Sebanyak 12 tim guru SMA/MA dari enam provinsi di Sulawesi saling adu kompetensi pada babak semifinal Teacher Tech Championship (TTC) BCA 2026. Mereka didorong mengembangkan alat bantu pembelajaran berbasis teknologi yang berangkat dari persoalan di sekolah.
Babak semifinal tersebut berlangsung dalam rangkaian Teacher Innovator Bootcamp Bakti BCA pada 15-18 September 2026 di Hotel Santika, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Ke-12 tim yang terdiri dari 24 guru tersebut terpilih setelah menyisihkan ratusan peserta di tahap penyisihan.
Mentor TTC BCA 2026 Muhammad Fauzi mengatakan program ini menjadi ruang bagi para guru untuk mengembangkan inovasi berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Menurutnya, alat yang dibuat peserta juga diarahkan untuk mendukung penerapan pembelajaran mendalam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alat yang dibuat bisa membantu untuk menerapkan pembelajaran mendalam. Mendalam berarti menumbuhkan berkesadaran, menyenangkan," kata Fauzi kepada media di acara Bootcamp TTC BCA 2026, Kamis (17/9/2026).
Fauzi menjelaskan terdapat perbedaan konsep TTC tahun ini dibandingkan pelaksanaan pada 2025 lalu. Jika sebelumnya peserta menggunakan sejumlah perangkat yang telah disediakan, tahun ini para peserta merancang inovasi berdasarkan masalah kelas sendiri.
"Jadi, ini sekarang dibuat benar-benar (dari) masalah di kelasnya, mereka membuat gagasan kemudian mewujudkannya dalam sebuah alat inovasi bantu pembelajaran," ujarnya.
Ajang TTC BCA 2026 sendiri tercatat diikuti sekitar 357 tim terverifikasi dari berbagai wilayah di Sulawesi. Dari seluruh peserta, 12 tim terbaik melaju ke semifinal dan nantinya disaring menjadi enam finalis untuk berangkat ke Jakarta.
Sebelum penentuan finalis, ke-12 tim bakal mempresentasikan inovasinya pada tahap penjurian, Sabtu (19/9). Saat ini para peserta juga menjalani proses pengujian guna memastikan alat ciptaannya siap diuji.
"Hari ini kita melakukan testing karena nanti hari Sabtu diadakan penjurian. Jadi, dari testing itu, hari ini kita bisa tau kekurangan dari mereka apa atau apakah masih ada yang error (agar) bisa segera kita perbaiki," ucap Fauzi.
Lebih lanjut, Fauzi berharap para guru peserta dapat terus meningkatkan kapasitas dirinya secara mandiri setelah program usai. Ia berpesan agar semangat berinovasi ini terus dibagikan kepada rekan sejawat lainnya.
"Kami bersyukur bisa mendapatkan guru-guru yang hebat dan punya komitmen luar biasa untuk terus belajar dan mengembangkan inovasinya. Harapannya mereka bisa terus meng-upgrade dirinya secara mandiri, kemudian memperluas dampak dan manfaatnya kepada Bapak/Ibu guru yang lain," tuturnya.
Ragam Inovasi Pembelajaran Digital TTC 2026
Peserta TTC BCA 2026 menghadirkan beragam inovasi pembelajaran berbasis teknologi untuk menjawab kebutuhan di sekolah. Tiga di antaranya yakni KIMORA dari MAN 2 Makassar, SAVER-KIT dari SMA Negeri 2 Bitung, dan CanteenPlus dari SMAS Al-Azhar Mandiri Palu.
KIMORA atau Kimia Monitoring dan Reasoning AI dikembangkan untuk membantu pembelajaran kimia dengan mengukur sejumlah parameter, seperti suhu, pH, dan TDS. Nurhamida Yusuf selaku perwakilan MAN 2 Makassar mengatakan ide tersebut berawal dari kebutuhan siswa dalam memahami materi ketika praktikum secara lebih mudah.
"Ada siswa saya buta warna. Kalau buta warna kan dia tidak bisa membedakan, sementara kertas lakmus itu harus menempelkan warnanya di kertas indikator dan mencocokkan warnanya. Karena dia tidak bisa mencocokkan warna, dia tidak tahu berapa Ph nya," jelas Nurhamida sembari mendemonstrasikan aplikasi buatannya bersama rekannya, Chaerul Akbar.
KIMORA atau Kimia Monitoring dan Reasoning AI yang dikembangkan MAN 2 Makassar di TTC BCA 2026. Foto: Andi Sitti Nurfaisah/detikSulsel |
Sementara itu, ada pula inovasi SAVER-KIT yang dikembangkan Fredynandus dan Justin Rarase dari SMA Negeri 2 Bitung, Sulawesi Utara. Inovasi itu dibuatnya agar siswa memahami penggunaan energi listrik sekaligus mendorong efisiensi pemakaian listrik di ruang kelas.
"Di sekolah itu kebiasaan kadang kala kelas itu biarpun terang, lampunya (tetap) menyala. Sudah pernah dibuat inovasinya, kasi stiker di dekat saklar lampu, itu tetap kami lihat tidak ada perubahan, artinya cuma sedikit perubahannya," ujar Fredynandus.
"Buatlah kami inovasi seperti ini, nanti kita simulasi pertama kalau kita buat kayak kelas analog. Kita demonstrasikan ke anak-anak kalau seperti biasa kita nyalakan lampunya on off, apa yang terjadi. Nanti muncul perhitungannya, misalkan dia menyala 8 jam, berapa energi yang digunakan, daya yang dihasilkan, berapa hitungan biaya bulanannya," terangnya.
Berbeda dengan dua inovasi tersebut, peserta dari SMAS Al-Azhar Mandiri Palu memanfaatkan aktivitas kantin sekolah sebagai media pembelajaran. Mereka membuat inovasi bernama CanteenPlus untuk mengajarkan konsep matematika sekaligus literasi keuangan kepada siswa.
"Kita bikin CanteenPlus namanya, di mana CanteenPlus ini pembelajaran Matematika, terkhusus materi anuitas. Biasanya anuitas ini materinya ke anak-anak agak susah, agak abstrak, kurang dekat dengan keseharian. Jadi, kita coba cari hal yang dekat dengan keseharian mereka, yaitu kantin," jelas Moh Azhar Ayyub, peserta dari SMAS Al-Azhar Mandiri Palu.
"Siswa masuk ke website kami, nanti mereka akan menceritakan beberapa pengalamannya tentang mungkin pernah mencicil atau pernah membayar sesuatu dengan cara cicilan, kemudian mereka melakukan simulasi membeli di kantin," lanjut rekannya, Aswan.

