Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi beberapa hari belakangan menjadi pengingat bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak yang ditimbulkan. Karena itu, masyarakat perlu mengetahui langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko ketika terjadi erupsi gunung api, terutama pada potensi bahaya abu vulkanik.
Ketua Pusat Studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Adi Maulana mengatakan langkah yang perlu dilakukan masyarakat bergantung pada lokasi tempat tinggal dan tingkat bahaya erupsi. Warga yang berada di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau perlu mempersiapkan diri melakukan evakuasi apabila status meningkat menjadi level 4 atau Awas.
"Masyarakat yang tinggal mungkin di radius sangat dekat dari 10 kilometer (dari Gunung Anak Krakatau) mereka harus siap-siap melakukan pengungsian, karena ketika sudah level 4 berarti itu kan sudah harus menjauh," kata Prof Adi Maulana kepada detikSulsel, Minggu (7/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, bagi masyarakat yang tinggal di luar radius bahaya diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah selama erupsi berlangsung. Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan sebisa mungkin berada di tempat yang tertutup.
Selain melindungi diri, masyarakat juga perlu memperhatikan makanan yang berada di area terbuka, terutama bagi pedagang atau masyarakat yang beraktivitas di pasar. Hal ini agar abu vulkanik tidak menempel pada makanan dan ikut dikonsumsi.
"Kalau kita di pasar itu kan banyak yang menjual, kita harus terus pastikan agar terus disiram, (makanannya) ditutup dan disiram sehingga abu-abu vulkanik itu tidak menempel dan kemudian tidak dikonsumsi makhluk hidup, terutama manusia," terangnya.
Di sisi lain, Adi juga mengingatkan masyarakat agar tidak panik menghadapi aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Menurutnya, masyarakat perlu bijak mencerna informasi yang ada dan tetap mengacu pada lembaga resmi seperti BMKG, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, dan BNPB.
"Jadi yang tidak bisa bertanggung jawab membuat konten (mengenai erupsi gunung api) agar menahan diri," imbaunya.
Diketahui, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau berlangsung secara terus menerus sejak Jumat (4/9) malam. Sejumlah warga juga melaporkan adanya suara dentuman dan getaran yang terasa hingga ke beberapa daerah.
Adi Maulana menjelaskan bahwa erupsi merupakan bagian dari aktivitas normal Gunung Anak Krakatau sebagai salah satu gunung api aktif. Fenomena ini terjadi akibat penumpukan volume gas dan magma yang menimbulkan tekanan kuat, sehingga mendorong magma naik ke permukaan.
"Jadi, sebenarnya fenomena yang terjadi, terutama beberapa hari belakangan ini (erupsi Gunung Anak Krakatau) kalau dari sisi Sains, terutama Geologi, itu fenomena normal," ujar dia.
Menurutnya, tekanan tersebut kemudian membuat material dari dalam gunung api keluar ke permukaan. Salah satu bentuknya dapat terlihat sebagai lava fountain, yakni semburan magma pijar yang keluar secara berulang atau terus-menerus dari kawah.
"Lava fountain itu merupakan sebuah hal yang wajar, dia keluar karena ada tekanan sehingga material-material dari gunung api itu kemudian keluar semua bersama erupsi Anak Krakatau," jelasnya.
Selain semburan material, aktivitas erupsi juga dapat menimbulkan suara dentuman dan getaran. Adi mengatakan kedua fenomena tersebut kemungkinan berkaitan dengan proses keluarnya magma, material vulkanik, dan gas dari kawah.
"Memang kalau dilihat dari waktunya, kemungkinan besar ada hubungannya (dentuman dan getaran dengan erupsi Anak Krakatau)," katanya.
"Ketika pertama kali erupsi Gunung Api Krakatau itu terjadi dan dentumannya itu kemudian merambat ke udara secara akustik, kemudian dia sampai di daerah-daerah di mana ada gelombang inversi dan kemudian terkonsentrasi suara (dentuman) itu dan termanifestasi dalam sebuah bentuk dentuman keras," terang Adi.
