Sebanyak 40 guru, kepala sekolah, dan wakil kepala sekolah lintas agama di Sulawesi Tengah (Sulteng) mengikuti Hybrid Upgrading Workshop atau Lokakarya Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB). Mereka dibekali kemampuan untuk mengintegrasikan nilai keberagaman dan penghormatan terhadap perbedaan dalam pembelajaran di sekolah.
Lokakarya tersebut digelar Institut Leimena bersama Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama di Hotel Khas Palu, 18-20 September 2026. Peserta berasal dari Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi, Poso, dan Mamuju Utara.
"Pengalaman Sulawesi Tengah, salah satunya di Poso dan wilayah lain, dalam menghadapi ketegangan sosial yang berdimensi keagamaan menjadi pengingat bahwa toleransi dan kohesi sosial bukan sesuatu yang otomatis terwariskan, melainkan perlu terus dirawat, khususnya melalui pendidikan," kata Direktur Program Institut Leimena, Daniel Adipranata, kepada wartawan, Jumat (18/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Daniel mengatakan lokakarya tersebut tidak hanya memberikan pemahaman secara teori. Para guru juga didorong memiliki pengalaman langsung berinteraksi dengan peserta dari agama berbeda.
"Jadi kalau kita tanya, baru pertama kali bersama-sama dalam satu ruangan, bahkan menginap tiga hari dengan guru-guru yang berbeda agama," ujarnya.
Menurut Daniel, pengalaman tersebut menjadi salah satu keunikan program LKLB. Sebab, toleransi tidak cukup hanya dipelajari melalui teori, tetapi perlu dibangun melalui interaksi langsung.
Para peserta juga dibekali keterampilan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), rancangan pembelajaran, atau modul ajar berbasis literasi keagamaan lintas budaya.
"Dan nanti kita juga akan mengajak para guru ini berkunjung ke rumah ibadah, untuk bukan tur ya, tapi untuk berdialog langsung dengan para pemuka agama yang kita kunjungi," katanya.
Sementara itu, Rektor UIN Datokarama Palu, Prof H Lukman S Thahir, mengatakan keberagaman merupakan realitas yang telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka.
"Keberagaman itu bukan hal yang baru. Ia lahir jauh sebelum kemerdekaan. Ia adalah sebuah keniscayaan, realitas yang harus diterima oleh seluruh masyarakat dan umat yang ada di dalamnya," kata Lukman kepada wartawan.
Menurut Lukman, keberagaman dapat menjadi persoalan apabila tidak dikelola dan dirawat dengan baik. Ia mencontohkan kondisi di Sulteng yang telah lama hidup dalam keberagaman.
"Problem mendasar kalau keberagaman itu kemudian tidak dirawat, itu pasti akan terganggu. Di daerah Sulawesi Tengah kita tahu, sudah lama dia hadir keberagaman. Tapi kemudian karena tidak dikelola dengan baik, tergerus, dan terjadi demikian, mendatangkan apa namanya, rasa tidak nyaman di daerah kita," ujarnya.
Karena itu, Lukman mengatakan UIN Datokarama Palu membangun kolaborasi dengan berbagai elemen dan lembaga yang bergerak dalam upaya merawat keberagaman.
"Karena itu saya selaku Rektor UIN Datokarama Palu, membangun kolaborasilah di antara seluruh elemen bangsa ini, lembaga-lembaga yang bergerak dalam merawat keberagaman," katanya.
Narasumber dalam lokakarya antara lain Rektor UIN Datokarama Palu Lukman S Thahir, Guru Besar Ilmu Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Inayah Rohmaniyah, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulteng Firmanza, dan Kepala Kanwil Kementerian Agama Sulteng Junaidin.
Program LKLB diinisiasi Institut Leimena sejak 2021 bersama sedikitnya 40 mitra lembaga pendidikan dan organisasi keagamaan. Jumlah guru alumni LKLB kini mencapai lebih dari 12.000 orang dari 38 provinsi di Indonesia, termasuk 859 guru dari Sulteng.
Program tersebut membekali pendidik dengan tiga kompetensi utama, yakni pribadi, komparatif, dan kolaboratif.
