Wali Kota Makassar Munafri 'Appi' Arifuddin mengakhiri perjalanan politiknya bersama Partai Golkar. Appi lantas bermanuver dengan bergabung menjadi kader Partai Demokrat berselang tiga hari memutuskan mengundurkan diri dari partai berlambang pohon beringin.
Appi pindah partai menjelang Musyarawah Daerah (Musda) DPD Partai Demokrat Sulawesi Selatan (Sulsel) yang bakal digelar 23 Oktober 2026. Sebelum hengkang dari Golkar, Appi sempat secara terbuka dirayu oleh Ketua Dewan Pakar DPP Partai Demokrat Andi Alfian Mallarangeng untuk bergabung.
"Saya rasa juga barangkali 'wattunnami' juga kalau Bung Appi ini kemudian bisa bergabung dengan Partai Demokrat," tegas Andi Alfian dalam pertemuannya bersama Appi di Hotel Novotel Makassar pada Sabtu (3/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Andi Alfian menilai Appi sebagai politisi muda yang bisa membangun dan memperkuat Partai Demokrat khususnya di Sulsel. Dia menganggap Appi dan Demokrat sudah memiliki kedekatan yang sudah terjalin sejak lama.
"Menurut saya Partai Demokrat ini cocok untuk Bung Appi, karena kita sudah sama-sama selama ini. Bung Appi tahu betul apa ini Partai Demokrat, bagaimana karakter Partai Demokrat, prinsip dan nilai-nilai Partai Demokrat," jelasnya.
Dua hari usai pertemuan itu, Appi menemui Ketua DPD I Golkar Sulsel Ilham Arief Sirajuddin (IAS) di kediamannya Jalan Batu Putih Makassar, Senin (5/10). Appi datang menyerahkan surat pengunduran dirinya sebagai kader Golkar.
"Kami menghargai keputusan Appi melepas status sebagai kader Golkar," kata IAS dalam keterangannya, Senin (5/10).
Appi mundur setelah masa kepengurusannya sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Makassar sempat diperpanjang. IAS selanjutnya akan membawa surat pengunduran Appi ke DPP Golkar.
"Kebetulan akan ke Jakarta untuk konsultasi persiapan pelantikan ke DPP Golkar, surat pengunduran diri Appi sekaligus akan diserahkan ke DPP," jelasnya.
Selang tiga hari menyerahkan surat pengunduran diri dari Golkar, Appi memenuhi undangan acara pendidikan politik DPD Demokrat Sulsel di Hotel Claro Makassar, Kamis (8/10). Kegiatan ini dimanfaatkan Demokrat untuk memperkenalkan Appi sebagai kader baru partai berlambang bintang mercy.
Momen bergabungnya Appi ditandai dengan penyerahan kartu tanda anggota (KTA) Demokrat yang diserahkan Ketua DPD Demokrat Sulsel Ni'matullah. Deputi BPOKK DPP Partai Demokrat Agustinus Tamo Mbapa turut memasangkan jaket dan pin Demokrat kepada Appi.
"Saya berterima kasih kepada Partai Demokrat sudah mau menerima saya bergabung di Partai Demokrat di Sulawesi Selatan ini," kata Appi kepada wartawan usai menerima KTA Demokrat.
Appi mengaku akan lebih dulu fokus berkenalan dan membangun komunikasi dengan kader maupun pengurus di Partai Demokrat. Menurut dia, dibutuhkan kerja sama untuk memperkuat partai.
"Lagi-lagi tidak ada yang bisa kita lakukan kalau kita berjalan sendiri-sendiri. Yang harus kita lakukan bagaimana kita berjalan semua untuk bisa membesarkan partai," tegasnya.
Alasan Appi Gabung Partai Demokrat
Wali Kota Makassar Munafri 'Appi' Arifuddin resmi gabung Demokrat yang ditandai penyerahan KTA dan pemasangan jaket. (Sahrul Alim/detikSulsel) |
Appi mengungkap alasannya bergabung ke Partai Demokrat karena memiliki kedekatan dan jejak historis. Appi selalu diusung Demokrat saat maju Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Makassar pada 2020 dan 2024.
"Saya ada sejarah dengan Partai Demokrat. Dulu itu saya pernah sudah bergabung dengan Demokrat. Lalu dua kali saya mengikuti Pilkada itu di-support oleh Partai Demokrat, dan dari kalah, menang," paparnya.
Di sisi lain, Appi memastikan tidak ada masalah tertentu yang membuatnya hengkang dari Golkar. Appi menganggap pengundurannya dirinya dari partai beringin merupakan hal yang biasa dalam dunia politik.
"Nggak ada lah (alasan khusus meninggalkan Golkar). Nggak ada sama sekali. Kita menganggap bahwa proses perpindahan ini cuman perpindahan biasa saja," imbuh Appi.
Appi turut menepis rumor membawa gerbong politiknya di Golkar Makassar untuk ikut bergabung ke Demokrat. Mantan Ketua DPD II Golkar Makassar ini menegaskan kepindahannya bersifat individu dan tanpa mengajak kader atau pengurus partai lain.
"Belum ada (loyalis ikut gabung Demokrat), saya baru bawa diri saya sendiri ini. Inikan masalah pilihan, ya terserah, mau ikut saya ayo, mau tinggal silakan. Tidak ada paksaan apa-apa," tegas Appi.
Potensi Appi Maju Musda Demokrat Sulsel
Belakangan, Appi digadang-gadang menjadi salah satu calon ketua Demokrat Sulsel yang baru menjelang Musda DPD Partai Demokrat Sulsel. Kendati begitu, Appi enggan berspekulasi lebih jauh.
"Saya belum tahu kondisinya seperti apa, tapi yang jelas hari ini sudah resmi menjadi kader Partai Demokrat," ungkap Appi.
Dia pun ogah menanggapi soal dirinya menjadi salah satu figur yang akan menantang petahana, Ketua DPD Demokrat Sulsel Ni'matullah di musda. Appi menegaskan belum mengetahui langkah politiknya di Demokrat ke depan.
"Oh itu kabar (soal isu menggantikan Ni'matullah menjadi ketua Demokrat Sulsel). Saya belum tahu. Saya belum tahu ke depannya," tegas Appi.
Sementara itu, Ni'matullah menyebut Appi yang berstatus kader baru pada dasarnya belum bersyarat untuk maju menjadi calon ketua Demokrat Sulsel. Kendati begitu, segala kemungkinan masih bisa terjadi tergantung dari mekanisme yang diatur DPP nantinya.
"Saya kira kemungkinan kalau beliau (Appi) mau maju jadi ketua DPD, pasti ada mekanisme sebelumnya yang akan diatur oleh DPP," kata Ni'matullah kepada wartawan, Kamis (8/10).
Pria yang akrab disapa Ulla ini juga belum memastikan diri untuk maju kembali di Musda Demokrat Sulsel. Dia menegaskan masih menunggu restu dari DPP Demokrat untuk kembali maju melanjutkan kepemimpinan di Demokrat Sulsel.
"Prinsipnya, saya ini kader tulen Partai Demokrat. Apa pun yang DPP sudah putuskan, saya kira saya loyal apa pun yang diputuskan. Saya kira itu, soal ke depannya, nanti kita lihatlah," terangnya.
Apalagi Ulla mengklaim dirinya masih mengantongi dukungan suara minimal 20 DPC sebagai syarat maju musda. Menurut dia, hingga saat ini belum ada dukungan baru dari para ketua DPC yang menggantikan dukungan sebelumnya.
"Untuk sementara kan ada dukungan minimal 20 masih di saya. Masih saya pegang sampai hari ini. Ada 23 ya, meskipun yang saya bisa pastikan itu 20 masih on ya," tegas Ulla.
Peta Politik Sulsel Potensi Berubah
Wali Kota Makassar Munafri 'Appi' Arifuddin resmi gabung Demokrat. Momentum ini dinilai bisa mengubah peta politik Sulsel. (Sahrul Alim/detikSulsel) |
Jaringan Survei Indonesia (JSI) menilai kepindahan Appi dari Golkar menjadi kader Demokrat berpotensi mengubah peta politik di Sulsel. Posisi Appi sebagai wali kota Makassar membuat perpindahannya berbeda dengan pergantian kader partai biasa.
"Perpindahan pak Appi selaku wali kota di ibu kota provinsi Sulsel berpotensi memengaruhi hubungan politik, jalur komunikasi, hingga kalkulasi kekuatan menjelang berbagai agenda politik mendatang," kata Manager Strategi dan Operasional JSI Nursandy Syam Syam dalam keterangannya, Kamis (8/10).
Nursandy menganggap, sikap politik Appi untuk meninggalkan Golkar dan pindah ke Demokrat tidak terjadi secara mendadak meski rangkaiannya hanya berlangsung sepekan. Proses perpindahan Appi dinilai turut didukung jejak kedekatan dengan Demokrat yang sudah terjalin sejak lama.
"Hubungan Appi dengan Demokrat telah terbangun sebelum dirinya resmi menjadi kader. Perpindahan kali ini dinilai dapat dibaca sebagai kelanjutan dari hubungan politik tersebut, bukan semata-mata perpindahan dari satu organisasi ke organisasi lain," paparnya.
Dia lantas menyinggung kepindahan Appi ke Demokrat bisa mempengaruhi posisi dan nilai tawar Golkar. Apalagi Appi bukan kader partai biasa karena statusnya sebagai kepala daerah alias wali kota Makassar.
"Artinya, yang hilang dari Golkar bukan semata-mata satu kartu anggota. Ada hubungan politik, jalur komunikasi, dan posisi tawar yang selama ini melekat pada figur Appi," jelas Nursandy.
Di sisi lain, Demokrat mendapatkan peluang dengan masuknya Appi karena menambah daya tarik politik dan memperluas ruang komunikasi partai dengan berbagai kelompok. Namun popularitas Appi tidak otomatis menjadi elektabilitas Demokrat.
"Di sinilah pekerjaan Demokrat sebenarnya baru dimulai. Partai perlu mengubah modal personal Appi menjadi kekuatan organisasi melalui konsolidasi kader, penguatan struktur, serta kerja politik yang berkelanjutan," sarannya.
Dinamika tersebut semakin menarik karena Demokrat Sulsel dijadwalkan menggelar Musda pada 23 Oktober 2026. Setelah resmi menjadi kader, perhatian publik akan tertuju pada posisi Appi di dalam struktur partai.
Posisi Appi nantinya akan menjadi indikator bagaimana Demokrat membaca nilai politik mantan kader Golkar tersebut. Menurutnya, memasukkan figur populer ke dalam partai merupakan satu hal, sedangkan mengintegrasikannya dengan struktur dan kultur organisasi merupakan persoalan berbeda.
"Karena itu, tantangan Demokrat bukan sekadar bagaimana memanfaatkan popularitas Appi, tetapi bagaimana menyatukan kekuatan baru tersebut dengan struktur yang sudah ada," jelas Nursandy.
Simak Video "Video Demokrat soal Sistem Pilkada ke Depan: Kami Sejalan dengan Prabowo"
[Gambas:Video 20detik] (sar/sar)


