Kementerian Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (KemenHAM RI) mengecam ulah Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang mengeksekusi mati 3 warga sipil di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Ketiga korban ditembak mati usai dituduh agen intelijen militer Indonesia.
"KemenHAM RI mengecam aksi penembakan terhadap warga sipil di Yahukimo sebagaimana video yang beredar luas. Tidak boleh ada pembunuhan di luar hukum terhadap warga sipil tak berdosa," kata Juru Bicara KemenHAM RI, Thomas Harming Suwarta dalam keterangannya dikutip, Minggu (26/7/2026).
Thomas menegaskan, penyelesaian konflik di Papua harus tetap mengedepankan penghormatan terhadap hak asasi manusia serta perlindungan terhadap warga sipil. Pihaknya mendorong seluruh pihak untuk dapat menahan diri sehingga tidak ada lagi jatuh korban warga sipil sebagai dampak konflik berlarut antara TNI/Polri dengan TPNPB-OPM.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di tengah eskalasi konflik yang terus meningkat di Papua belakangan ini, KemenHAM RI mendorong agar semua pihak menahan diri," tegas Thomas.
KemenHAM RI telah membangun komunikasi melalui Kantor Wilayah Kementerian HAM Papua Barat untuk menghimpun informasi mengenai peristiwa tersebut. Langkah ini dilakukan guna memperoleh gambaran yang utuh mengenai kondisi di lapangan.
Selain itu untuk memastikan seluruh pihak mengedepankan upaya deeskalasi agar tidak terjadi korban sipil tambahan akibat konflik yang berkepanjangan. Dia menegaskan perlindungan terhadap hak untuk hidup merupakan prinsip mendasar yang harus dihormati oleh seluruh pihak tanpa terkecuali.
"Siapa pun pihak agar menahan diri di tengah eskalasi konflik bersenjata yang terus meningkat. Apalagi, banyak jatuh korban warga sipil dan gelombang pengungsi yang terus terjadi," imbuh Thomas.
Diketahui, OPM mengeksekusi mati tiga warga sipil di sekitar Jalan Trans Papua, Distrik Seradala, Yahukimo, Senin (20/7). Ketiganya tewas ditembak oleh OPM pimpinan Kopitua Heluka.
"Korban terdiri dari sepasang suami istri, Kumis Kogoya beserta istrinya, serta seorang perempuan dari Suku Unaukam. Hingga saat ini, identitas lengkap dan kronologi kejadian masih dalam proses pendalaman oleh aparat yang berwenang," kata Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf. M. Wirya Arthadiguna, Kamis (23/7).
TNI telah mengevakuasi dua jenazah di sekitar Jalan Trans Papua, Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo, Kamis (23/7). Kedua jenazah merupakan pasangan suami istri. Personel sempat diserang OPM saat melakukan evakuasi.
"Pada saat tim evakuasi bergerak menuju lokasi jenazah, keberadaan OPM sempat terdeteksi dan terjadi kontak tembak dengan kelompok tersebut yang berada di sekitar area kejadian," kata Pangkoops TNI Habema Mayjen TNI Yudha Airlangga dalam keterangannya.
Kendati begitu, personel Koops TNI Habema tetap mengutamakan keselamatan seluruh anggota tim dan memastikan proses evakuasi dapat dilanjutkan. Setelah situasi berhasil dikendalikan dan dinyatakan aman, prajurit melanjutkan evakuasi.
"Personel Koops TNI Habema berhasil mengevakuasi dua jenazah korban untuk dibawa ke RSUD Dekai guna menjalani proses identifikasi sebelum diserahkan kepada pihak keluarga," ucap Yudha.
Sementara satu jenazah yang juga menjadi korban pembunuhan OPM, masih dalam pencarian. TNI masih melakukan penyisiran di lokasi.
"Sementara satu orang perempuan dari Suku Unaukam hingga saat ini masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan," imbuhnya.
