KNMP Tongke-Tongke Sinjai Dongkrak Pendapatan Nelayan

KNMP Tongke-Tongke Sinjai Dongkrak Pendapatan Nelayan

Osmawanti - detikSulsel
Sabtu, 26 Sep 2026 13:00 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dan bersama Menteri Koperasi Ferry Joko Juliantono berbincang bersama nelayan KNMP Tongke-Tongke Sinjai.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dan bersama Menteri Koperasi Ferry Joko Juliantono berbincang bersama nelayan KNMP Tongke-Tongke Sinjai. Foto: Osmawanti/detikSulsel
Sinjai -

Nelayan mulai merasakan manfaat Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Tongke-Tongke, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan (Sulsel). Harga jual ikan tuna naik dari kisaran Rp 25.000 per kilogram menjadi Rp 45.000 per kilogram.

Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Sinjai sekaligus pengelola Unit Pengolahan Ikan (UPI) KNMP Tongke-Tongke, Emil Salim, mengatakan kenaikan harga tersebut terjadi setelah KNMP mulai beroperasi pada April 2026. Dalam rentang sekitar empat hingga lima bulan, harga tuna mengalami peningkatan sekitar Rp 15.000 per kilogram.

"Dengan adanya KNMP sangat berpengaruh terkait masalah harga. Jadi nilai hasil tangkapan nelayan kita semenjak ada KMNP itu ada kenaikan harga," kata Emil saat ditemui di Desa Tongke-Tongke, Jumat (25/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Emil menjelaskan sebelum adanya KNMP, hasil tangkapan nelayan Tongke-Tongke umumnya dibawa ke Makassar untuk dipasarkan. Kondisi tersebut membuat nelayan belum mendapatkan kepastian harga karena hasil tangkapan masih melewati sejumlah rantai distribusi.

Kini, hasil tangkapan dapat langsung diserap dan diolah melalui UPI yang berada di kawasan KNMP Tongke-Tongke. Menurut Emil, kondisi tersebut membuat rantai distribusi menjadi lebih pendek sekaligus memberikan kepastian harga kepada nelayan.

ADVERTISEMENT

"Kalau di sini kan sudah dipastikan bahwa siapa pun yang ingin memasukkan bahan baku hasil tangkapan UPI, kita memberikan yang terbaik. Harga pun seperti itu, kita memberikan," ujarnya.

Selain harga, Emil menyebut keberadaan UPI juga membantu menjaga kualitas ikan. Hasil tangkapan yang sebelumnya harus dibawa ke Makassar selama sekitar empat hingga lima jam kini dapat langsung ditangani di lokasi sehingga rantai pendingin dan mutu ikan lebih terjaga.

"Kalau kualitas ikan bagus ya otomatis harga nilai jual buat nelayan pun pasti bagus," katanya.

Peningkatan harga jual tersebut turut berdampak pada pendapatan nelayan dan anak buah kapal (ABK) yang menerapkan sistem bagi hasil. Emil menyebut nelayan yang sebelumnya memperoleh pendapatan sekitar Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per bulan, sedangkan setelah adanya KNMP, pendapatan ABK bisa mencapai sekitar Rp 12 juta.

"Sekarang ini setelah adanya KMNP, penjualannya naik signifikan. Jadi biasa ada salah satu nelayan kita ini menjual di UPI, itu kurang lebih kalau dihitung perorangan bisa tembus dalam 12 juta per orang untuk ABK" bebernya.

Ia menjelaskan pendapatan ABK tidak bersifat tetap karena mengikuti hasil tangkapan dan sistem bagi hasil yang diterapkan. Ketika hasil tangkapan dan nilai penjualannya meningkat, bagian yang diterima ABK juga ikut bertambah.

Hal senada disampaikan Hairul, pemilik kapal sekaligus nelayan di Tongke-Tongke. Ia mengatakan kenaikan harga ikan tuna dari kisaran Rp 25.000 menjadi sekitar Rp 45.000 per kilogram turut memberikan dampak terhadap pendapatan nelayan.

"Ya, alhamdulillah ada, ada peningkatan lah harganya," kata Hairul.

Menurut Hairul, satu kapal yang ia operasikan biasanya membawa sekitar enam hingga tujuh ABK. Dalam satu trip, kapal dapat melaut selama sekitar 10 hingga 20 hari dengan rata-rata perjalanan sekitar 15 hari.

Ia mengatakan pendapatan ABK dari sistem bagi hasil sebelumnya berada di kisaran maksimal Rp 2 juta per bulan. Setelah harga dan hasil tangkapan meningkat, pendapatan ABK dapat mencapai sekitar Rp 3 juta atau lebih dalam kondisi tertentu.

"Kalau sebulannya itu kita untung sekali tuh paling tinggi Rp 2 juta. Kalau sekarang ada yang sudah Rp 3 juta bahkan lebih, seperti itu," ujarnya.

Hairul menilai keberadaan KNMP memberikan sejumlah kemudahan bagi nelayan, terutama melalui fasilitas dermaga, tempat penyimpanan dingin atau cold storage, serta akses terhadap kebutuhan operasional. Ia berharap fasilitas tersebut dapat semakin mendukung aktivitas nelayan dan meningkatkan efisiensi biaya melaut.

"Ini bongkar muatnya, jadi dulu kan sebelum ada KNMP ini masih kayak tidak terurus, kotor seperti ini, sekarang untuk bongkar muat itu sangat mudah karena sudah jalanan beton apa semacamnya," kata Hairul.

Selain fasilitas, Hairul menyebut keberadaan KNMP turut memangkas rantai perdagangan hasil tangkapan. Sebelumnya, ikan nelayan dapat melewati agen dan pengepul sebelum sampai ke perusahaan, sedangkan kini hasil tangkapan dapat langsung diserap oleh KNMP dan dihargai berdasarkan harga perusahaan.

"Sekarang hadirnya KNMP ini langsung tidak ada lagi tangan kedua, tangan ketiga, tangga-tangganya, langsung dari nelayan ke KNMP. Dan harganya itu harga perusahaan," ujarnya.

Hairul mengaku bersyukur dengan hadirnya KNMP di Desa Tongke-Tongke. Ia menilai berbagai fasilitas yang tersedia turut membantu aktivitas nelayan sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan bagi masyarakat pesisir.

"Kami dari masyarakat Desa Tongke-Tongke, dari KNMP Desa Tongke-Tongke sangat berterima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo, terkhusus untuk Pak Menteri, Pak Sakti Wahyu Trenggono, telah membangun, menghadirkan fasilitas yang sangat membantu nelayan yang ada di Desa Tongke-Tongke" tambahnya.

Berdasarkan data Biro Humas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), peningkatan aktivitas di kawasan KNMP Tongke-Tongke juga terlihat dari jumlah kapal yang tambat. Dalam kurun waktu enam bulan, jumlah kapal meningkat dari 118 unit menjadi 216 unit, dengan sebagian besar kapal berukuran 15-29 gross tonnage (GT).



(hsr/asm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads