas banjir. Harapannya masyarakat di Kodam begitu (airnya langsung ke laut)," tambahnya.

Naomiati meyakini banjir di Katimbang bisa diatasi ketika ada jalur air yang representatif setiap kali sungai meluap. Situasi ini dianggap sudah diketahui pemerintah namun belum ada tanda-tanda ditangani secara komprehensif.

"Ceritanya kita ini tinggal di bagian pinggir sungai. Biar kita tinggal di pinggir sungai, tetapi kalau umpama cari solusi, pasti tidak banjir. Tapi kalau tidak ada cari solusi maka begitu (tetap banjir)," keluh Naomiati.

Sementara itu, warga bernama Darmiati mengaku mengungsi karena rumah tidak lagi kondusif. Rumahnya yang terendam banjir tidak bisa ditinggali meski tempat tidur sudah ditinggikan.

"Selalu mengungsi karena (banjir) na dapat mi tempat tidur. Kalau mau mi na dapat tempat tidur, kabur ma saya, tidak ada mi bisa ditempati," ucap Darmiati yang mengungsi di SD Paccerakkang Makassar.

Darmiati mengaku sempat memilih bertahan di rumah pada hari pertama banjir. Dia bersama suami dan seorang anaknya baru memutuskan mengungsi ketika air semakin meninggi pada hari kedua banjir.

"Pokoknya itu kalau musim hujan, khawatir meki kita itu. Kalau full mi itu got, dumba-dumba (panik) meki itu," tutur Darmiati.

Darmiati kini hanya bisa pasrah. Dia menyadari banjir bagian dari takdir Tuhan, namun dia masih berharap solusi pemerintah agar bencana ini bisa dicegah.

"Dinikmati saja, ka mau diapai, sudah begitu mi Allah yang mau. Semoga ke depannya bisa diperbaiki toh, tapi namanya musibah setidaknya bisa mencegah," harapnya.

Menanti Solusi Pemkot Makassar

Wali Kota Makassar Munafri 'Appi' Arifuddin sejak awal telah meninjau lokasi terdampak banjir di kelurahan Katimbang. Appi menduga banjir yang merendam permukiman dipicu meluapnya Sungai Biring Je'ne.

"Kalau kita melihat dan mendengarkan keterangan di lapangan, ini akibat air kiriman dari Sungai Biring Je'ne yang meluap," kata Appi usai meninjau banjir di Perumahan Kodam III, Kelurahan Katimbang, Sabtu (10/1).

Kondisi tersebut diperparah dengan terganggunya alur aliran air dari sungai menuju laut. Sungai Biring Je'ne yang berfungsi sebagai aliran air, berpotensi risiko memicu bencana jika tidak dikelola dengan baik.

Appi mengatakan pihaknya akan melakukan identifikasi terhadap jalur aliran air dari hulu ke titik pembuangan akhir. Pihaknya bakal menelusuri titik aliran air sungai yang mengalami penyempitan hingga memicu banjir.

"Ada beberapa titik yang harus kita lihat jalurnya, mulai dari ujung aliran, proses pembuangannya ke mana, lalu di mana yang tersumbat. Biasanya terjadi penyempitan atau ada wilayah resapan yang berubah menjadi kawasan pembangunan," terangnya.

Salah satu opsi yang akan dikaji adalah pembukaan atau penataan saluran alur air baru. Hal ini agar luapan sungai bisa dialirkan ke laut dan tidak lagi terperangkap di kawasan permukiman warga.

Appi menekankan pentingnya penanganan lintas sektor untuk membenahi jalur air Sungai Biring Je'ne. Pasalnya sungai tersebut berada di wilayah yang perbatasan dengan Makassar dan Maros.

"Mudah-mudahan dari hasil peninjauan ini kita bisa carikan jalan keluar dari persoalan banjir yang setiap tahun terjadi di tempat ini," pungkas Appi.

Halaman 2 dari 3
(sar/sar)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads