TEP Unhas Dampingi Warga Transmigrasi Fakfak Kembangkan Usaha

TEP Unhas Dampingi Warga Transmigrasi Fakfak Kembangkan Usaha

Tim detikSulsel - detikSulsel
Senin, 26 Okt 2026 21:51 WIB
Tim Ekspedisi Patriot Unhas mengembangkan kompetensi bisnis di Papua Barat melalui Project Based Learning, melibatkan 36 calon agen usaha lokal.
Foto: Tim Ekspedisi Patriot Unhas mengembangkan kompetensi bisnis di Papua Barat melalui Project Based Learning. (dok. istimewa)
Fakfak -

Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Kelompok 11 Universitas Hasanuddin (Unhas) melaksanakan Pengembangan kompetensi bisnis berbasis Project Based Learning (PBL) di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Kegiatan ini melibatkan 36 calon agen usaha lokal.

Para agen itu dikelompokkan ke dalam tim proyek yang terjun langsung ke lapangan, pada 28 September-12 Oktober 2026. Setelah mengikuti pelatihan 5 kompetensi bisnis, dilanjutkan dengan proses penerapan hasil pelatihan dengan pendekatan PBL ke 22 usaha lokal di Kampung Weri-Saharey.

Ketua TEP 11 Unhas, Hillman Wirawan mengatakan kegiatan PBL menjadi mekanisme belajar yang langsung terhubung dengan masalah nyata, bukan sekadar tugas pelatihan. Proses ini dilakukan dengan pendampingan (coaching) yang bertujuan untuk mengembangkan kompetensi yang telah didapatkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saat usaha-usaha lokal yang terlibat dalam kegiatan ini memperoleh pendampingan yang lebih terarah, mulai dari diagnosis masalah, perencanaan perbaikan, penguatan jejaring, hingga monitoring perkembangan usaha diharapkan mampu menciptakan ekosistem bisnis yang berkembang," kata Hillman dalam keterangannya, Senin (26/10/2026).

Hillman menuturkan PBL merupakan tahap kedua dalam pengembangan kompetensi bisnis yang dilaksanakan oleh TEP 11 Unhas. Langkah selanjutnya, calon agen usaha lokal akan mengikuti asesmen kompetensi berbasis portofolio, observasi lapangan, presentasi proyek, dan wawancara.

ADVERTISEMENT

"Transformasi transmigrasi kini diarahkan untuk membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui pengembangan industri berbasis potensi lokal, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Salah satu pemilik usaha lokal di bidang agroindustri, Jaharia Arbakala mengaku menemukan permasalahan pada usahanya setelah mengikuti PBL. Dia kekurangan alat dalam proses produksi roti.

"Pembuatan roti saya sedikit karena saya tidak mempunyai alat, hanya pinjam saja. Masih banyak biasanya warga yang mau beli tapi roti sudah habis, semua terbatas," beber Jaharia.



(hsr/hsr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads