Banyak yang penasaran, tanggal 27 Oktober memperingati hari apa? Ternyata, di tanggal ini terdapat beberapa momen penting yang diperingati secara global.
Mengetahui peringatan di tanggal-tanggal tertentu seperti hari ini, 27 Oktober 2026, bukan sekadar menambah wawasan tetapi juga menjadi bentuk apresiasi terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa tersebut. Hal ini bisa menjadi pengingat bagi semua untuk terus menghormati sejarah, menjaga kedamaian, serta meningkatkan kesadaran sosial.
Nah, bagi detikers yang penasaran dan ingin tahu lebih dalam tentang apa saja hari peringatan di tanggal 27 Oktober 2026, berikut ini detikSulsel sajikan informasi lengkapnya. Simak ulasannya sampai tuntas ya!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hari Penerbangan Nasional
Tanggal 27 Oktober diperingati sebagai Hari Penerbangan Nasional di Indonesia. Melansir laman Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Penetapan Hari Penerbangan Nasional didasarkan pada peristiwa terbangnya pesawat bersimbol merah putih untuk yang pertama kali di Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan, pada tanggal 27 Oktober 1945.
Penerbangan pesawat bersejarah tersebut dilakukan oleh Agustinus Adisucipto menggunakan pesawat cureng dari Lapangan Udara Maguwo Yogyakarta (sekarang Lanud Adisucipto). Penerbangan dilakukan dengan mengitari langit sekitar Lanud Maguwo dan mendarat kembali di Lanud Maguwo.
Pesawat cureng tersebut merupakan pesawat buatan Jepang. Pesawat tersebut merupakan hasil rampasan saat tentara Indonesia menduduki Lanud Maguwo yang dikuasai tentara Jepang.
Pesawat-pesawat yang berada di Lanud Maguwo sebenarnya dalam kondisi rusak. Namun sebagian dapat diperbaiki oleh teknisi Indonesia yang kemudian dicat ulang dan diberi tanda berupa lingkaran berwarna merah dan putih menyerupai bendera Republik Indonesia, yang sekaligus menjadi simbol identitas pesawat milik Republik Indonesia.
Setelah diperbaiki, salah satu pesawat yang berkondisi paling baik akhirnya dapat diterbangkan oleh Adisucipto dalam peristiwa bersejarah tersebut.
Peristiwa terbangnya pesawat beridentitas merah putih untuk pertama kalinya setelah kemerdekaan ini berdampak besar bagi usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan membangkitkan rasa kebanggaan dan semakin meningkatkan rasa nasionalisme rakyat Indonesia. Apalagi saat itu bertepatan dengan sehari sebelum peringatan Hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1945.
Peristiwa ini mendorong semangat juang para tentara dan rakyat Indonesia untuk tetap mempertahankan kedaulatan Indonesia meskipun dengan fasilitas yang minim.
Saat ini Pesawat cureng tersebut telah direstorasi dan disimpan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala Yogyakarta guna mengenang jasa dan andil pesawat cureng dalam masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Hari Listrik Nasional
Tanggal 27 Oktober juga diperingati sebagai Hari Listrik Nasional di Indonesia. Peringatan Hari Listrik Nasional kini memasuki peringatan ke-81 tahun.
Melansir laman Kementerian ESDM, tonggak penetapan Hari Listrik Nasional merujuk pada pembentukan Djawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga pada 27 Oktober 1945. Pembentukan jawatan yang menangani listrik nasional itu sesuai dengan Penetapan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1945.
Kendati demikia, jika menilik sejarahnya, ketenagalistrikan di Indonesia telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Ketenagalistrikan di Indonesia dimulai pada akhir abad ke-19 di mana beberapa perusahaan Belanda membangun pembangkit tenaga listrik berdaya kecil untuk keperluan sendiri.
Pada waktu itu beberapa pabrik gula di pulau jawa membutuhkan tenaga listrik, untuk produksi maupun penerangan. Untuk membangkitkan tenaga listrik digunakan ampas batang tebu yang tersisa setelah airnya diambil untuk pembuatan gula.
Selain pabrik gula, berbagai perusahaan perkebunan, pelabuhan dan kereta api (trem) seperti Jakarta, Surabaya serta jalur kereta api Jakarta-Bogor juga telah lama menggunakan tenaga listrik.
Kelistrikan untuk kepentingan umum baru dimulai pada saat perusahaan swasta Belanda, NV Nederlands Indische Gas Maatschappij (NIGM) Jakarta, yang semula bergerak di bidang gas, memperluas usaha di bidang listrik untuk kepentingan umum.
Pada tahun 1927 Pemerintah Belanda mendirikan S' Landswaterkracht-bedrijven (Perusahaan Negara Tenaga Listrik). Perusahaan ini mengelola beberapa pembangkit listrik seperti PLTA Plengan, PLTA Lamajan, PLTA Bengkok-Dago, PLTA Ubrug dan PLTA Kracak, di Jawa Barat; PLTA Tes di Bengkulu, PLTA Tonsea Lama di Sulawesi Utara, dan pembangkit listrik tenaga uap PLTU Gambir di Jakarta.
Pada masa pendudukan Jepang, perusahaan listrik dan gas yang ada diambil alih oleh Jepang termasuk tenaga kerjanya. Kemudian, setelah proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, pemuda serta para tenaga kerja di perusahaan listrik dan gas bergerak mengambil alih perusahaan-perusahaan listrik dan gas yang dikuasai Jepang.
Aksi ambil alih terjadi di beberapa kota seperti Surabaya, PLTA Mendalan, Kediri, Mojokerto, Probolinggo, hingga Jakarta. Kemudian, dibentuk satuan laskar yang bertugas mempertahankan unit instalasi yang penting agar tidak dikuasai dan digunakan oleh musuh.
Setelah berhasil merebut perusahaan listrik dan gas dari tangan Jepang, bulan September 1945 para pemuda serta pegawai Listrik dan Gas menghadap pimpinan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang waktu itu diketuai oleh Mr Kasman Singodimedjo, untuk melaporkan hasil perjuangan mereka. Selanjutnya mereka menghadap Presiden Soekarno, untuk menyerahkan perusahaan-perusahaan listrik dan gas kepada Pemerintah Republik Indonesia.
Oleh Presiden Soekarno perusahaan itu diberi nama Djawatan Listrik dan Gas di bawah lingkungan Departemen Pekerjaan Umum dengan Penetapan Pemerintah nomor 1 tahun 1945 tertanggal 27 Oktober 1945.
Hari Warisan Audiovisual Sedunia
27 Oktober menandai peringatan Hari Warisan Audiovisual Sedunia atau World Day for Audiovisual Heritage. Peringatan global ini bertujuan untuk mengenang pengesahan Rekomendasi tentang Perlindungan dan Pelestarian Gambar Bergerak pada 1980 oleh Konferensi Umum UNESCO ke-21.
Peringatan ini menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat luas mengenai perlunya mengambil langkah-langkah mendesak serta mengakui pentingnya dokumen audiovisual.
Melansir laman resmi UNESCO, arsip audiovisual menceritakan kisah kehidupan dan budaya masyarakat dari seluruh dunia. Arsip tersebut merupakan warisan yang tak ternilai karena menjadi penegas ingatan kolektif sekaligus sumber pengetahuan yang berharga, mengingat isinya mencerminkan keragaman budaya, sosial, dan bahasa dalam masyarakat.
Melestarikan warisan ini serta memastikan agar tetap dapat diakses oleh masyarakat dan generasi mendatang merupakan tujuan penting bagi seluruh lembaga pengelola memori maupun masyarakat luas. Dengan tujuan tersebut, Arsip UNESCO meluncurkan proyek bertajuk "Digitalisasi Sejarah Bersama UNESCO".
Dengan demikian, peringatan ini juga juga menjadi kesempatan bagi negara-negara anggota UNESCO untuk mengevaluasi kinerja mereka dalam menerapkan Rekomendasi 2015 tentang Pelestarian dan Akses terhadap Warisan Dokumenter, Termasuk dalam Bentuk Digital.
Adapun pada peringatan tahun ini, UNESCO mengusung tema peringatan "Your Window to the World", yang artinya "Jendela Anda Menuju Dunia". Tema ini menyoroti peran penting warisan audiovisual dalam menghubungkan masyarakat di seluruh dunia serta membantu kita memahami satu sama lain.
