Polisi kesulitan mengungkap kasus mahasiswi Universitas Negeri Manado (Unima) berinisial EMM yang tewas tergantung usai diduga dilecehkan dosen inisial DM di Sulawesi Utara (Sulut). Penyidik belum menetapkan tersangka dalam perkara ini meski kasusnya sudah naik tahap penyidikan.
"Jadi ini memang tidak mudah karena korban sudah tidak ada," kata Direktur Reserse Pelayanan Perempuan dan Anak/Pidana Perdagangan Orang (PPA/PPO) Polda Sulut, Kombes Noni Sengkey kepada wartawan, Selasa (10/3/2026).
Noni mengaku penyidik tidak lagi fokus menyelidiki persoalan korban tewas gantung diri. Pihaknya hanya mengusut dugaan korban mengalami kekerasan seksual.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menemukan ada banyak indikasi-indikasi yang mengarah kepada kekerasan seksual," imbuh Noni.
Pihaknya sudah mengumpulkan sejumlah bukti. Selain kekerasan seksual nonfisik, polisi juga mendalami korban diduga mengalami kekerasan secara fisik.
"Jadi kami tegaskan yang kita proses adalah kejahatan kekerasan seksual nonfisik dan juga dengan dugaan terjadi kekerasan fisik," tambah Noni.
Dia berharap agar semua pihak bersabar menunggu hasil penyidikan. Noni mengatakan penanganan kasus ini membutuhkan waktu.
"Beberapa barang bukti yang kami temukan dalam proses penyidikan ini ada titik terang yang mengarah kepada pasal-pasal," ucap Noni.
"Kami menunggu hasil dari keahlian psikologi forensik. Keterangan ini sangat membantu proses penyidikan kami ini," tambahnya.
Sebelumnya diberitakan, korban EMM ditemukan tewas tergantung di kosnya di Kecamatan Tomohon Tengah pada Selasa (30/12/2025). Korban meninggalkan surat yang ditujukan kepada Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Unima, Aldjon Dapa.
Surat itu berisi keterangan perihal pengaduan dugaan tindak pelecehan yang dilakukan oknum dosen DM. Polda Sulut belakangan menyebut korban murni bunuh diri berdasarkan hasil visum.
"Gantung diri berdasarkan ciri-ciri gantung diri itu adalah ciri-ciri dari gantung diri yang dialami oleh di tubuh korban yang kita dapatkan," kata Dirreskrimum Polda Sulut, Kombes Suryadi di Mapolda Sulut kepada wartawan, Senin (12/1).
Suryadi mengatakan korban mengalami depresi akibat persoalan keluarga, masalah dengan pacar hingga kehidupan kampus. Akumulasi dari persoalan tersebut yang membuat korban nekat bunuh diri.
"Kemungkinan gantung diri ini dilakukan karena korban ini depresi atas beberapa kejadian atau masalah yang dialaminya baik dari masalah keluarga, kemudian masalah dengan pacarnya dan masalah di kampus," bebernya.
Polisi juga menemukan catatan yang ditulis korban setahun lalu. Curhatan itu disampaikan korban lewat tulisan tangan yang ditujukan kepada keluarganya.
"Bahkan sudah berpesan ketika nanti datang ke kuburan saya kalau saya mati jangan memakai baju pink, jadi kalimat itu ada muncul di beberapa tulisan," ungkap Suryadi.
Kendati begitu, dugaan korban mengalami pelecehan ditegaskan akan tetap diusut. Dia berharap penyidik menemui titik terang dalam mengungkap kasus ini dalam waktu dekat.
"Ya tentunya itu (dugaan korban mengalami pelecehan) wajib kami ungkap, itu wajib kami ungkap," imbuhnya.
(sar/asm)











































