Filosofi Onde-onde, Kue Wajib Ritual Syukuran Bugis-Makassar Sejak Abad 13-14

Al Khoiriah Etiek Nugraha - detikSulsel
Rabu, 11 Mei 2022 18:15 WIB
Kue Onde-onde
Kue Onde-onde khas Bugis-Makassar. Foto: dok. detikSulsel
Makassar -

Onde-onde merupakan salah satu makanan tradisional masyarakat Bugis-Makassar yang wajib ada pada ritual syukuran. Kue tradisional ini juga disebut Umba-umba oleh masyarakat Bugis-Makassar dan sudah ada sejak abad 13-14.

Kue tradisional ini memiliki cita rasa yang nikmat. Isian serutan gula merah yang lumer memberikan rasa manis legit yang khas. Sementara adonan tepung beras dan parutan kelapa memberikan cita rasa gurih yang tipis. Perpaduan rasa ini cukup memanjakan lidah.

Meski begitu, kehadiran kue tradisional ini pada acara ritual syukuran masyarakat Bugis-Makassar bukan hanya karena rasanya yang nikmat. Tetapi tersimpan berbagai harapan dan doa melalui kue Onde-onde ini. Sehingga kerap dihadirkan dalam ritual-ritual adat.


Onde-onde juga menjadi kue wajib hadir dalam ritual syukuran di masyarakat Bugis Makassar. Seperti saat pindah ke rumah baru, atau telah membeli kendaraan baru, dan sebagainya.

Budayawan Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Firman Saleh mengatakan terdapat harapan dan doa dalam sajian Onde-onde khas Bugis Makassar. Sehingga kue ini wajib hadir dalam ritual syukuran ataupun acara adat.

"Jadi kue itu bukan dihadirkan saja di dalam sebuah ritual atau acara adat, tapi ada harapan dan doa," ungkap Firman kepada detikSulsel pada Selasa (10/5/2022)

Firman menjelaskan, Onde-onde terbuat dari tiga bahan dasar yakni gula merah, tepung beras dan kelapa. Masing-masing bahan tersebut menjadi simbol-simbol tertentu bagi masyarakat Bugis Makassar.

Gula merah disimbolkan sebagai kesukaan, tepung beras simbol dari kekuatan, dan kelapa sebagai simbol kenikmatan. Tiga bahan ini dianggap oleh masyarakat Bugis-Makassar sebagai bahan pokok dalam pembuatan makanan Bugis-Makassar.

"Berbicara simbol atau kesepakatan, bahwa gula itu simbol suka, Tepung beras, beras kan adalah salah satu makanan pokok. Dan dia menjadi simbol kekuatan. Kelapa itu simbol kenikmatan," jelasnya.

Doa dan Harapan Masyarakat Bugis-Makassar di Balik Kenikmatan Onde-onde

Kehadiran Onde-onde dalam sajian ritual syukuran maupun acara adat di masyarakat Bugis-Makassar menyimpan berbagai doa dan harapan. Di dalam manis dan legitnya Onde-onde, tersimpan harapan akan kekuatan, kenikmatan, dan disukai oleh orang lain.

"Onde-onde ini harus ada supaya yang membuat hajatan atau yang melaksanakan ritual atau tradisi maupun pesta adat, dengan adanya itu (Onde-onde) orang akan menyukainya, kemudian selalu ada kekuatan di dalamnya, kemudian selalu merasakan kenikmatan," jelas Firman.

Selain harapan yang tersimpan di dalam bahan-bahan yang digunakan, bentuk Onde-onde yang bulat juga menyimpan harapan tersendiri. Yakni menjadi simbol persatuan.

"Kenapa dia bulat, bukan segitiga atau segi empat, karena dia menjadi simbol persatuan. Jadi semuanya menyatu," tambah Firman.

Tidak hanya itu, Firman menambahkan bahwa sebutan lain dari Onde-onde, yakni Umba-umba, juga memiliki makna doa. Pada nama tersebut, tersimpan doa meminta kehidupan yang lebih meningkat.

"Onde-onde itu juga disebut juga Umba-umba, artinya muncul atau naik atau meningkat. Harapan atau doa supaya rezekinya bertambah, stratanya dapat ditingkatkan, atau jabatannya lebih meningkat bagi yang melaksanakan hajatan," tutur Firman.

Onde-onde Masuk dalam Deppa Pitu Rupa Sejarah Bugis-Makassar

Firman menjelaskan keberadaan Onde-onde di tengah masyarakat Bugis-Makassar jauh sebelum Islam masuk, atau sejak abad. Kue tradisional Bugis-Makassar ini bahkan masuk Deppa Pitu atau kue tujuh rupa dalam naskah sejarah Bugis-Makassar.

"Sebelum Islam masuk, masih Animisme, onde-onde itu sudah hadir. Karena diceritakan dalam naskah sejarah dia termasuk dalam deppa pitu," jelas Firman.

Sejarah kuliner masyarakat Bugis-Makassar dalam melakukan ritual menyajikan kue tujuh rupa. Hal itu terbawa pada ritual syukuran hingga saat ini. Kue-kue tersebut berbahan dasar yang hampir sama, yakni gula, tepung beras atau beras ketan, dan kelapa.

Firman mengatakan, awalnya, Onde-onde khas Bugis-Makassar ini berwarna putih. Namun, seiring berjalannya waktu banyak varian warna yang bermunculan. Warna hijau cukup populer saat ini.

"Awalnya itu putih karena itu bahan-bahan dari alam. Variannya itu ada warna hijau, merah. Tapi yang lazim itu warna hijau," pungkasnya.

Cara Membuat Onde-onde khas Bugis Makassar

Membuat Onde-onde khas Bugis-Makassar cukup simpel dan mudah sehingga bisa dicoba sendiri di rumah. Bahannya pun mudah diperoleh. Berikut cara membuatnya:

Bahan-bahan

200 gram tepung beras
100 gr tepung ketan
300 gram kelapa parut atau secukupnya
Secukupnya garam
150 gram gula aren atau secukupnya
1 gelas Air

Cara Membuat

1. Campurkan tepung beras dan tepung ketan kemudian ayak agar bersih. Aduk-aduk.

2. Kukus kelapa dan tambahkan sedikit garam. Sisihkan! Biarkan dingin.

3. Tambahkan air sedikit demi sedikit pada tepung, hingga mendapatkan adonan yang pas. Tidak lengket dan tidak terlalu lembek.

4. Didihkan air.

5. Air mulai mendidih, bentuk adonan tepung menjadi bulat kemudian telah bagian tengahnya. Setelah itu masukkan serutan gula merah kembali bentuk bulat.

6. Setelah itu, langsung cemplungkan ke air mendidih. Hal ini untuk menghindari bocornya gula di dalam adonan.
lakukan hingga adonan habis.

7. Ketika onde-onde sudah mengapung jangan langsung diambil. Biarkan dulu sekitar 5 menit untuk memastikan kematangan.

8. Siapkan wadah yang lebar (nampan) taburkan kelapa di atasnya.

9. Ambil onde-onde yang sudah matang dan langsung tuang di atas kelapa parut. Goyang-goyangkan nampan agar onde-onde tertutup kelapa secara sempurna. lakukan terus langkah sampai adonan habis.



Simak Video "Onde-onde Bo Liem Khas Mojokerto yang Jadi Incaran Pemudik"
[Gambas:Video 20detik]
(nvl/nvl)