Tanggal 1 Oktober 2026 Memperingati Apa? Ada Hari Kesaktian Pancasila

Tanggal 1 Oktober 2026 Memperingati Apa? Ada Hari Kesaktian Pancasila

Iswandy Rusli - detikSulsel
Kamis, 01 Okt 2026 07:30 WIB
Gold Garuda Pancasila, Indonesian national emblem on blue and cloudy sky background.
Foto: Getty Images/Sony Herdiana
Makassar -

Tidak jarang, tanggal-tanggal tertentu memiliki nilai historis atau sosial yang diperingati secara nasional maupun internasional. Lantas tanggal 1 Oktober memperingati apa?

Tanggal 1 Oktober 2026 jatuh pada hari Kamis. Di hari ini terdapat Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati di Indonesia.

Selain itu, terdapat beberapa momen penting yang diperingati secara global. Penasaran dengan momen yang diperingati setiap 1 Oktober?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nah, dalam artikel ini detikSulsel menyajikan daftar peringatan setiap 1 Oktober, lengkap dengan ulasannya. Yuk simak selengkapnya untuk memahami makna dan pesan yang terkandung di balik tanggal tersebut.

Hari Kesaktian Pancasila

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila setiap tahun di Indonesia. Peringatan ini untuk mengenang kembali peristiwa G30S serta meneguhkan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia.

ADVERTISEMENT

Menukil buku Pancasila oleh Hairul Amen Samosir SSos MPd, Hari Kesaktian Pancasila berkaitan erat dengan peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) yang terjadi pada malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965. Peristiwa tersebut menjadi salah satu tragedi dalam sejarah Indonesia.

Sejumlah perwira tinggi TNI AD diculik dari rumahnya dan kemudian dilaporkan tewas pada malam itu.

Identitas pelaku dan motif peristiwa ini masih menjadi bahan perdebatan di kalangan akademisi. Kendati demikian pemerintah Orde Baru dan sejumlah pihak pada masa itu menilai kejadian tersebut sebagai upaya yang melibatkan Partai Komunis Indonesia (PKI), untuk menggulingkan pemerintahan dan mengganti Pancasila sebagai dasar negara.

Mulanya, terdapat kelompok yang mengaku sebagai pasukan pengawal istana mendatangi rumah para perwira dengan alasan dipanggil Presiden. Namun, mereka justru menculik para perwira dan dibawa ke sebuah markas di kawasan Pondok Gede, Jakarta Timur.

Korban-korban utama peristiwa ini adalah 7 anggota TNI AD. Mereka kemudian diberi gelar Pahlawan Revolusi oleh pemerintah.

Jasad ketujuh jenderal dan perwira yang dibunuh dalam G30S/PKI tersebut baru ditemukan pada 4 Oktober 1965 di Lubang Buaya. Kemudian pada 5 Oktober 1965, mereka dimakamkan secara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Momentum penemuan dan pemakaman itu kemudian dijadikan simbol kebangkitan dan keteguhan bangsa.

Pemerintah Orde Baru menjadikan peristiwa itu sebagai bukti ancaman terhadap Pancasila dan alasan pentingnya pemulihan serta stabilitas nasional. Untuk menegaskan posisi Pancasila sebagai dasar negara serta menghormati para jenderal dan perwira yang gugur, maka ditetapkanlah 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila melalui Keppres Nomor 153 Tahun 1967.

Penetapan ini dimaksudkan untuk memperkokoh kesetiaan terhadap Pancasila, mengingat kembali peristiwa yang melahirkan keputusan itu, serta mengedukasi warga tentang makna ideologi negara.

Hari Kopi Internasional

Hari Kopi Internasional diperingati setiap 1 Oktober. Hari ini untuk merayakan kopi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di seluruh dunia.

Melansir laman National Today, berdasarkan catatan sejarah, kopi berasal dari Ethiopia. Kisah penemuannya di Afrika juga memiliki cerita yang menarik.

Sekitar tahun 700-an Masehi, sekawanan kambing mulai bertingkah aneh, seolah-olah sedang menari. Pemiliknya, Kaldi, kemudian mengetahui bahwa kambing-kambing tersebut memakan sejenis buah berwarna merah dan menyimpulkan bahwa buah tersebut menjadi penyebab perilaku mereka.

Kaldi kemudian membagikan temuannya kepada seorang biksu yang membutuhkan sesuatu untuk membantunya tetap terjaga sepanjang malam saat berdoa. Namun, ada versi cerita lain yang menyebutkan bahwa sang biksu menolak biji tersebut dan melemparkannya ke dalam api. Aroma harum yang muncul dari biji yang terbakar kemudian menarik perhatian.

Kopi kemudian menyebar ke wilayah utara hingga mencapai Yaman pada abad ke-15, ketika biji kopi dikenal dengan nama "Mocha". Tak lama kemudian, kopi menjadi populer di Mesir, Persia, dan Turki dengan sebutan "wine of Araby" atau "anggur dari Arabia". Kedai-kedai kopi pun mulai bermunculan dan dikenal sebagai "Schools of the Wise" atau "Sekolah Orang Bijak".

Selanjutnya, Arabia menjadi pusat perdagangan kopi dan biji kopi mulai dibudidayakan secara besar-besaran di India Selatan. Pada 1560, kopi mulai menyebar ke Eropa dan dengan cepat menjadi populer.

Hingga suatu ketika, Paus Clement VIII menganggap minuman tersebut mungkin berasal dari setan. Namun, setelah mencicipinya, ia justru mengagumi cita rasa kopi, kemudian membaptisnya dan menyatakan bahwa kopi dapat menjadi minuman umat Kristen.

