Kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang kerap terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut mulai mengganggu jarak pandang dan aktivitas warga.
"Mulai terasa dampaknya, jarak pandang mulai terbatas," ujar salah satu warga, Rizal kepada wartawan, Senin (5/10/2026).
Kabut asap dilaporkan mulai dirasakan warga yang bermukim di sekitar wilayah Kecamatan Mamasa sejak beberapa hari terakhir. Kondisi itu terjadi seiring banyaknya Karhutla diduga akibat aktivitas warga membuka lahan dengan cara dibakar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah beberapa hari ini banyak sekali asap, karena banyak orang bakar lahan," ungkapnya.
Sementara Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mamasa, Alfredi, mengungkapkan bahwa terdapat 57 kejadian Karhutla yang tercatat sejak Agustus hingga Oktober 2026 di sejumlah wilayah Kabupaten Mamasa. Adapun total luas lahan yang terdampak Karhutla mencapai 145,45 hektare.
"Untuk Karhutla sendiri sampai hari ini tercatat 57 kejadian, dari Agustus sampai Oktober. Total luas terdampak 145,45 hektar," bebernya.
Alfredi membenarkan bahwa tingginya intensitas Karhutla mulai berdampak terhadap kondisi udara di wilayah Mamasa. Asap yang masih terlihat di udara dinilai mulai mengganggu aktivitas masyarakat.
"Iya kalau di sekitar Mamasa, kita lihat ke udara asap masih ada, ini tentu mengganggu, dan saya perhatikan sudah ada beberapa masyarakat yang pakai masker kalau keluar rumah," tuturnya.
Selain asap, kondisi udara juga diperburuk oleh debu dan sisa material dari lokasi kebakaran yang beterbangan ke sejumlah wilayah karena terbawa angin.
"Selain itu, juga debu kotoran dari lokasi yang terbakar banyak beterbangan kemana-mana," pungkas Alfredi.
