Kue Karasa Khas Bugis yang Unik dan Kaya Makna

Muhclis Abduh - detikSulsel
Senin, 12 Sep 2022 04:03 WIB
Kue Karasa khas Bugis.
Kue Karasa khas Bugis. (Foto: lipi.go.id)
Pinrang -

Kue Karasa merupakan salah satu makanan tradisional masyarakat Bugis yang hampir selalu ada saat upacara adat. Baik syukuran, pernikahan, hingga pesta panen.

Karasa memiliki bentuk yang unik seperti benang kusut. Teksturnya renyah dengan cita rasa manis gula merah yang khas.

Kue Karasa juga memiliki makna yang dalam bagi masyarakat Bugis. Bahkan makna filosofi yang terkandung dalam kue Karasa berbeda-beda sesuai dengan upacara adat yang dilaksanakan.


Peneliti Sastra Kuno dan Kuliner Bugis dari IAIN Parepare, Sari Hidayati menjelaskan, keberadaan Karasa ini memang sangat kental dengan budaya Bugis. Ini karena ada berbagai makna di dalam kue ini.

"Kuliner ini sama dengan kuliner tradisional Bugis lainnya yaitu sebagai doa," jelasnya.

Lebih lanjut Sari menjelaskan Kue Karasa memiliki resep yang diwariskan secara turun temurun oleh setiap keluarga di masyarakat Bugis. Meskipun saat ini pembuatannya sudah menggunakan alat modern namun tidak mengurangi bahkan menambah cita rasanya.

"Terlebih teknik pengolahannya sekarang yang lebih modern yang menambah cita rasanya dan kegurihannya," paparnya.

Makna Filosofi Kue Karasa

Karasa yang menjadi kue wajib dalam sajian sejumlah acara adat masyarakat suku Bugis. Di balik rasanya yang manis tersimpan makna dan doa bagi masyarakat yang menyelenggarakan hajatan.

Sari menjelaskan filosofi kue Karasa berbeda-beda, disesuaikan dengan upacara adat yang digelar. Namun, secara keseluruhan filosofinya dapat ditemukan melalui teknik pembuatan, bentuk dan nama kulinernya yang selanjutnya menjadi simbol kultural dalam masyarakat Bugis.

"Jika filosofi dari Karasa ini ingin dilihat, letaknya terdapat pada teknik pengolahan, bentuk dan namanya," jelasnya.

"Jika kue karasa dibuat pada acara mappanretemme yaitu khatam Al-Qur'an, filosofinya teknik memukul-mukul gagang tadi dapat sama nyaringnya dengan suara anak-anak yang baru khatam Al-Qur'an itu," jelasnya.

Jika Karasa dihadirkan pada acara pernikahan, filosofinya terdapat pada bentuknya yang menyerupai benang kusut. Kedua mempelai diharapkan dapat menyelesaikan segala masalah dan rintangan yang dihadapi saat mengarungi bahtera rumah tangga meskipun serumit benang kusut.

Sejarah Kue Karasa

Terkait kapan awal mula kue Karasa hadir dan menjadi bagian yang mengisi ritual keagamaan Bugis, Sari mengaku masih sulit untuk dipastikan. Ini karena tak ada catatan resmi mengenai kuliner khas Bugis ini.

"Perihal sejarah sesungguhnya tidak dapat dipastikan kapan kehadirannya," imbuhnya.

Hanya saja ia mengaku patokan yang bisa diambil kue ini sudah tergolong dalam kuliner tradisional. Ini berarti usia kehadiran kue ini sudah cukup lama.

"Kue tradisional berarti telah melewati 3 generasi atau lebih dari 75 tahun," jelasnya.

Selain itu Masyarakat Bugis telah meracik kue-kue tradisional sejak zaman kerajaan. Namun dengan teknik memasak yang dominan dibakar, atau direbus.

Sehingga diperkirakan Karasa sudah ada dari zaman kerajaan, namun menggunakan metode pengolahan yang berbeda.

"Terdapat kemungkinan kue ini telah ada namun dalam pengolahan yang berbeda, meninjau teknik memasaknya yang digoreng sedangkan dahulu dominan makanan dibakar, atau direbus," paparnya.

Dari sisi proses pembuatan, Sari menilai juga terjadi perubahan yang mendasar. Dahulu masyarakat menggunakan batok kelapa yang dilubangi kecil.

Adonan kue Karasa yaitu tepung beras yang telah dihaluskan dicampur air akan mengalir melalui lubang tersebut.

"Kalau sekarang alatnya sudah modern," jelasnya.

Cara Membuat Kue Karasa

Membuat kue Karasa pada dasarnya cukup mudah. Namun, butuh ketelitian dan keterampilan.

Sementara bahan baku yang digunakan tidak susah diperoleh. Jika ingin mencoba membuat kue Karasa sendiri, dapat mengikut resep berikut ini:

Bahan

  • Beras putih yang sudah digiling atau ditumbuk
  • Gula merah
  • Air
  • Minyak goreng

Cara Membuat

  1. Pertama, beras putih yang sudah digiling atau ditumbuk halus dicampur dengan gula merah dan air
  2. Kemudian aduk hingga encer dan rata.
  3. Setelah itu, adonan tersebut dimasukkan ke dalam batok kelapa yang dibentuk menyerupai timba (dengan pegangan) yang bagian bawahnya dilubangi sebagai tempat keluarnya adonan.
  4. Selanjutnya, adonan dituangkan ke dalam minyak kelapa yang sudah panas di atas wajan
  5. Dalam proses penggorengan, gula merah yang sudah dihaluskan ditaburkan di atas adonan tersebut
  6. Setelah adonan sudah tampak kecoklatan atau matang angkat dari wajan
  7. Kemudian lipat kue Karasa sebelum mengeras


Simak Video "Pelajar Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di Pinrang Usai Dibunuh Teman"
[Gambas:Video 20detik]
(urw/alk)