Memasuki abad ke-17, kedai kopi bermunculan di berbagai wilayah Eropa. Seiring meluasnya kolonisasi, tanaman kopi turut menyebar hingga akhirnya mencapai Amerika.

Setelah melalui perjalanan panjang dalam sejarah manusia, pada 2014 International Coffee Organization (ICO) menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kopi Internasional. Peringatan ini menjadi momentum untuk merayakan kopi sebagai minuman sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai kondisi dan tantangan yang dihadapi para petani kopi.

Hari Musik Internasional

Tanggal 1 Oktober juga diperingati sebagai Hari Musik Internasional. Hari ini untuk menghormati kekuatan musik dalam menghubungkan berbagai budaya dan membangkitkan semangat.

Melansir laman National Today, hari ini ditetapkan oleh International Music Council (IMC) pada 1974. Salah satu tujuannya adalah mendorong masyarakat untuk mengapresiasi beragam bentuk musik serta kekuatannya dalam menyatukan manusia.

Sejak didirikan pada 1949, International Music Council, organisasi yang berafiliasi dengan UNESCO, meyakini bahwa musik memiliki kekuatan untuk menyatukan masyarakat dan mendorong perdamaian dunia. Dewan tersebut, terutama presidennya pada 1975, Lord Yehudi Menuhin, meyakini bahwa musik dapat mempererat hubungan dan menjembatani kesenjangan budaya antarmasyarakat.

Atas dasar pemikiran tersebut, International Music Council memutuskan untuk mendedikasikan satu hari setiap tahun bagi musik. Tujuannya adalah memanfaatkan kekuatan musik untuk menyatukan masyarakat dan budaya serta mendorong mereka hidup berdampingan secara harmonis.

Lord Yehudi Menuhin, yang pada masa itu dikenal sebagai salah satu pemain biola dan konduktor musik paling produktif di Amerika Serikat, menjabat sebagai Presiden International Music Council. Ia kemudian mengirim surat kepada anggota IMC yang menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Musik Internasional. Dalam surat tersebut, ia menjelaskan sejumlah alasan di balik penetapan hari tersebut.

Hari Musik Internasional bertujuan untuk:

  • Mendorong pengembangan seni musik di berbagai lapisan masyarakat.
  • Memotivasi penerapan nilai-nilai UNESCO mengenai perdamaian dan persahabatan antarmanusia.
  • Menciptakan ruang bagi perkembangan budaya melalui pertukaran pengalaman.
  • Mendorong apresiasi terhadap budaya satu sama lain, terutama nilai-nilai estetikanya.

Sejak Hari Musik Internasional pertama kali diperingati pada 1 Oktober 1975, lebih dari 150 negara di dunia telah merayakan kekuatan musik dalam menyatukan masyarakat, komunitas, dan manusia. Peringatan ini menjadi kesempatan untuk merayakan musik sekaligus berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang lebih damai, penuh kegembiraan, dan harmonis.

Berbagai kegiatan dapat digelar untuk memperingati Hari Musik Internasional, seperti konser, pameran, seminar tentang pembuatan musik, kuliah umum, konferensi musik, dan berbagai kegiatan lainnya.

Bulan Kesadaran AIDS

1 Oktober menandai dimulainya Bulan Kesadaran AIDS. Peringatan tersebut diperingati sepanjang Oktober untuk mendukung berbagai kampanye edukasi yang menyebarkan informasi berbasis sains mengenai HIV/AIDS.

Melansir laman National Today, HIV/AIDS atau human immunodeficiency virus dan sindrom defisiensi imun yang ditimbulkannya pertama kali muncul di Kongo pada 1920-an. Penyakit ini kemudian menyebar ke Belahan Barat melalui kawasan Karibia pada 1960-an dan berkembang menjadi pandemi global pada 1980-an ketika jumlah kasus meningkat pesat di berbagai belahan dunia.

Karena pasien pertama yang didiagnosis sebagian besar merupakan pria gay, pada awalnya muncul anggapan bahwa AIDS hanya menyerang kaum homoseksual, pengguna narkoba, dan kemudian orang-orang keturunan Haiti. Seiring para ilmuwan mempelajari penyakit ini lebih jauh, diketahui bahwa AIDS disebabkan oleh virus yang dapat ditularkan melalui beberapa cara dan dapat menyerang siapa saja. Hingga akhir 1985, lebih dari 20.000 kasus AIDS telah dilaporkan di seluruh dunia. Para dokter dan peneliti kemudian berupaya memahami infeksi tersebut sekaligus mengembangkan pengobatan dan vaksin.

Pada 1987, obat antiretroviral pertama yang efektif untuk mengobati HIV, yaitu azidothymidine (AZT), dikembangkan. Diagnosis positif HIV tidak lagi selalu berarti vonis kematian. Namun, meskipun informasi mengenai penyakit dan pilihan pengobatan semakin berkembang, HIV/AIDS tetap menyebar. Pada akhir 1980-an, AIDS telah menjadi krisis global dengan lebih dari 400.000 kasus yang terdiagnosis.

Hingga saat ini, sekitar 35 juta orang telah meninggal akibat AIDS, sementara jumlah yang kurang lebih sama masih hidup dengan HIV. Pada 2010, telah tersedia lebih dari 20 pilihan pengobatan HIV/AIDS yang disetujui, dan pengobatan baru terus dikembangkan. Hingga kini belum tersedia vaksin untuk mencegah HIV. Namun, berkat obat antiretroviral dan pilihan pengobatan yang terus berkembang, orang dengan HIV yang memiliki akses terhadap perawatan medis kini dapat menjalani hidup yang panjang dan sehat.



(alk/alk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads