Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI merupakan film drama sejarah Indonesia yang mengangkat kisah seputar peristiwa Gerakan 30 September 1965. Sinema karya Arifin C Noer yang diproduksi Pusat Produksi Film Negara (PPFN) ini pertama kali dirilis pada 1984.
Kisahnya menggambarkan rangkaian peristiwa penculikan dan pembunuhan sejumlah perwira TNI Angkatan Darat pada 1965. Menjelang peringatan G30S, film tersebut kerap ditayangkan kembali di sejumlah stasiun televisi nasional.
Selain itu, film G30S/PKI juga dapat disaksikan secara online melalui sejumlah platform, seperti Vidio dan YouTube. Untuk memudahkan, berikut link streaming film G30S/PKI serta sejarah singkatnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disimak, yuk!
Link Nonton Film G30S/PKI
Bagi yang ingin menonton film G30S/PKI secara online, berikut link streaming yang dapat diakses:
Sekilas tentang Film G30S/PKI
Melansir RRI, film G30S/PKI yang menjadi salah satu karya yang kontroversial dalam perfilman Indonesia pertama kali ditayangkan melalui layar tancap di DKI Jakarta pada 1984. Setahun kemudian, tepatnya pada 30 September 1985, film ini mulai ditayangkan di Televisi Republik Indonesia (TVRI).
Pada masa Orde Baru, film G30S/PKI menjadi tontonan yang wajib diputar setiap menjelang peringatan peristiwa G30S. Penayangannya kemudian dihentikan setelah Reformasi 1998, sebelum kembali muncul di sejumlah stasiun televisi dalam beberapa tahun terakhir.
Pembuatan film G30S/PKI didasarkan pada buku karya Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh berjudul "Tragedi Nasional Percobaan Kup G 30 S/PKI di Indonesia". Buku tersebut memuat versi resmi pemerintah Orde Baru mengenai peristiwa G30S, yang menempatkan Partai Komunis Indonesia (PKI)sebagai pihak yang berada di balik peristiwa tersebut.
Sejumlah aktor turut membintangi film ini, di antaranya Bram Adrianto, Amoroso Katamsi, Umar Kayam, dan Syubah Asa. Menurut Arifin selaku sutradara, pembuatan film Pengkhiatan G30S/PKI dilakukan atas permintaan pemerintah Orde Baru.
Seiring waktu, film G30S/PKI menuai pro dan kontra, termasuk dari sejarawan Bonnie Triyana, di mana ia menyebut film tersebut sebagai propaganda Orde Baru dan menilai beberapa adegannya tidak sesuai dengan fakta sejarah.
Salah satu bagian yang menjadi sorotan adalah adegan penyiksaan terhadap tujuh jenderal yang digambarkan dilakukan oleh anggota PKI. Menurut Bonnie Triyana, hasil visum terhadap para korban tidak menunjukkan adanya penyiksaan seperti yang digambarkan dalam film.
Sejarah Singkat G30S/PKI
Disadur dari buku "Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto" karya John Roosa, Gerakan 30 September 1965 atau G30S merupakan peristiwa politik dan militer yang terjadi pada malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965. Dalam malam 30 September 1965, sekelompok pasukan menculik tujuh jenderal Angkatan Darat dari kediaman mereka di Jakarta.
Tujuh perwira yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut adalah Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal R Suprapto, Mayor Jenderal MT Haryono, Mayor Jenderal S Parman, Brigadir Jenderal DI Pandjaitan, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, serta Brigadir Jenderal AH Nasution yang berhasil meloloskan diri.
Enam perwira yang berhasil diculik kemudian dibawa ke kawasan Lubang Buaya. Mereka selanjutnya ditembak dan jenazahnya dimasukkan ke dalam sebuah sumur yang kemudian dikenal sebagai Sumur Lubang Buaya.
Untuk mengenang para korban, pemerintah kemudian menetapkan 30 September sebagai hari peringatan G30S/PKI. Peristiwa tersebut juga menjadi salah satu peristiwa penting yang berkaitan dengan perubahan politik dan peralihan kekuasaan di Indonesia.
