Polisi mengusut kasus empat pekerja tewas tertimbun longsor tambang nikel di Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara (Sultra). Salah satu karyawan bernama Herman pun mengungkapkan kesaksiannya saat longsor menerjang.
Longsor terjadi di area tambang Blok A PT Kelompok Delapan Indonesia (KDI), Desa Lameruru, Kecamatan Langgikima, Selasa (22/9) sekitar pukul 16.40 Wita. Longsor dilaporkan terjadi dua kali.
"Saya berlima operator, Pak Hakim, Ryan, Sampel, dan Pak Dek. Itu pertama. Longsoran pertama itu masih bisa kita evakuasi, Pak Dek, itu korbannya di dalam," kata Herman kepada detikcom, Jumat (25/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Herman langsung meninggalkan lokasi longsoran pertama dan menuju pondok. Sementara sejumlah pekerja lainnya masih berada di area kerja untuk menangani alat yang tertimbun material.
Saat proses tersebut berlangsung, material dari bagian atas kembali bergerak. Herman menyebut longsor kedua terjadi secara tiba-tiba dan menimpa pekerja yang masih berada di lokasi.
"Orang itu mau singkirkan alat itu supaya bisa dikasih keluar karena tertimbun, tiba-tiba jatuh satu dari atas. Gulung sampai di arah, jatuh mi itu barang," tuturnya.
Herman melihat langsung longsor kedua dari pondok. Material dari bagian atas disebut bergerak dan kemudian bergulung menuju area kerja.
"Ada dia naik ke atas, menggulung. Saya lihat dengan mata sendiri dari jauh. Saya ada di pondok setelah kejadian pertama," ujar Herman.
Herman mengaku sejumlah pekerja masih berada di lokasi ketika longsor kedua terjadi. Mereka disebut terjebak dan tertimbun material longsor.
"Ini yang Pak Feris, Wayan, Yoga dan Bryan masih ada di tempat itu, itulah mereka yang tertimbun," kata Herman.
Salah seorang pekerja, Tejam masih sempat menyelamatkan diri. Kendati begitu, sebagian tubuhnya tertimbun material dan masih dapat bernapas.
"Yang ditemukan selamat itu Tejam karena masih sempat keluar badannya setengah. Masih dia bernapas," ujarnya.
Sementara empat pekerja tidak sempat menyelamatkan diri saat material tambang kembali longsor. Keempat pekerja tambang itu lah yang dilaporkan meninggal dunia.
"Ini yang lain tidak bisa, karena sudah tidak ada," ungkap Herman.
Herman mengaku telah dipanggil polisi untuk memberikan keterangan terkait kejadian tersebut. Dia siap memenuhi panggilan tersebut sebagai saksi pada Senin (28/9).
"Ada panggilan dari Polres untuk dimintai keterangan hari Senin. Status sebagai saksi dalam insiden itu yang kami alami di lokasi kerja," tuturnya.
Herman mengaku tidak sempat langsung melaporkan kejadian tersebut saat kejadian karena terkendala jaringan telekomunikasi di lokasi. Menurutnya, jaringan di kawasan tersebut tidak tersedia selama beberapa hari.
"Supaya tidak multitafsir, kenapa saya tidak sampaikan ke satgas? Karena memang jaringannya tidak ada di sini, sudah dua hari," jelasnya.
Diketahui, longsor di tambang nikel itu mengakibatkan empat pekerja tewas. Karyawan bekerja di Blok A saat itu melakukan produksi dan mengambil sampel produksi untuk dibawa ke laboratorium.
"Dua orang berhasil selamat, termasuk operator alat ekskavator yang trapping keluar, sedangkan 4 orang lainnya tertimbun longsor tersebut," Kapolres Konawe Utara AKBP Rico Fernanda saat dikonfirmasi, Rabu (23/9).
