Sebanyak lima anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB) menembak mobil polisi yang sedang patroli di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah. Para pelaku langsung melarikan diri masuk ke arah lereng usai melepaskan tembakan dari arah bukit.
"Kontak tembak terjadi setelah personel gabungan Polres Dogiyai dan BKO Brimob Yon A Polda Papua menemukan sekelompok KKB di Puncak Gunung Odedimi," ujar Kapolres Dogiyai AKBP Dennis Arya Putra kepada detikcom, Senin (24/8/2026).
Peristiwa itu terjadi di Kampung Ekimani, Distrik Kamu Utara, tepatnya di Pintu Angin Gunung Odedimi, Dogiyai pada Minggu (23/8) sekitar pukul 16.20 WIT. Salah satu pelaku diduga menggunakan senjata api jenis AK-47.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kelompok tersebut berjumlah sekitar 5 orang dan salah satunya diduga membawa senjata api jenis AK-47," kata Dennis.
Dennis menuturkan saat pertama kali ditemukan, KKB melarikan diri ke arah lereng gunung. Pada saat personel kembali melewati lokasi yang sama, kelompok tersebut kembali terlihat dan melepaskan tiga kali tembakan ke arah personel.
"Tindakan penembakan dilakukan ketika personel sedang melaksanakan perjalanan patroli dan bukan pada saat sedang melakukan pengejaran," bebernya.
Dia mengatakan tindak tersebut menunjukkan bahwa ancaman terhadap personel dapat terjadi secara tiba-tiba, terutama ketika melintasi wilayah yang sebelumnya telah diketahui terdapat anggota KKB.
"Setelah melakukan penembakan, kelompok KKB kembali melarikan diri ke arah lereng sehingga keberadaan mereka belum dapat dipastikan. Kondisi ini menyebabkan potensi gangguan masih tetap ada dan perlu diantisipasi," ucapnya.
Dia menambahkan bahwa personel sempat mendapati jalan yang dipalang di Kampung Ekemanida usai terlibat kontak tembak dengan KKB. Menurutnya, pemalangan jalan menunjukkan situasi masyarakat di sekitar wilayah tersebut masih sensitif setelah adanya gangguan keamanan.
"Secara keseluruhan, situasi keamanan di sekitar Pintu Angin Gunung Odedimi dan jalur yang dilalui personel masih perlu diwaspadai. Kontak tembak dan pemalangan yang terjadi dalam satu rangkaian perjalanan menunjukkan adanya potensi gangguan keamanan yang dapat muncul secara cepat dan tidak selalu dapat diprediksi dari awal," bebernya.
