Permintaan Terakhir Bripda Dirja Sebelum Tewas Dianiaya Senior di Makassar

Permintaan Terakhir Bripda Dirja Sebelum Tewas Dianiaya Senior di Makassar

Tim detikSulsel - detikSulsel
Selasa, 24 Feb 2026 08:00 WIB
Anggota Ditsamapta Polda Sulsel Bripda Dirja Pratama (19) tewas dianiaya senior.
Foto: Anggota Ditsamapta Polda Sulsel Bripda Dirja Pratama (19) tewas dianiaya senior. (Muhclis Abduh/detikSulsel)
Makassar -

Nasib tragis menimpa anggota Ditsamapta Polda Sulawesi Selatan (Sulsel), Bripda Dirja Pratama (19) yang tewas dianiaya seniornya di Kota Makassar. Bripda Dirja ternyata sempat menghubungi ibunya untuk dibuatkan makanan yang menjadi permintaan terakhirnya.

Bripda Dirja diduga mengalami penganiayaan di Asrama Ditsamapta Polda Sulsel di Makassar pada Minggu (22/2) pagi. Kepergiannya menyisakan luka mendalam karena Bripda Dirja masih berkomunikasi dengan orang tuanya pada hari yang sama sebelum kematiannya.

Bripda Dirja menelepon ibunya yang berada di Kabupaten Pinrang selepas sahur. Lulusan pendidikan Bintara Polri 2025 tersebut meminta dibuatkan makanan olahan daging itik khas Pinrang bernama Palekko.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sempat dia (Bripda Dirja) mau makan itik Palekko," kata ayah korban, Aipda Muhammad Jabir yang juga personel Polres Pinrang itu kepada wartawan, Senin (23/2/2026).

Ayah Bripda J pun berangkat ke Makassar untuk mengantarkan langsung makanan yang dipesan anaknya. Dalam perjalanan, Aipda Jabir mendadak mendapat kabar duka lewat ponselnya.

ADVERTISEMENT

"Kami siap mengantar itik Palekko ke Makassar. Tapi di hari kejadian sekitar jam 7 atau 8 pagi dikabarkan meninggal," tuturnya.

Aipda Jabir mengaku heran mendengar kabar tersebut. Bripda Dirja sudah berada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Daya Makassar dalam kondisi meninggal dunia.

"Karena tadi subuh, (Bripda Dirja) komunikasi sama ibunya masih baik, tidak ada mengeluh sakit," beber Aipda Jabir.

Sesampainya di rumah sakit, Aipda Jabir merasa janggal dengan kematian anaknya. Dia menganggap anaknya meninggal diduga dianiaya karena mulutnya mengeluarkan darah.

"Itu yang kami pertanyakan (dugaan penganiayaan), karena ada darah keluar dari mulutnya," ungkapnya.

Jenazah Bripda Dirja pun dibawa ke RS Bhayangkara untuk diautopsi. Setelah itu, jasadnya diserahkan ke keluarga untuk dimakamkan di Pinrang pada Senin (23/2) siang.

"Dia (Bripda Dirja) baru lulus polisi. Ini almarhum tinggal di (asrama) Polda, di bagian belakang, di asrama," imbuh Aipda Jabir.

1 Senior Bripda Dirja Jadi Tersangka Penganiayaan

Ditkrimum dan Propam Polda Sulsel turun tangan melakukan penyelidikan hingga mengamankan 6 oknum polisi. Dari hasil pemeriksaan, satu orang di antaranya berinisial Bripda P ditetapkan sebagai tersangka kasus penganiayaan.

"Kita menetapkan tersangka atas nama P pangkat Bripda yang merupakan senior dari korban," ujar Kapolda Sulsel Irjen Djuhandhani Rahardjo Puro kepada wartawan di Mapolres Pinrang, Senin (23/2).

Oknum polisi itu ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan pemeriksaan terhadap tersangka dan sejumlah saksi. Hal ini diperkuat dari hasil visum yang menunjukkan adanya sejumlah luka lebam tanda penganiayaan di tubuh korban.

"Setelah kita melaksanakan upaya pemeriksaan oleh Biddokkes kita temukan beberapa yang lebam, kemudian kita yakini itu adalah penganiayaan," tuturnya.

Djuhandhani menegaskan oknum polisi yang terlibat tidak hanya diproses secara pidana. Pihaknya dalam waktu dekat akan memproses pelanggaran kode etik terhadap Bripda P.

"Kami akan transparan bahwa proses berjalan secara profesional dan dalam waktu dekat kepada anggota yang terlibat, kita akan melaksanakan proses secara etika," tegas Djuhandhani.

Dugaan Keterlibatan 5 Polisi Lain Masih Diusut

Djuhandhani belum merinci kronologi penganiayaan yang mengakibatkan Bripda Dirja meninggal. Dia mengaku ada upaya pengaburan fakta di balik kematian Bripda Dirja yang sempat disebut tewas akibat membenturkan kepalanya sendiri.

"Kami langsung mengecek kebenaran tersebut, secara scientific kami buktikan apa yang disampaikan oleh anggota yang menyampaikan dia membentur-benturkan kepala adalah tidak benar," tegas Djuhandhani.

Dia melanjutkan, kasus penganiayaan maut ini masih dalam penyelidikan. Penyidik tengah mendalami dugaan keterlibatan 5 polisi lainnya di balik kematian Bripda Dirja.

"Dari 5 ini adalah anggota semua, ada teman satu angkatan, kami hanya (memeriksa) berkaitan sebagai saksi dan keterlibatannya," ungkap Djuhandhani.

Djuhandhani kembali menyampaikan komitmennya mengusut tuntas kasus tersebut. Dia meminta masyarakat dan keluarga korban mempercayakan penanganan kasus ini ke Polda Sulsel.

"Untuk perkembangan kepada 5 orang lagi saat ini masih dalam proses pemeriksaan. Tentu saja dalam proses pemeriksaan itu kita memerlukan bukti-bukti baik secara material ataupun pembuktian lainnya," jelasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Diduga Jual 3 Anak, Pria di Makassar Laporkan Istrinya ke Polisi"
[Gambas:Video 20detik] (sar/sar)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads