Tanggal 11 Oktober 2026 Memperingati Apa? Ada 3 Momen Penting

Tanggal 11 Oktober 2026 Memperingati Apa? Ada 3 Momen Penting

Iswandy Rusli - detikSulsel
Minggu, 11 Okt 2026 07:30 WIB
Kalender Oktober 2026
Foto: dok. detiksulsel
Makassar -

Tidak jarang, tanggal-tanggal tertentu memiliki nilai historis atau sosial yang diperingati secara nasional maupun internasional. Lantas tanggal 11 Oktober 2026 memperingati apa?

Tanggal 11 Oktober 2026 jatuh pada hari Minggu. Di hari ini tidak ada momen penting yang diperingati di Indonesia.

Meski demikian, terdapat peringatan nasional di negara lainnya. Selain itu ada juga momen yang diperingati secara global.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penasaran dengan momen yang diperingati setiap 11 Oktober?

Nah, dalam artikel ini detikSulsel menyajikan daftar peringatan yang jatuh pada 11 Oktober, lengkap dengan ulasannya. Yuk simak selengkapnya untuk memahami makna dan pesan yang terkandung di balik tanggal tersebut.

ADVERTISEMENT

Hari Anak Perempuan Internasional

Hari Anak Perempuan Internasional atau International Day of the Girl Child diperingati secara global setiap 11 Oktober. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan hari peringatan ini pada 19 Desember 2011, melalui Resolusi 66/170.

Melansir laman resmi PBB, hari peringatan ini bertujuan untuk mengakui hak-hak anak perempuan dan tantangan unik yang mereka hadapi di seluruh dunia. Peringatan Hari Anak Perempuan Internasional mendorong kesadaran bersama terhadap berbagai tantangan yang dihadapi anak perempuan.

Penetapan hari peringatan ini dilatarbelakangi posisi anak perempuan yang dihadapkan dan dipaksa untuk terus mendobrak batasan yang ditimbulkan oleh stereotip serta pengucilan, termasuk yang menyasar anak-anak penyandang disabilitas dan mereka yang tinggal di komunitas marginal.

Anak perempuan usia remaja berhak menjalani kehidupan yang aman, memperoleh pendidikan, dan memiliki kesehatan yang baik. Tidak hanya di masa anak-anak tetapi juga ketika mereka tumbuh menjadi perempuan dewasa.

Jika mendapatkan dukungan yang efektif selama masa remaja, anak perempuan berpotensi mengubah dunia, baik sebagai generasi anak perempuan yang berdaya saat ini maupun sebagai pekerja, ibu, pengusaha, mentor, kepala rumah tangga, dan pemimpin politik pada masa depan.

Pada peringatan tahun ini, PBB mengusung tema "End Child Marriage and Invest in Girls' Rights" yang artinya "akhiri perkawinan anak dan berinvestasi dalam pemenuhan hak-hak anak perempuan". Tema tahun ini dikembangkan melalui konsultasi dengan anak perempuan, organisasi anak perempuan, jaringan yang dipimpin oleh anak perempuan, serta organisasi masyarakat sipil dan mitra PBB.

Tema ini mendorong kesadaran bahwa setiap anak perempuan berhak menikmati masa kanak-kanak. Setiap anak perempuan berhak memiliki kebebasan untuk belajar, tumbuh, menentukan pilihannya sendiri, dan merancang masa depannya.

Berdasarkan data PBB, jutaan anak perempuan masih kehilangan kebebasan tersebut. Setiap tahun, lebih dari 12 juta anak perempuan-atau sekitar satu anak perempuan setiap tiga detik-menikah sebelum mencapai usia dewasa.

Kondisi ini bukanlah sesuatu yang tidak dapat diubah. Berkat investasi dalam pendidikan anak perempuan, reformasi hukum, dan perlindungan sosial, diperkirakan 68 juta kasus perkawinan anak telah berhasil dicegah selama 25 tahun terakhir. Hal ini membuktikan bahwa kemajuan dapat dicapai ketika anak perempuan mendapatkan dukungan dan hak-hak mereka dilindungi.

Minggu Putih

Minggu Putih (White Sunday) yang juga dikenal sebagai Lotu Tamaiti, merupakan peringatan untuk menghormati anak-anak. Hari ini dirayakan setiap setiap Minggu kedua bulan Oktober di Samoa, sebuah negara kepulauan di Samudra Pasifik bagian selatan.

Melansir laman National Today, terdapat berbagai teori mengenai asal-usul Minggu Putih. Kendati demikia, peringatan ini secara luas diyakini dipopulerkan oleh para misionaris Kristen yang tiba di Samoa pada abad ke-19.

Minggu Putih pertama kali diperingati pada Juni 1898, ketika London Missionary Society menyepakati pembentukan hari Minggu khusus untuk anak-anak dalam konferensi tahunan mereka pada Juni tahun tersebut.

Beberapa tahun kemudian, dalam Konferensi Sekolah Minggu Internasional di Roma pada Februari 1909, diputuskan bahwa Minggu ketiga bulan Oktober akan ditetapkan sebagai Hari Minggu Anak Internasional. Sehingga peringatan Minggu Putih di Samoa dipindahkan dari Juni ke Minggu ketiga bulan Oktober.

Penetapan tanggal ini tidak berlangsung lama dan akhirnya dipindahkan ke Minggu kedua bulan Oktober agar bertepatan dengan Hari Ibu dan Hari Ayah, yang masing-masing diperingati pada Minggu kedua bulan Mei dan Agustus.

Minggu Putih merupakan perayaan yang menarik di Samoa karena terdapat berbagai versi mengenai awal mula peringatannya di negara tersebut. Sebagian orang meyakini bahwa perayaan ini merupakan bentuk adopsi Kristen terhadap festival masyarakat adat yang telah ada sebelum kontak dengan bangsa kolonial, yang berkaitan dengan musim tanam dan panen tertentu.

Sementara itu, pihak lain meyakini bahwa peringatan ini dimaksudkan untuk mengenang pandemi influenza 1918 yang menewaskan hampir seperlima populasi Samoa, banyak di antaranya adalah anak-anak.

Pada 1998, peringatan Minggu Putih diperluas dari Samoa dan menjadi hari libur nasional di enam wilayah lainnya. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Amerika Serikat, Hawaii, Selandia Baru, Australia, dan Samoa Amerika.

Saat ini, seluruh gereja Kristen di Samoa memperingati dan merayakan Minggu Putih. Pada hari tersebut, sebagian besar anak dibaptis di jemaat-jemaat tertentu di seluruh Samoa. Selain itu, pada hari ini setiap keluarga mendandani anak-anak mereka dengan pakaian putih, menikmati hidangan khusus, dan memberikan hadiah.

Hari Warisan Kuliner Selatan

Hari Warisan Kuliner Selatan dirayakan di Amerika Serikat setiap 11 Oktober. Hari ini bertujuan untuk memperingati kekayaan dan keberagaman tradisi kuliner wilayah Selatan Amerika Serikat.

Melansir laman National Today, Hari Warisan Kuliner Selatan memperingati kekayaan makanan dan minuman khas wilayah Selatan Amerika Serikat. Kuliner ini berkembang di sejumlah negara bagian di selatan garis Mason-Dixon, yang memisahkan Pennsylvania dan Delaware dari Maryland, serta mencakup wilayah di sepanjang Sungai Ohio hingga bagian selatan Missouri, Oklahoma, dan Texas.

Kuliner Selatan Amerika Serikat mendapat pengaruh kuat dari budaya Afrika, Inggris, Skotlandia, Irlandia, Jerman, Prancis, dan penduduk asli Amerika. Perpaduan budaya tersebut membentuk beragam hidangan khas yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Penduduk asli Amerika, Spanyol, Prancis, dan Inggris turut membentuk perkembangan kuliner Selatan melalui resep dan bahan makanan dari budaya masing-masing. Suku Caddo, Choctaw, dan Seminole, misalnya, memperkenalkan labu, tomat, jagung, serta teknik memasak daging di dalam lubang tanah.

Sementara itu, gula, tepung, susu, dan telur banyak digunakan dalam tradisi kuliner Eropa. Adapun kacang tunggak, okra, beras, terung, biji wijen, sorgum, melon, dan berbagai rempah berasal dari Afrika.

Kuliner Selatan terbagi menjadi beberapa jenis, salah satunya soul food yang dipengaruhi tradisi memasak Afrika. Hidangan ini banyak menggunakan sayuran hijau, nasi, kacang-kacangan, okra, sawi collard, dan aneka semur kental.

Jenis lainnya adalah Creole food yang memiliki pengaruh Prancis dan Cajun cuisine yang mencerminkan tradisi kuliner imigran dari Kanada. Kuliner Lowcountry banyak menggunakan makanan laut dan nasi, sedangkan hidangan khas Appalachia mengandalkan daging serta sayuran yang diawetkan.

Jagung juga menjadi bahan penting dalam kuliner Selatan Amerika Serikat. Penggunaan bahan ini merupakan salah satu warisan tradisi kuliner penduduk asli Amerika.



(alk/alk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads