Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober untuk mengenang peran ulama dan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Peringatan ini tidak hanya menjadi bentuk penghargaan terhadap perjuangan para santri, tetapi juga momentum untuk meneladani semangat kebangsaan yang diwariskan oleh generasi pendahulu.[1]
Lantas, bagaimana sejarah penetapan Hari Santri Nasional? Apa kaitannya dengan Resolusi Jihad? Simak berikut ini penjelasannya!
Sejarah Hari Santri Nasional
Penetapan Hari Santri berkaitan erat dengan Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Nahdlatul Ulama (NU) pada 22 Oktober 1945 di Surabaya. Resolusi tersebut menyerukan pentingnya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajahan yang kembali muncul setelah proklamasi kemerdekaan.[2]
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gagasan penetapan Hari Santri bermula dari usulan para santri Pondok Pesantren Babussalam, Malang, kepada Joko Widodo yang saat itu masih menjadi calon presiden pada 27 Juni 2014. Dalam perkembangannya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengusulkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri karena berkaitan dengan peristiwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945.[1]
Usulan tersebut kemudian ditetapkan secara resmi melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri. Keputusan yang ditandatangani pada 15 Oktober 2015 itu menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri.[3]
Latar Belakang Lahirnya Resolusi Jihad
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 tidak serta-merta mengakhiri ancaman terhadap kedaulatan bangsa. Setelah Jepang menyerah, pasukan Sekutu datang ke Indonesia untuk melucuti tentara Jepang dan mengurus tawanan perang. Kedatangan pasukan Sekutu yang disertai pihak Belanda melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA) menimbulkan kekhawatiran akan kembalinya kekuasaan kolonial.[5]
Menurut kesaksian Ki Setyo Oetomo Darmadi yang diberitakan NU Online, Presiden Soekarno pernah menemui KH Hasyim Asy'ari di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, untuk membahas situasi politik setelah kedatangan pasukan Sekutu yang turut membawa pihak Belanda. Kesaksian tersebut menyebut bahwa pertemuan itu berkaitan dengan pembahasan mengenai sikap umat Islam terhadap ancaman terhadap kemerdekaan Indonesia.[4]
Lahirnya Resolusi Jihad
Pada 21-22 Oktober 1945, digelar rapat besar wakil-wakil daerah atau konsul NU se-Jawa dan Madura di Surabaya. Rapat tersebut menghasilkan keputusan yang kemudian dikenal sebagai Resolusi Jihad. Resolusi ini menjadi seruan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kembalinya penjajahan.[2]
Secara garis besar, Resolusi Jihad memuat permohonan kepada pemerintah agar mengambil sikap dan tindakan nyata terhadap upaya yang membahayakan kemerdekaan, agama, dan negara Indonesia, terutama yang dilakukan Belanda dan kaki tangannya. Resolusi tersebut juga menyerukan kelanjutan perjuangan bersifat sabilillah demi tegaknya Republik Indonesia yang merdeka dan agama Islam.[2]
Peran Santri dalam Pertempuran 10 November 1945
Semangat perjuangan yang tertuang dalam Resolusi Jihad berkaitan dengan Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Peristiwa ini didahului oleh meningkatnya ketegangan antara rakyat Indonesia dan pasukan Sekutu, termasuk setelah tewasnya Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby pada 30 Oktober 1945 dan munculnya ultimatum Inggris. Dalam pertempuran tersebut, Laskar Hizbullah yang terdiri atas para pejuang berlatar belakang Islam turut berperan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.[5]
Peran Resolusi Jihad dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan menunjukkan keterkaitan antara seruan para ulama dan gerakan perlawanan rakyat. Resolusi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong mobilisasi perjuangan, meskipun Pertempuran 10 November juga dipengaruhi oleh kondisi politik dan militer saat itu.[5]
Peran Pesantren dalam Sejarah Perjuangan Bangsa
Pesantren bukan hanya menjadi lembaga pendidikan agama, tetapi juga memiliki peran dalam kehidupan sosial dan kebangsaan Indonesia. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kontribusi pesantren tidak terbatas pada pendidikan keagamaan, tetapi juga berkaitan dengan perkembangan masyarakat dan semangat nasionalisme.[6]
Peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober menjadi pengingat atas perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui semangat Resolusi Jihad. Lebih dari sekadar mengenang sejarah, Hari Santri juga menjadi momentum untuk meneladani semangat kebangsaan dan melanjutkan kontribusi pesantren dalam pembangunan bangsa.[1]
Sumber:
1. Laman NU Online 'Sejarah Hari Santri'
2. Laman NU Online 'Inilah Resolusi Jihad NU yang Kini Diperingati Hari Santri'
3. Database Peraturan BPK 'Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri'
4. Laman NU Online 'Bung Karno Temui Mbah Hasyim Sebelum 10 November 1945'
5. Jurnal Tamaddun: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam 'Laskar santri pejuang negeri: Rekam jejak Laskar Hizbullah dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya'
6. Al-Wijdan: Journal of Islamic Education Studies 'Eksistensi dan transformasi pesantren dalam membangun nasionalisme bangsa'
