Waspada, Insomnia Bisa Tingkatkan Risiko Stroke hingga 26 Persen!

Waspada, Insomnia Bisa Tingkatkan Risiko Stroke hingga 26 Persen!

Tim detikHealth - detikSulsel
Kamis, 15 Okt 2026 21:00 WIB
asian woman in bed late trying to sleep suffering insomnia, sleepless or scared in a nightmare, looking sad worried and stressed. Tired and headache or migraine waking up in the middle of the night.
Ilustrasi insomnia (Foto: Getty Images/Nuttawan Jayawan)
Jakarta -

Seseorang yang mengalami insomnia seringkali mengalami kelelahan akibat kurang tidur. Kondisi tersebut tidak hanya membuat aktivitas sehari-hari jadi lebih sulit dijalani, namun juga berpotensi menimbulkan dampak yang lebih serius bagi kesehatan.

Dilansir dari detikHealth, sebuah penelitian yang diterbitkan pada September 2026, menemukan bahwa kondisi gangguan tidur tersebut berpotensi meningkatkan risiko stroke. Tinjauan penelitian yang diterbitkan pada jurnal Sleep Medicine Reviews tersebut menganalisis enam studi sebelumnya dengan total 1,3 juta partisipan.

Studi tersebut membahas berbagai faktor risiko stroke, cedera akibat pekerjaan, dan rawat inap di rumah sakit. Hasil analisis menunjukkan bahwa orang dengan gangguan insomnia memiliki risiko stroke 26 persen lebih tinggi dibanding mereka yang tidak mengalami gangguan tidur tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, meta-analisis dari lima studi yang mengevaluasi penerimaan rawat inap menemukan bahwa orang dengan insomnia memiliki kemungkinan 28 persen lebih tinggi dirawat di rumah sakit.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan pada 2023, juga menemukan hubungan antara insomnia dan stroke. Hasil analisis terhadap 31.126 orang dewasa yang diterbitkan dalam jurnal Neurology, menyimpulkan bahwa mereka yang melaporkan gejala insomnia lebih mungkin mengalami stroke selama masa tindak lanjut sembilan tahun. Hubungan tersebut bahkan terlihat lebih kuat pada orang dewasa berusia di bawah 50 tahun.

ADVERTISEMENT

Insomnia Dapat Memicu Perubahan dalam Tubuh

Ahli Neurologi sekaligus Kepala Divisi Gangguan Tidur di Vanderblit Health, Beth Malow, mengatakan bahwa tidur memengaruhi berbagai aspek kesehatan dan kesejahteraan sehingga perlu diperhatikan secara serius. Menurut Mallow, gangguan tidur dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan yang berujung pada stroke.

"Gangguan tidur berkontribusi terhadap peradangan, peningkatan pembekuan darah, dan faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan stroke," sambungnya.

Sementara itu, ahli bedah vaskular Christopher Yi menjelaskan bahwa kurang tidur dapat meningkatkan pelepasan hormon stres kortisol dalam tubuh. Seiring waktu, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah dan detak jantung, serta memicu perubahan lainnya.

"Perubahan ini dapat memicu penumpukan plak di arteri dan berpotensi meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke," kata Yi.

Insomnia Juga Berkaitan dengan Faktor Risiko Stroke Lainnya

Selain memengaruhi tekanan darah dan detak jantung, insomnia dapat berdampak negatif terhadap metabolisme tubuh. Menurut Christopher Yi, kondisi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan kenaikan berat badan, diabetes, dan kolesterol tinggi yang ketiganya merupakan faktor risiko stroke.

Namun, hubungan antara insomnia dan stroke mungkin bersifat dua arah. Kemungkinan hubungan dua arah ini berarti insomnia dapat meningkatkan risiko stroke, sebaliknya stroke juga dapat memengaruhi kondisi tidur seseorang.

"Orang yang memiliki kecenderungan mengalami stroke sangat rentan mengalami insomnia atau kondisi yang mengganggu kualitas dan keteraturan tidur," katanya. kata Yi.

"Sebaliknya, insomnia juga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan stroke, terutama karena istilah 'insomnia' sering kali memiliki definisi yang kurang jelas dan hampir menjadi pengganti istilah 'tidur yang buruk'."



(urw/urw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads