Melihat Ma'doda, Tradisi Memasak Pererat Persaudaraan Warga Riso Polman

Sulawesi Barat

Melihat Ma'doda, Tradisi Memasak Pererat Persaudaraan Warga Riso Polman

Abdy Febriady - detikSulsel
Sabtu, 05 Sep 2026 12:30 WIB
Tradisi Madoda di Polewali Mandar (Polman).
Foto: Tradisi Ma'doda di Polewali Mandar (Polman). (Abdy Febriady/detikSulsel)
Polewali Mandar -

Masyarakat di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), memiliki beragam tradisi sebagai ajang silaturahmi antar warga dan wujud syukur kepada Sang Pencipta. Salah satu tradisi yang masih terjaga adalah ma'doda yang kerap dihadirkan saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Ma'doda merupakan tradisi memasak nasi berbahan beras ketan menggunakan wadah dari bambu. Kuliner dengan cita rasa khas yang dihasilkan dari tradisi ini dikenal dengan nama doda'.

Desa Riso di Kecamatan Tapango adalah salah satu wilayah yang masyarakatnya masih antusias melaksanakan tradisi warisan leluhur ini. Betapa tidak, hampir semua warga di daerah ini melaksanakan tradisi ma'doda setiap perayaan maulid.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi masyarakat setempat, kegiatan tersebut bukan sekadar memasak makanan secara bersama-sama. Ma'doda juga menjadi momentum untuk berkumpul, berbagi, dan mempererat hubungan antarwarga.

"Selain untuk memeriahkan peringatan maulid, ma'doda ini merupakan wujud rasa syukur warga kepada sang pencipta dan harapan semoga rezeki kita semakin bertambah," kata Kepala Desa Riso, Onang kepada detikcom, Jumat (4/9/2026).

ADVERTISEMENT

Tradisi Ma'doda di Polewali Mandar (Polman).Ma'doda merupakan tradisi memasak nasi berbahan beras ketan menggunakan wadah dari bambu. (Abdy Febriady/detikSulsel)

Doda' merupakan kuliner khas yang terbuat dari beras ketan dicampur santan kelapa dan sedikit garam. Ketiga bahan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam bambu untuk dimasak hingga matang.

Proses pembuatan doda' cukup sederhana. Pertama-tama, bagian dalam bambu sepanjang lebih kurang 60 centimeter diberi lapisan daun pisang. Selain untuk memberi cita rasa khas, lapisan tersebut berfungsi menjaga adonan ketan agar tidak bersentuhan langsung dengan bagian dalam bambu.

Setelah itu, masukkan beras ketan yang telah dibersihkan, kemudian tuangkan santan kelapa yang telah diberi sedikit garam. Hal ini agar ketiga bahan tersebut tidak tumpah, ruas bambu lalu ditutup menggunakan sabut kelapa.

Selanjutnya, ruas bambu dipanggang di atas bara api selama lebih kurang 30 menit. Bambu disusun sedemikian rupa di atas bara dan sesekali diputar agar panas merata. Dari proses inilah beras ketan dan santan perlahan berubah menjadi doda' yang siap disantap.

Tradisi Ma'doda di Polewali Mandar (Polman).Ma'doda ini merupakan wujud rasa syukur warga kepada sang pencipta dan harapan rezeki bertambah. (Abdy Febriady/detikSulsel)

Meski sekilas proses pembuatan doda' tampak sederhana. Namun, tradisi ini membutuhkan ketelitian, terutama dalam memilih bambu dan mengatur proses pemanggangan agar doda' matang sempurna tanpa membuat bambu terbakar.

Umumnya, proses memasukkan bahan ke dalam bambu dilakukan kaum wanita. Sedangkan proses pemanggangan bambu dilakukan para pria. Pembagian tugas tersebut menjadi bagian dari kebersamaan warga dalam menjalankan tradisi warisan leluhur yang dilakukan secara turun temurun.

"Kalau itu tradisi ma'doda sudah sejak dulu dilakukan, sejak ada nenek moyang kita, itu dilakukan secara turun temurun," ungkap Onang.

Onang mengatakan, awalnya doda' dibuat sebagai sajian untuk keluarga maupun sesama warga di daerah ini. Namun seiring berjalannya waktu, doda' dibuat untuk dihidangkan dan diberikan kepada siapa saja yang berkunjung ke Desa Riso saat perayaan maulid.

Bahkan, tradisi ma'doda berkembang menjadi salah satu daya tarik Desa Riso. Setiap perayaan maulid, warga dari luar desa turut datang dan melihat langsung proses pembuatan doda' yang dilakukan masyarakat secara bersama-sama itu. Banyaknya jumlah warga yang berdatangan kerap membuat akses jalan menuju desa ini diwarnai kemacetan parah.

"Dulu kan belum banyak tamu dari luar, jadi kita buat doda' untuk kita tukar dengan tetangga, kita jamu saudara-saudara yang lain. Jadi setiap rumah pasti buat karena kita akan bertukar," beber Onang.

"Itu yang menjadi daya tarik, sehingga alhamdulillah setiap perayaan maulid banyak warga yang datang mau melihat tradisi ma'doda dan itu yang kita tetap pertahankan, kita lestarikan budaya-budaya dari orang-orang tua kita terdahulu," sambung Onang.

Menurut Onang, rata-rata setiap rumah di desa ini menyiapkan sedikitnya 25 kilogram beras ketan untuk dibuat doda'. Bahkan, tidak jarang ada warga yang menyiapkan hingga satu kuintal beras ketan untuk diolah menjadi doda'.

Tradisi Ma'doda di Polewali Mandar (Polman).Ma'doda bukan hanya menjadi bagian dari perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan bagi seluruh masyarakat Desa Riso. (Abdy Febriady/detikSulsel)

Rata-rata untuk setiap kilogram beras ketan bisa diolah menjadi tiga hingga empat doda', tergantung ukuran batang bambu yang digunakan.

"Dulu tidak banyak doda' yang dibuat, karena tamu tidak seberapa. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak tamu yang datang sehingga tuan rumah berusaha semaksimal mungkin untuk menyiapkan doda' sebanyak-banyaknya," tuturnya.

Onang melanjutkan, pelaksanaan tradisi ma'doda membutuhkan persiapan yang cukup panjang. Selain untuk mempersiapkan bahan seperti beras ketan dan kelapa, warga juga harus mencari kayu bakar serta bambu yang akan digunakan untuk membuat doda'.

Apalagi, bambu yang digunakan sebagai wadah memasak tidak boleh sembarangan. Masyarakat hanya menggunakan bambu tipis yang dikenal dengan nama Tallang. Jenis bambu tersebut dipilih karena memiliki karakter yang sesuai dan tidak mudah hangus ketika diletakkan di atas bara api saat memasak doda'.

"Persiapan kita minimal sepuluh hari, mulai dari siapkan bahan, ambil kayu, kelapa dan bambu. Karena bambunya tidak sembarangan kita pakai, harus yang mudah dan tipis agar tidak gampang terbakar, kalau orang sini bilangnya tallang," ucapnya.

Onang menuturkan, wujud toleransi antarumat beragama juga terlihat jelas dalam pelaksanaan tradisi ma'doda di desa ini. Sebab, tidak jarang warga yang berbeda agama turut terlibat dalam tradisi ma'doda.

Hal tersebut seolah menjadi bukti bahwa ma'doda bukan hanya menjadi bagian dari perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan bagi seluruh masyarakat Desa Riso tanpa melihat latar belakang keyakinan.

"Jadi bukan hanya dilakukan umat muslim, saudara-saudara kita yang berbeda keyakinan pasti turut serta membantu semua proses, mulai dari ambil bambu hingga proses membakar," papar Onang.

"Itu yang paling utama dan menjadi kesyukuran, karena semua kegiatan kita melibatkan semua warga, baik yang seagama maupun saudara-saudara kita yang berbeda keyakinan pasti turut serta membantu saat tradisi ini dilaksanakan," tegasnya.

Bagi masyarakat Desa Riso, mempertahankan tradisi ma'doda bukan sekedar menjaga warisan leluhur, namun juga merawat semangat kebersamaan yang tumbuh di tengah masyarakat. Tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa budaya tidak hanya hidup melalui makanan atau ritualnya, tetapi juga melalui orang-orang yang terus menjalankannya.

Onang berharap tradisi ini dapat terus dilestarikan secara turun-temurun. Apalagi, tradisi ini menjadi salah satu cara untuk menjalin silaturahmi antar warga, termasuk mereka yang berbeda agama.

"Itu yang paling utama, silaturahminya di situ luar biasa baik yang berbeda agama. Semua keluarga yang tinggal jauh kalau dengar mau ada maulid di Riso, pasti pulang kampung kalau ada kesempatan," pungkasnya.



(sar/asm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads