Empat karyawan perusahaan sawit PT Permata Putra Mandiri (PPM) dikeroyok pemabuk di Sorong Selatan (Sorsel), Papua Barat Daya. Insiden ini dipicu setelah korban menolak meminjamkan motor kepada salah satu pelaku.
"Dari informasi yang kami terima dari laporan dan penyelidikan dari lapangan terjadi pengeroyokan. Empat orang karyawan dilaporkan terluka," kata Kapolsek Kais, Ipda Abdul Rahman kepada detikcom, Sabtu (16/5/2026).
Pengeroyokan terjadi di barak perumahan karyawan tepatnya di Distrik Kais, Rabu (13/5) sekitar pukul 15.00 WIT. Satu karyawan terpaksa dirujuk ke Kota Sorong karena mengalami luka yang cukup parah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berawal beberapa mandor sedang melakukan aktivitas mempersiapkan peralatan untuk pekerjaan besok. Datanglah salah satu orang inisial RM ini dalam kondisi mabuk," katanya.
Pelaku RM kemudian ingin meminjam motor milik mandor, namun korban menolak. Pelaku pun ingin mengambil paksa sepeda motor sehingga terjadi adu mulut.
"RM ini tidak diberikan pinjam motor oleh mandor sehingga inisiatif memanggil teman-temannya untuk melakukan pengeroyokan," katanya.
Pada saat penyerangan, mandor dan teman berusaha untuk melindungi dirinya. Namun jumlah orang yang menyerang lebih banyak.
"Langkah-langkah penyelidikan dari pihak polisi telah dilakukan. Untuk untuk penyidikan otomatis langsung ditangani oleh pihak Polres Sorong Selatan," imbuhnya.
Sementara itu General Manager (GM) PT Permata Putra Mandiri, Gita Mustika mengatakan ada empat orang luka akibat kejadian itu. Keempat korban adalah: karyawan PT PPM berinisial DS selaku mandor; istri asisten kepala NP, istri mandor AP; dan anggota borongan inisial OB.
"Sejumlah fasilitas tempat tinggal karyawan sebanyak 18 unit dirusak. Kaca kendala dipecahkan. Peristiwa itu menimbulkan kepanikan para pekerja," kata Gita.
Gita melanjutkan, pihaknya bersama polisi melakukan evakuasi terhadap 179 karyawan ke tempat yang aman. Saat evakuasi, barak di blok B dalam keadaan kosong sehingga terjadi penjarahan.
"Fasilitas yang dijarah di antaranya kasur, alat masak handphone dan uang. Namun sampai sekarang masih dilakukan pengecekan," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Distrik Kais, Yulius Keba menegaskan peristiwa itu dilakukan oleh oknum yang diakibatkan dipengaruhi oleh minuman keras. Dia berharap agar peredaran miras segera diatasi.
"Ini dilakukan oleh oknum yang dalam keadaan dipengaruhi miras. Maka dari itu kita sudah mengumpulkan para tokoh adat, tokoh masyarakat untuk bersama-sama duduk bersama menyelesaikan masalah tersebut," tegasnya.
