Rumput laut cokelat atau Sargassum sp. yang selama ini kerap dianggap sebagai sampah pantai ternyata berpotensi diolah menjadi produk bermanfaat dan bernilai ekonomi. Melalui Program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa), tim Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN) dan Universitas Pattimura Ambon mengajak Karang Taruna Tanjung Kasuari, Kota Sorong, Papua Barat Daya, mengolah Sargassum sp. menjadi sabun cuci tangan.
Jenis rumput laut coklat tersebut banyak ditemukan di sepanjang pesisir, namun pemanfaatannya sebagai produk bernilai tambah selama ini belum optimal. Oleh karena itu, melalui pelatihan yang diselenggarakan pada 10 Oktober 2026, tim Kosabangsa mendampingi 16 anggota Karang Taruna mempraktikkan proses pembuatan sabun hingga menghasilkan empat varian produk.
Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam mengolah potensi lokal sekaligus memperkenalkan peluang pemanfaatan biomassa pesisir melalui pendekatan ekonomi sirkular.
Salah satu anggota Karang Taruna bernama Ima mengaku memperoleh pengetahuan baru melalui pelatihan tersebut. Ima mengaku sebelumnya tidak mengetahui bahwa Sargassum yang banyak ditemukan di pinggir pantai dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan sabun cuci tangan.
"Sebelum pelatihan ini, kami tidak tahu kalau Sargassum yang selama ini kami kira sampah di pinggiran pantai bisa dijadikan sabun cuci tangan. Ternyata proses pembuatannya juga cukup mudah. Setelah mengikuti kegiatan ini, kami ingin mencoba membuatnya sendiri," ungkap Ima.
Pengalaman tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi pemuda untuk mengenali dan mengembangkan potensi sumber daya pesisir di lingkungan mereka. Selain menambah keterampilan, pemanfaatan Sargassum juga membuka peluang pengembangan produk lokal apabila dapat dilanjutkan melalui pendampingan dan pengelolaan yang tepat.
Pelatihan Dirangkaian dengan Penanaman 2.000 Bibit Mangrove
Program Kosabangsa ini dirancang mengintegrasikan pemanfaatan potensi sumber daya lokal, rehabilitasi lingkungan, dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang mitigasi bencana pesisir. Selain pelatihan pembuatan sabun, pelatihan juga dirangkaian dengan penanaman 2.000 bibit mangrove untuk mendukung perlindungan kawasan pesisir.
Penanaman mangrove dilakukan di sejumlah titik pesisir Tanjung Kasuari yang mengalami abrasi. Sebelum penanaman, tim Kosabangsa memberikan edukasi mengenai mitigasi bencana pesisir, manfaat ekosistem mangrove, serta teknik penanaman dan pemeliharaan bibit.
Tim juga membagikan buku saku mitigasi bencana kepada anggota Karang Taruna. Buku tersebut diharapkan dapat menjadi media edukasi untuk memperkuat pengetahuan dan kesiapsiagaan pemuda dalam menghadapi risiko bencana di kawasan pesisir.
Bersama tim pelaksana dan pendamping, anggota Karang Taruna menanam sebanyak 2.000 bibit mangrove yang terdiri atas jenis Rhizophora mucronata dan Avicennia alba. Penanaman ini diarahkan untuk mendukung rehabilitasi kawasan pesisir sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya menjaga ekosistem pantai.
Mangrove memiliki peran ekologis dalam menjaga kawasan pesisir. Tanaman tersebut mampu membantu menahan sedimen, meredam energi gelombang pada kondisi tertentu, serta menyediakan habitat bagi berbagai organisme.
Namun, keberhasilan rehabilitasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga kesesuaian lokasi, kondisi lingkungan, dan pemeliharaan setelah penanaman. Karena itu, keterlibatan Karang Taruna diharapkan berlanjut pada perawatan dan pemantauan pertumbuhan bibit bersama masyarakat setempat.
Denis, selaku ketua Karang Taruna Tanjung Kasuari, menyampaikan bahwa abrasi menjadi persoalan di beberapa titik wilayah pesisir tempat mereka tinggal. Ia berharap penanaman mangrove dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan bibit yang ditanam tumbuh dengan baik.
"Memang ada beberapa titik di daerah kami yang mengalami abrasi akibat gelombang. Dengan penanaman mangrove ini, kami berharap masalah tersebut bisa diatasi dan bibit yang ditanam dapat hidup serta tumbuh dengan baik," ujar Denis.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan pemuda dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, program ini memberikan kesempatan bagi anggota Karang Taruna untuk berkontribusi secara langsung terhadap lingkungan tempat tinggal mereka.
"Kami berterima kasih karena sudah melibatkan kami sebagai anak muda. Semoga ke depannya kami bisa lebih produktif dan terus melakukan hal-hal positif untuk Tanjung Kasuari," tambahnya.
Perkuat Peran Pemuda Menuju Pesisir yang Tangguh
Rangkaian kegiatan Kosabangsa di Tanjung Kasuari menempatkan pemuda sebagai bagian penting dalam upaya membangun masyarakat pesisir yang lebih tangguh. Pelatihan pembuatan sabun memperkenalkan cara memanfaatkan sumber daya lokal, sedangkan penanaman mangrove dan pembagian buku saku memperkuat kepedulian lingkungan serta pemahaman mengenai mitigasi bencana.
Melalui kegiatan ini, Karang Taruna tidak hanya menjadi peserta pelatihan dan penanaman, tetapi juga diharapkan mampu berperan sebagai penggerak edukasi kebencanaan dan pelestarian lingkungan di tingkat kelurahan. Keberlanjutan program akan sangat bergantung pada penerapan keterampilan yang telah diperoleh, pemeliharaan bibit mangrove, serta keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah setempat, mahasiswa, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat upaya pemberdayaan pemuda sekaligus mendorong pemanfaatan potensi pesisir secara bertanggung jawab. Dengan demikian, kegiatan Kosabangsa di Tanjung Kasuari menjadi salah satu langkah untuk menumbuhkan masyarakat yang lebih peduli lingkungan, produktif, dan siap menghadapi tantangan di kawasan pesisir.
Simak Video "Video: Griezmann Cetak Brace Saat Orlando City Taklukkan DC United"
(urw/alk)