Formasi Durupinar berbentuk kapal yang berada di dekat Gunung Ararat Turki, kembali diteliti untuk mengungkap struktur yang selama ini dikaitkan dengan Batera Nabi Nuh. Objek ini kembali menyita perhatian setelah dilakukan pemindaian radar yang mengungkap temuan baru.
Dilansir dari detikTravel, penelitian terbaru dilakukan oleh Noah's Arks Scans, organisasi penelitian dan eksplorasi yang berbasis di California, Amerika Serikat (AS). Tim peneliti terdiri dari arkeolog, geolog, dan pakar ilmu tanah mengambil beberapa sampel inti untuk mengetahui kondisi di bawah permukaan formasi tersebut.
Mereka mengambil sampel inti dari kedalaman sekitar 18 meter, untuk mengetahui kandungan batuan di dalam formasi tersebut. Selain itu, peneliti menggunakan teknologi Ground-Penetrating Radar (GPR) untuk memetakan struktur yang berada di bawah permukaan formasi tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bentuk Menyerupai Kapal
Formasi Durupinar merupakan struktur berbentuk kapal sepanjang sekitar 157 meter yang berada di Provinsi Agrı wilayah timur Turki, sekitar 30 kilometer di selatan Gunung Ararat. Bentuknya yang menyerupai lambung kapal, membuat lokasi ini selama puluhan tahun dikaitkan dengan kisah Bahtera Nabi Nuh.
Gunung Ararat sendiri memiliki ketinggian 5.137 meter dan menjadi puncak tertinggi di Turki. Sejak lama, gunung tersebut kerap dikaitkan dengan kisah Nabi Nuh dalam tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam.
Kemiripan bentuk Formasi Durupinar dengan kapal raksasa Nabi Nuh, membuat kawasan ini menarik perhatian bagi wisatawan. Tak heran jika kawasan ini menjadi salah satu tujuan wisata yang banyak dikunjungi pencinta sejarah, wisata religi, hingga pemburu misteri.
Akses menuju Formasi Durupinar juga relatif lebih mudah, dibandingkan jalur pendakian lainnya ke puncak Gunung Ararat. Pengunjung dapat berkendara hingga area taman nasional, kemudian melanjutkan perjalanan menuju dek observasi yang menghadap langsung ke formasi.
Dari titik tersebut, struktur yang menyerupai lambung kapal dapat terlihat di tengah bentang alam perbukitan dan wilayah timur Turki.
Peneliti Uji Teori Batuan Alami
Formasi Durupinar bukan pertama kali menjadi objek penelitian. Struktur tersebut sudah lama menjadi perdebatan peneliti dunia, mengenai apakah terbentuk secara alami atau memiliki struktur yang berbeda dari batuan sekitarnya.
Pada tahun 1996, pakar geologi Lorence Collins bersama penjelajah David Fasold, menyimpulkan bahwa Formasi Durupinar merupakan "formasi batuan alami sepenuhnya". Mereka juga menilai teori yang menghubungkan lokasi tersebut dengan Bahtera Nabi Nuh sebagai sesuatu yang "tidak benar".
Namun, Noah's Ark Scans kini kembali menguji kesimpulan tersebut dengan melakukan penelitian lapangan dan teknologi pemindaian bawah permukaan.
"Selama beberapa dekade, kaum skeptis memiliki satu jawaban sederhana untuk Formasi Durupinar yang berbentuk seperti kapal itu, formasi tersebut hanyalah bongkahan pada batuan alami." demikian pernyataan Noah's Ark Scans pada Rabu (23/9/2026) dikutip dari Newsweek, Senin (28/9).
Tim tersebut mengatakan penelitian kali ini bertujuan untuk menguji berbagai teori yang berkembang mengenai struktur Formasi Durupinar.
"Misinya jelas, yaitu menguji kebenaran penjelasan mengenai 'batuan pada' tersebut. Apakah formasi itu merupakan satu massa batu alam yang homogen? Apakah terdapat struktur internal di dalamnya? Di manakah letak batuan dasar yang sebenarnya di bawah formasi tersebut dan bagaimana kelanjutan batuan dasar itu di lembah sekitar," lanjut pernyataan itu.
Melalui penelitian tersebut, para geolog akan menguji apakah formasi tersebut hanyalah batu alam biasa yang seragam atau solid atau merupakan struktur buatan manusia yang memiliki rongga dan lapisan berbeda di dalamnya.
Data Radar Jadi Petunjuk Awal
Pendiri Noah's Ark Scans, Andrew Jones, mengatakan hasil survei radar awal menunjukkan hasil yang menarik. Menurut Jones, temuan tersebut belum sepenuhnya mendukung anggapan bahwa Formasi Durupinar hanya berupa batuan biasa yang terbentuk secara alami.
Menurut Jones, survei radar yang dilakukan bersama Bakhtar Research dan Engineering LLC, tidak menemukan tanda-tanda adanya massa batuan homogen sederhana di lokasi itu.
Meski demikian, penelitian ini masih berada pada tahap awal dan hasil analisis sampel belum diumumkan. Namun pengambilan sampel inti tersebut menjadi langkah terbaru dalam upaya mengungkap misteri Formasi Durupinar.
