Banyak yang penasaran, tanggal 22 September memperingati hari apa? Ternyata, di tanggal ini terdapat beberapa momen penting yang diperingati, baik secara nasional maupun global.
Mengetahui peringatan di tanggal-tanggal tertentu seperti hari ini, 22 September 2026, bukan sekadar menambah wawasan tetapi juga menjadi bentuk apresiasi terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa tersebut. Hal ini bisa menjadi pengingat bagi semua untuk terus menghormati sejarah, menjaga kedamaian, serta meningkatkan kesadaran sosial.
Nah, bagi detikers yang penasaran dan ingin tahu lebih dalam tentang apa saja hari peringatan di tanggal 22 September 2026, berikut ini detikSulsel sajikan informasi lengkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hari Lalu Lintas Bhayangkara
Hari Lalu Lintas Bhayangkara diperingati setiap tahun pada tanggal 22 September. Melansir laman Pusjarah Polri, peringatan ini berkaitan dengan sejarah lahirnya fungsi lalu lintas di tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Seksi Lalu Lintas Jalan di tubuh Polri secara sah dibentuk pada 22 September 1955. Hal itu berdasarkan Keputusan Kepala Jawatan Kepolisian Negara.
Tanggal itulah yang menjadi dasar ditetapkannya Hari Lalu Lintas Bhayangkara. Pada tahun 2026 ini, menandai peringatannya yang ke-71 tahun.
Salah satu tradisi yang dilakukan dalam peringatan ini adalah anjangsana atau kunjungan silaturahmi ke purnawirawan. Tradisi ini sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan Korlantas Polri kepada para pendahulu yang telah berjasa dalam pengabdian kepada bangsa dan negara.
Selain itu, peringatan Hari Lalu Lintas Bhayangkara ini juga menjadi momen refleksi bagi polisi untuk memperkuat komitmen dalam menjaga keselamatan berlalu lintas dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, peran lalu lintas berkembang menjadi bagian penting dari pembangunan nasional. Lalu lintas tak hanya tentang pergerakan orang dan barang, tetapi juga mencerminkan kehidupan sosial, budaya, serta kemajuan suatu bangsa.
Petugas Lalu Lintas adalah orang-orang yang berada di garis depan pelayanan publik dan bersentuhan langsung dengan masyarakat, sehingga sikap maupun kinerjanya sangat berpengaruh terhadap citra dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri.
Hari Badak Sedunia
Hari Badak Sedunia diperingati setiap 22 September oleh para pegiat konservasi dan pencinta satwa liar. Hari peringaran ini untuk meningkatkan kesadaran serta melawan berbagai ancaman serius yang dihadapi spesies badak di seluruh dunia.
Melansir laman National Today, Hari Badak Sedunia pertama kali diperingati pada 22 September 2011. Tetapi peringatan ini pertama kali diumumkan oleh World Wildlife South Africa pada 2010.
Lisa Jane Campbell dari Chishakwe Ranch di Zimbabwe dan Rhishja Cota bekerja sama untuk mewujudkan peringatan ini pada 2011. Seiring meningkatnya perburuan liar terhadap berbagai spesies badak, penting untuk mengumpulkan organisasi yang bergerak dalam isu terkait, pusat konservasi satwa liar, LSM, kebun binatang, serta individu yang peduli untuk mencari cara efektif menghentikan perburuan badak dan sebisa mungkin melestarikan spesies yang terancam punah.
Badak merupakan mamalia berukuran besar yang termasuk dalam famili rhinocerotidae. Mereka tidak memiliki predator alami selain manusia.
Spesies badak di seluruh dunia terancam dan berada di ambang kepunahan. Lebih dari 7.000 badak mati akibat perburuan liar antara 2008 hingga 2017 di Afrika Selatan, yang menjadi habitat lebih dari 70% populasi badak dunia. Pada 2011, spesies badak hitam Afrika dinyatakan punah.
Setiap hari, sekitar tiga ekor badak dibunuh dan diburu untuk diambil culanya. Pemburu menggunakan obat penenang untuk melumpuhkan badak, kemudian memotong culanya secara kejam. Badak tersebut kemudian dibiarkan hingga mati kehabisan darah.
Upaya pemberantasan perburuan liar menghadapi berbagai hambatan karena sebagian besar pemburu dibekali senjata canggih dan dibutakan oleh keserakahan sehingga tidak peduli terhadap penderitaan satwa tersebut. Hari Badak Sedunia menjadi kesempatan yang tepat bagi kita semua untuk menentang perdagangan cula badak dan melestarikan satwa luar biasa ini.
Hari Kemerdekaan Mali
Tanggal 22 September diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Mali, sebuah negara di Afrika Barat. Hari Kemerdekaan ini bertujuan untuk memperingati perjuangan panjang bangsa tersebut dalam meraih kebebasan dari kekuasaan kolonial
Mali sebelumnya merupakan salah satu dari tiga kekaisaran besar yang menguasai perdagangan di wilayah Afrika sub-Sahara. Ketiga kekaisaran tersebut-Kekaisaran Ghana, Kekaisaran Mali, dan Kekaisaran Songhai.
Mali bahkan merupakan salah satu negara terkaya di Afrika dan dunia. Kaisarnya saat itu, Mansa Musa, sering disebut sebagai orang terkaya dalam sejarah. Negara tersebut juga terkenal sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan serta menjadi pusat perkembangan Islam.
Ketika Kekaisaran Mali melemah seiring berjalannya waktu, wilayah tersebut kemudian dikuasai oleh Kekaisaran Songhai yang terus berkembang.
Ketika Eropa membangun berbagai jalur perdagangan, jalur perdagangan Afrika sub-Sahara yang sebelumnya langka dan makmur mulai kehilangan pengaruh. Kekaisaran-kekaisaran yang sebelumnya kaya tersebut mengalami penurunan signifikan dalam pengaruh dan kekuasaannya.
Pada abad ke-19, ketika kolonialisme telah menyebar ke berbagai penjuru dunia, letak Mali yang jauh dari laut membantu wilayah tersebut terhindar dari kekuasaan asing. Namun, Kekaisaran Mali telah mengalami serangkaian perang agama Islam internal yang menyebabkan wilayah tersebut terbagi menjadi beberapa negara teokratis.
Kemudian, Prancis mulai tertarik pada wilayah negara yang tidak memiliki akses ke laut tersebut, secara bertahap mengambil alih kendali pada 1892, dan akhirnya menjadikannya wilayah kolonial Prancis pada 1905.
Baru pada 1946 sebuah majelis teritorial bernama Sudanese Union-African Democratic Party dibentuk. Hal ini menjadi langkah pertama wilayah tersebut menuju otonomi dan kemerdekaan dari kekuasaan Prancis.
Pada Januari 1959, mereka bergabung dengan Senegal dan membentuk Federasi Mali. Prancis kemudian menandatangani perjanjian untuk mengalihkan kekuasaan kembali kepada penduduk asli, yang mulai berlaku pada Juni 1960.
