Perang Suku di Wamena Berakhir Damai Lewat Ritual Adat Patah Panah

Papua Pegunungan

Perang Suku di Wamena Berakhir Damai Lewat Ritual Adat Patah Panah

Syachrul Arsyad - detikSulsel
Minggu, 24 Mei 2026 12:00 WIB
Wamendagri Ribka Haluk mengawal proses perdamaian konflik suku di Wamena lewat ritual adat patah panah.
Foto: Wamendagri Ribka Haluk mengawal proses perdamaian konflik suku di Wamena lewat ritual adat patah panah. (dok. Istimewa)
Jayawijaya -

Perang suku di wilayah Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, berakhir damai. Proses perdamaian antara masyarakat Wouma-Kurima dan Lanny diselesaikan lewat ritual adat 'patah panah' yang dikawal pemerintah dan aparat hukum.

Prosesi perdamaian adat patah panah berlangsung di Mapolres Jayawijaya, Sabtu (23/5/2026). Kegiatan ini dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk, Gubernur Papua Pegunungan Jhon Tabo, Kapolda Papua Irjen Patrige R Renwarin, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang.

Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Jayawijaya, Herman Doga mengajak seluruh masyarakat untuk menghentikan perang saudara dan kembali memegang nilai-nilai kasih serta persaudaraan. Prosesi adat patah panah menjadi simbol komitmen menjaga perdamaian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Konflik ini adalah perang saudara. Kita semua berharap pertikaian ini dihentikan agar masyarakat adat tetap hidup dalam damai dan takut akan Tuhan," ujar Herman dalam keterangannya.

Dalam prosesi adat itu, perwakilan kedua kelompok berkomitmen mengakhiri perang lewat penandatanganan surat perdamaian dan kesepakatan komitmen. Selain menghentikan aksi kekerasan, kedua belah pihak siap menjaga persaudaraan, serta menyelesaikan persoalan melalui mekanisme hukum dan adat yang berlaku.

ADVERTISEMENT

"Kami ingin setelah proses adat ini selesai, masyarakat kembali dengan aman dan Kota Wamena kembali damai," tambah Ketua LMA Lanny Jaya, Tias U Kogoya.

Sementara itu, Kapolda Papua Irjen Patrige R Renwarin menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya perdamaian tersebut. Dia mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga komitmen damai yang telah disepakati bersama.

"Kami hadir untuk menyaksikan perdamaian yang sesungguhnya. Puji Tuhan semua berjalan dengan baik. Mari kita sama-sama menjaga kedamaian ini agar tidak ada lagi korban dan masyarakat dapat kembali hidup tenang," ujar Patrige.

Patrige juga menyampaikan belasungkawa kepada seluruh keluarga korban. Dia menegaskan Polri bersama pemerintah daerah akan terus hadir menjaga keamanan dan mendukung proses pemulihan pasca konflik.

Gubernur Papua Pegunungan, Jhon Tabo menegaskan penyelesaian konflik melalui jalur adat merupakan bentuk penghormatan terhadap budaya Papua. Dia menegaskan prosesi adat ini harus terus dijaga.

"Kita tidak ingin lagi ada perang yang merugikan masyarakat sendiri. Mari kita jaga Papua Pegunungan tetap aman, damai, dan penuh persaudaraan," ungkap Jhon Tabo.

Sementara Wamendagri, Ribka Haluk juga memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah membuka hati untuk berdamai demi masa depan Papua yang lebih baik. Dia mengajak masyarakat bersama-sama menjaga keamanan.

"Saya berharap seluruh masyarakat terus menjaga keamanan dan menyelesaikan setiap persoalan dengan melibatkan tokoh adat, tokoh agama, dan pemerintah sehingga pembangunan dapat berjalan dengan baik," imbuh Ribka.

Diketahui, bentrokan antarsuku awalnya terjadi di Distrik Woma, Jayawijaya pada Kamis (14/5) hingga meluas di sejumlah lokasi di Jayawijaya hingga Jumat (15/5). Sebanyak 13 warga dilaporkan meninggal, dan 19 orang luka-luka akibat perang kelompok tersebut.

"Untuk pengungsi total 789 orang dengan rincian 369 dewasa, 298 anak-anak, 122 lansia. Sementara jumlah berdasarkan jenis kelamin 315 pria dan 476 wanita," ungkap Kasi Humas Polres Jayawijaya, Ipda Efendi Al Husaini kepada detikcom, Minggu (16/5).



(sar/ata)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads