Sebanyak 10 orang pendulang emas di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, tewas dibunuh oleh anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM). Para korban dibacok bertubi-tubi menggunakan parang.
Pembunuhan itu terjadi di lokasi tambang emas wilayah Korowai, Yahukimo, Rabu (20/5). Sejumlah anggota OPM yang dipimpin oleh Dejang Heluka bersama Kopitua Heluka awalnya mengintai sejumlah pendulang sebelum melakukan serangan mendadak.
"Jadi mereka (OPM) itu melakukan penyergapan," ujar Kasi Penerangan Koops TNI Habema Kapten Sus Dewa Puspanegara saat dihubungi detikcom, Kamis (21/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Sus Dewa, para pendulang saat itu tersebar di sejumlah titik di area tambang. Ada yang sedang beristirahat dan ada pula yang tengah mendulang emas ketika serangan terjadi.
"(Para korban) ada yang sedang istirahat, ada yang sedang mendulang. Itu otomatis mereka berlarian, tidak di satu titik. Rata-rata tertangkap oleh OPM," ujar Sus Dewa.
Para korban sempat lari kocar-kacir untuk menyelamatkan diri. Namun mereka diburu dan akhirnya tertangkap, lalu dibacok menggunakan parang.
"Dari informasi dan video yang dikirim dari lapangan, rata-rata dibacok menggunakan parang di bagian kepala dan badan," jelasnya.
Awalnya, jumlah pendulang emas yang tewas dilaporkan berjumlah delapan orang. Namun berdasarkan informasi terbaru, jumlah korban tewas dipastikan bertambah menjadi 10 orang.
"Infonya sekarang nambah jadi 10 korbannya. Iya, meninggal semua," kata Kapten Sus Dewa.
OPM Sebut Aksi Pembunuhan sebagai Balas Dendam
Pimpinan OPM Dejang Heluka sempat membuat pernyataan lewat video usai membunuh para korban. Dalam video yang diterima detikcom, Dejang Heluka tampak berdiri di dekat salah satu jenazah korban sambil menyebut aksinya sebagai bentuk balas dendam atas kematian rekannya.
"Saya sudah bilang kemarin, kau ambil 2 nyawa, tapi saya akan lawan," ujar Dejang Heluka dalam rekaman video tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dua anggota OPM yang dimaksud ialah Yoper Payage dan Marten Heluka. Keduanya tewas dalam kontak tembak dengan aparat di Distrik Dekai, Yahukimo pada Sabtu (17/5) pekan lalu.
"Jadi ini pembalasan (kematian) Marten dengan Yoper. Selamat siang dan sekian," sambungnya.
Korban Dituduh Sebagai Aparat yang Menyamar
TNI mengungkap kelompok OPM juga menuding para korban sebagai aparat keamanan. Para korban dituding sedang menyamar di lokasi tambang emas.
"Kelompok tersebut menuding para korban sebagai aparat keamanan yang menyamar," ujar Kapen Koops TNI Habema Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna kepada wartawan, Kamis (21/5/2026).
Namun TNI membantah tudingan tersebut. Aparat menegaskan para korban merupakan warga sipil yang sedang melakukan aktivitas pendulangan emas.
"Bukan aparat keamanan seperti yang dituduhkan kelompok OPM Kodap XVI Yahukimo, melainkan warga sipil yang sedang melakukan aktivitas pendulangan emas di wilayah tersebut," katanya.
Evakuasi Besar-besaran
Aparat gabungan TNI-Polri saat ini disiagakan untuk mengevakuasi para korban dari lokasi kejadian. Evakuasi difokuskan melalui jalur udara mengingat lokasi berada di wilayah pedalaman yang sulit dijangkau.
"Saat ini, proses persiapan evakuasi terus dilakukan dengan dukungan personel gabungan dan armada heli guna menjangkau lokasi kejadian yang berada di wilayah pedalaman," ujar Letkol Wirya.
Selain itu, kata Wirya, TNI juga tengah menyiapkan langkah pengejaran terhadap para pelaku. Dia berharap para pelaku segera tertangkap.
"TNI akan melakukan pengejaran terhadap para pelaku serta terus meningkatkan keamanan di wilayah Yahukimo," jelasnya.
Identitas Korban Mulai Teridentifikasi
TNI menyebut lima dari 10 orang korban telah teridentifikasi melalui kartu tanda penduduk (KTP). Sementara identitas korban lainnya masih dalam proses pendataan.
"Baru lima yang teridentifikasi melalui KTP," ujar Kapten Sus Dewa.
Empat korban yang telah teridentifikasi diketahui berasal dari Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, yakni Alfrey Bagimu, Jans Garias Sasela, Jimmy Deivi Mawali, dan Yulianus Wamoi. Sementara satu korban lainnya, Biu Ne Palia, berasal dari Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan.
"Kelimanya Alfrey Bagimu, Biu Ne Palia, Jans Garias Sasela, Jimmy Deivi Mawali, dan Yulianus Wamoi," bebernya.
(hmw/hmw)











































