Pemuda bernama Jumaidin (26) yang dinyatakan meninggal dunia akibat bencana di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) pada 2018 silam, ternyata masih hidup. Pemuda itu pun membuat gempar saat pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Tojo Una-una (Touna).
Setelah 8 tahun tanpa kabar, Jumaidin tiba-tiba datang ke Desa Bongka Makmur dan menemui keluarganya. Kemunculan Jumaidin membuat geger warga, termasuk kakaknya, Mahania (33).
"Dua minggu lalu memang dia pulang ke mari. Kami kaget karena dia kan sudah dinyatakan meninggal. Tapi sempat kita tidak percaya, terus kami tandai dari giginya," ujar Mahania kepada detikcom, Jumat (23/10/2026).
Mahania mengatakan saat bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi melanda Kota Palu 2018 silam, almarhum ayahnya sempat tiga kali bolak-balik mencari keberadaan Jumaidin. Namun, pencarian tak berbuah hasil hingga beredar kabar bahwa Jumaidin telah meninggal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah sempat bikin acara 40 harinya. Terus sisa-sisa bajunya yang masih ada di sini, torang (kami) sedekah-sedekahkan," katanya.
Mahania mengungkapkan saat itu ada saudaranya yang yakin Jumaidin masih hidup. Namun setelah bertahun-tahun, pihak keluarga tidak pernah mendapat kabar terkait keberadaan Jumaidin.
"Cuma ada perasaan dari kakak yang lain, kayaknya anak ini masih hidup, begitu. Tapi bagaimana lagi, kan sudah tidak pulang berapa tahun," ujarnya.
Dia menuturkan, pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Jumaidin saat pulang ke rumah adalah mencari keberadaan sang ayah. Keluarga pun tak sanggup membendung air mata mengingat sang ayah meninggal tiga tahun lalu.
"Sampai bapak saya sakit-sakitan dan akhirnya meninggal, jadi tidak sempat ketemu sama adik saya Juhaidi ini," katanya.
Jumaidin Alami Amnesia
Mahania mengatakan adiknya tidak pulang selama 8 tahun lantaran mengalami amnesia atau hilang ingatan akibat luka di kepala. Saat itu, adiknya dievakuasi dan dibawa ke Morowali untuk mendapatkan perawatan medis darurat.
"Karena tak membawa identitas dan tak mengingat asal-usulnya, warga yang merawat berinisiatif memasukkan Jumaidin ke Kartu Keluarga (KK) mereka serta membuatkan KTP baru," jelasnya.
Setelah kondisinya membaik dan sempat bekerja di Morowali, pada tahun 2023 Jumaidin memutuskan pindah ke Kota Palu untuk bekerja di tempat pengolahan kulit. Ingatanya perlahan pulih secara tidak sengaja.
"Dia lihat di TikTok seliweran ada foto Jembatan Bongka. Dia bilang 'Oh Bongka, kayaknya saya familiar sekali dengan nama ini'. Akhirnya dia browsing cari tahu sampai sakit kepalanya mengingat-ingat. Nah, baru dia ingat bapaknya dan dirinya ini siapa," kata Mahania.
Jumaidin akhirnya memberanikan diri menelusuri jalan pulang ke Kabupaten Tojo Una-Una dibantu rekan kerjanya. Meski sempat memutari wilayah Poso, Jumaidin akhirnya tiba di Desa Bongka Makmur.
"Pertama datang kami tandai dari giginya. Orang-orang memang lihat dia itu, memang itu adiknya kami. Karena kan banyak tanda kalau dia ini memang Juhaidi, torang PE (kami punya) adik, begitu. Terus, ada tandanya di tangannya," tuturnya.
Mahania memastikan, meski ingatan masa lalu adiknya belum pulih sempurna, Jumaidin saat ini dalam kondisi sehat tanpa kekurangan suatu apa pun.
"Alhamdulillah dia pulang dalam keadaan sehat. Sekarang dia sudah kembali bekerja di Palu, tapi dia janji nanti tetap mau pulang ke mari kalau ada hari libur," pungkasnya.
