Petani di Sudu, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan (Sulsel), mengeluh tidak bisa menanam bawang selama kemarau karena kekeringan. Bantuan air dan pompanisasi pemerintah yang diharapkan menjadi solusi juga disebut tidak pernah diberikan.
"Air untuk diminum saja tidak ada, sungai juga kering. Makanya sekarang ini kita tidak menanam karena tidak ada sekali air. Tidak ada juga bantuan dari pemerintah, padahal cuma itu harapannya kita," ujar petani inisial TT (64) kepada detikSulsel, Kamis (8/10/2026)..
Dia menuturkan, lahan seluas 7 hektare yang digarap biasanya menghasilkan 7 ton bawang. Setelah kekeringan melanda pada awal Juli 2026, produksinya mengalami penurunan drastis dengan hanya menghasilkan sekitar 3 ton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah 3 bulan saya tidak menanam karena mulai bulan Juli merosot sekali hasilnya (produksi bawang). Biasanya didapat 7 ton, tapi 2 bulan lalu cuma seperempatnya. Bagaimana menanam tidak ada sekali air," ujarnya.
TT melanjutkan, kebutuhan air yang terbatas membuat produksi tidak bisa dimaksimalkan. Alhasil petani bawang merah di Sudu Kecamatan Alla saat ini rata-rata tidak melakukan penanaman karena hal tersebut.
"Merata di Alla, semua produksi petani menurun. Tapi sekarang memang tidak ada petani yang menanam karena sungai kering. Tidak ada juga bantuan di wilayah kami, tapi tidak tahu kalau ada di daerah lain," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Enrekang, Ikbar Ashadi, mengakui belum ada bantuan untuk petani bawang. Dia menyebut, bantuan pompanisasi sebelumnya difokuskan untuk mendorong produktivitas tanaman padi.
"Belum ada bantuan pompa ke sentra bawang karena memang tidak ada air yang mau dipompa. Rata-rata penggunaan air untuk komoditas bawang dari sungai, sungai sekarang mengering. Bantuan pompa sudah ada tahun 2025 namun sedikit, kita fokus di wilayah sentra padi," jelasnya.
Ikbar mengatakan pihaknya saat ini tengah mengupayakan tambahan bantuan pompa untuk mendorong peningkatan produksi bawang merah. Bantuan tersebut dijadwalkan tersalur pada Oktober 2026.
"Kami sudah ajukan tambahan bantuan khusus pompanisasi bawang merah untuk 2026 sampai dengan 2027. Mudahan Oktober ini sudah terealisasi," ujarnya.
Bantuan pompanisasi ini akan disalurkan secara bertahap untuk kelompok tani yang menggeluti pertanian bawang merah. Kata dia, data penerima bantuan telah di data dinas DTPHP.
"Kita tidak sarankan berhenti menanam, justru kita mendorong ada pertanaman di bulan Oktober sampai Desember, mudah-mudahan kondisi hujan sesuai prediksi BMKG di bulan November. Apalagi sudah ada petani yang mulai olah lahan di sentra bawang merah," ungkap Ikbar.
