Polres Bitung Bantah Tetapkan Tersangka KDRT Pakai Visum Bodong

Polres Bitung Bantah Tetapkan Tersangka KDRT Pakai Visum Bodong

Trisno Mais - detikSulsel
Kamis, 13 Okt 2022 19:19 WIB
Pelapor Kapolres Bitung AKBP Alam Kusuma ke Propam Mabes Polri, Cecilia Audrey. (dok. Istimewa)
Foto: Pelapor Kapolres Bitung AKBP Alam Kusuma ke Propam Mabes Polri, Cecilia Audrey. (dok. Istimewa)
Bitung -

Kasat Reskrim Polres Bitung AKP Marselus Yugo Amboro angkat bicara terkait laporan warga, Cecilia Audrey ke Propam Polri terkaid dugaan menetapkan tersangka KDRT pakai visum bodong. Yugo menegaskan pihaknya sudah sesuai prosedur.

"(Bukan visum bodong) Tidak, karena semua sudah sesuai prosedur," kata Yugo saat dimintai konfirmasi detikcom, Kamis (13/10/2022).

Yugo menambahkan, pihak keluarga Cecilia telah melakukan upaya kasasi di Mahkamah Agung (MA), pada 14 Maret 2022 lalu.


"Saat ini informasi sedang kasasi mahkamah agung," ujarnya.

Meski demikian, Yugo tak mempersoalkan terkait dengan laporan keluarga ke Propam Mabes Polri. "Kalau melapor silakan saja, tapi kita sudah melakukan sesuai," tuturnya.

Terkait adanya perbedaan identitas korban KDRT dalam hasil visum, Yugo enggan berkomentar lebih jauh. Masalahnya pada saat itu ia belum bertugas di Polres Bitung.

"Jadi pas kejadian kan saya belum di sini, jadi terus terang saya belum pernah lihat soal itu," katanya.

Pelapor Jelaskan Dugaan Kapolres Tetapkan Tersangka Pakai Visum Bodong

Kapolres Bitung AKBP Alam Kusuma bersama 16 anggota Polda Sulawesi Utara (Sulut) dilaporkan ke Propam Mabes Polri atas dugaan menetapkan tersangka pelaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) Andre dengan hasil visum palsu alias bodong.

Pelapor kasus ini, Cecilia Audrey yang merupakan kakak dari Andre bersama ibu kandungnya, Elizabeth Memie pada Kamis (29/9) melapor ke Propam Mabes Polri di Jakarta. Laporan mereka teregistrasi dengan nomor laporan; SPSP2/5763/IX/2024/Bagyanduan. Laporan itu dibuat setelah selama 2,5 tahun kasus ini tidak ada kejelasan.

"Kami 2,5 tahun telah berjuang di Polsek Maesa, Polres Bitung dan Polda Sulawesi Utara untuk mengungkapkan kejahatan persekongkolan visum ini, namun sampai hari ini tidak dapat diungkapkan," kata Cecilia Audrey kepada detikcom di Manado, Rabu (12/10).

Cecilia menjelaskan, kasus ini berawal ketika Andre Irawan dilaporkan oleh mantan istrinya Landy Irene Rares dengan tudingan KDRT yang sudah terjadi sejak 2020 lalu di Kecamatan Maesa, Bitung, Sulut. Selanjutnya, Andre pada 30 Mei 2020 ditangkap di kediamannya di Jakarta Selatan.

"(Andre) dijadikan tersangka tanpa gelar perkara, ditangkap oknum-oknum Polisi Polres Bitung, Sulut pada hari Minggu, 30 Mei 2021 dengan surat perintah dengan dasar surat yang salah, di Jakarta Selatan. Ditangkap bagaikan teroris oleh oknum 8 polisi sebagian bertato," ujarnya.

Tak hanya itu, laporan polisi terkait KDRT pun diduga non prosedural, serta penangkapan dan hasil visum diduga janggal.

"Bagaimana seorang Kapolsek Maesa telah menjatuhkan ancaman hukuman sebelum adik saya diperiksa, tanpa adik saya dilibatkan dalam gelar perkara, tanpa dimintai keterangan," jelas dia.

Cecilia menyebut yang memberatkan adiknya adalah hasil visum yang dilayangkan Landy Irene Rares. Menurutnya tertulis dalam visum at repertum (VER), usia pelapor 44 tahun. Sementara kata dia, yang bersangkutan pada 20 Februari 2020 berusia 45 tahun.

Selanjutnya, kata Cecilia, bahwa tulisan di dalam dokumen visum tersebut ditulis menggunakan mesin ketik buram.

"Sejak awal kami mempertanyakan surat permohonan visum. Awalnya pihak Polsek Maesa menyampaikan tidak ada surat permohonan visum tapi 3 minggu lalu ternyata diketahui surat visum itu ada dengan mencantumkan beda identitas beda nama, dan tahun lahirnya tahun 1074 dan tidak ditujukan kepada rumah sakit terkait," jelasnya.

Kemudian hasil visum yang ditandatangani dr Tassya F Poputra menyebutkan bahwa penderita mengalami luka gores bagian dada atas dekat leher ukuran 3x0,1 cm.

Selanjutnya di pelipis kanan luka gores ukuran 0,9 x 1 cm, lengan bawah kanan luka gores ukuran 1,5x0,1 cm, dahi memar dan bengkak ukuran 4x4,5 cm. Lanjut Cecilia, untuk diagnosanya luka gores, memar dan bengkak.

Tambah Cecilia pada kesimpulan dituliskan keadaan tersebut dapat disebabkan oleh rudapaksa benda tajam.

"Kalau di BAP jika dibaca sangat tidak masuk akal, di sini tertulis luka gores 0,9 x 1 cm. Kalau dilihat dari visum kan tidak bisa ada angka. Di mana narasinya disebutkan keadaan tersebut disebabkan rudapaksa benda tajam. Benda tajam mana yang mana bisa menyebabkan sekedar luka gores," tuturnya.

Kendati demikian ia mengaku hingga kini pihaknya masih melakukan upaya hukum untuk membuktikan bahwa visum tersebut bentuk persengkongkolan atau bodong.

"Kami bertanya-tanya bagaimana kami bisa membuktikan visum ini sebagai persengkongkolan yang melibatkan pelapor, oknum Polsek Maesa, Polres Bitung, oknum dokter dan Rumah Sakit, dan tidak bisa diungkapkan Polda Sulut.

Dia pun mengungkap pihaknya telah melayangkan surat kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk memproses dugaan obstruction of justice yang dialami adiknya.



Simak Video "2 Oknum Polisi di Sulut Terlibat Kasus Pemerasan, Korban Rugi Rp 725 Juta!"
[Gambas:Video 20detik]
(nvl/nvl)